Bicara di Gereja, Ketua MUI di Sulawesi Serukan Pentingnya Kerukunan

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Sulawesi Tengah, Prof Dr KH Zainal Abidin, M.Ag. (Foto: Ist)

Katoliknews.comMendapat kesempatan berbicara di dalam Gereja, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Sulawesi Tengah, Prof Dr KH Zainal Abidin, M.Ag memanfaatkannya untuk menyerukan pentingnya membangun kerukunan antaragama sehingga kedamaian bisa terwujud

“Kedamaian, ketentraman dan kebenaran adalah ajaran semua agama,” katanya dalam sambutan di hadapan umat Katolik di Gereja Katolik Santo Paulus, di Palu, Minggu 20 Juli 2019.

Zainal Abidin hadir dalam kesempatan itu dalam kapasitasnya sebagai Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah, untuk menyaksikan peresmian Gereja  Santo Paulus.

Ia menyatakan, dengan mengundangnya, umat Katolik khususnya umat Gereja Santo Paulus mewujudkkan keterbukaan dalam rangka membangun persaudaraan antarsesama manusia dan antaragama.

“Ini satu bentuk penghormatan dari umat Katolik, memberikan kesempatan atau melibatkan umat dari agama lain untuk hadir dalam peresmian Gereja Katolik,” kata 

Guru Besar Pemikiran Islam Modern Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu ini, sebagaimana dikutip Antara.

Ia menegaskan, toleransi adalah menghormati kepercayaan umat agama lain, namun tidak mengubah akidah atau kepercayaan seseorang.

Kepercayaan atas suatu kebenaran oleh umat atau penganut agama lain, kata Rois Syuriah Nahdlatul Ulama Sulawesi Tengah itu, tidak boleh atau tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun karena kepercayaan atau meyakini suatu kebenaran adalah hak mutlak setiap manusia.

Karena itu, kata dia, perlunya moderasi beragama, yaitu membentuk penganut agama yang moderat.

Untuk mencapai hal itu, jelasnya, sekurang-kurangnya ada tiga prinsip moderasi beragama, yakni humanis, realistis dan toleran.

“Kita perlu realistis bahwa keberagaman yang terjadi adalah kehendak Tuhan, kehendak Allah SWT, bukan kehendak manusia. Ini adalah sebuah realita yang ada dalam kehidupan, yang harus dihargai, dijunjung tinggi dan dihormati,” katanya.

Karena itu, kata dia, kehadiran gereja sangat penting karena menjadi tempat untuk mendapatkan kedamaian, kebenaran dan kenyamanan bagi umatnya.

Keberadaan gereja, kata dia, merupakan cerminan keberagaman, sekaligus menjadi kekuatan umat untuk membangun kebersamaan dalam keberagaman di Sulteng.

Terkait hal itu, Pastor Paroki Gereja Katolik Santo Paulus Palu, Pastor Wilhelmus Thome mengemukakan siapapun dan dari latar belakang apapun, umat beragama adalah bagian dari Indonesia, dengan semangat satu nusa dan satu bangsa.

“Dari kesatuan itulah kita diajak untuk membangun jiwa dan raga, diajak untuk membangun bangsa secara bersama-sama,” katanya.

Sementara itu, Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola menyatakan dalam sambutannya yang dibacakan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sulteng, Hidayat Lamakarate, berharap Gereja Katolik Santo Paulus Palu, bahwa umat Katolik perlu memaksimalkan peran pembinaan umat sehingga tangguh menghadapi beragam pengaruh. 

“Harapan saya, dengan hadirnya Gereja Katolik Santo Paulus ini, kiranya kehidupan kerohanian Umat Paroki Santo Paulus semakin meningkat, sehingga akan tumbuh dan membentuk umat yang tangguh dalam menghadapi beragam pengaruh yang bisa membawa kita menyimpang dari nilai-nilai agama,” katanya.

Ia menjelaskan, Gereja Katolik Santo Paulus dapat dimanfaatkan untuk pemaksimalan kegiatan-kegiatan kerohanian.

Yang terpenting, lanjut Gubernur, peran gereja harus terus menguatkan persaudaraan dan kerukunan antarumat beragama.

Prof Zainal Abidin MAg dan Pastor Wilhelmus Thome turut serta menandatang prasasti peresmian Gereja, yang diresmikan oleh Gubernur Sulawesi Tengah dan Uskup Manado, Mgr Benedictur Rolly Untu MSC.