Gereja Katedral di Filipina yang Dibom WNI Telah Dibuka Kembali

Para uskup, termasuk Uskup Agung Gabrielle Caccia, Duta Vatikan untuk Filipina hadir dalam Misa pembukaan kembali Katedral Bunda Maria dari Gunung Karmel di kota Jolo pada 16 Juli. Gereja itu diserang dengan bom bunuh diri pada Januari lalu oleh pelaku asal Indonesia. (Foto: Aid to the Church in Need/ucanews.com)

Katoliknews.comPolri telah mengonfirmasi bahwa pelaku bom bunuh diri terhadap Gereja Katedral di Filipinan pada Januari lalu adalah suami isteri warga negara Indonesia (WN).

Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, pasangan itu atas nama nama Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani Saleh.

Mereka merupakan deportan dari Turki pada Januari 2017, demikian menurut Dedi dalam konferensi pers Mabes Polri, Jakarta, Selasa, 23 Juli 2019.

BACA: Polri Pastikan Suami Isteri Pelaku Bom Gereja Katedral di Filipina Adalah WNI

Bagaimana kondisi gereja itu saat ini?

Ucanews.com melaporkan pada pekan lalu bahwa Gereja Katedral Bunda Maria dari Gunung Karmel di Jolo itu telah dibuka kembali sejak 16 Juli atau enam bulan pasca diserang.

Ratusan orang berkumpul dalam acara pembukaan kembali gereja itu yang terletak di kota yang mayoritas penduduknya Muslim.

Tanggal 16 Juli adalah pesta pelindung gereja itu.

Uskup Agung Gabrielle Caccia, Duta Vatikan untuk Filipina, dan Kardinal Orlando Quevedo, Uskup Emeritus Cotabato, memimpin para uskup dan imam dalam perayaan Ekaristi.

Bom bunuh diri pada 27 Januari itu menyebabkan kerusakan serius pada katedral, yang kemudian diperbaiki dengan bantuan dari lembaga amal gereja Aid to the Church in Need.

Pemboman katedral menjadi salah satu serangan paling mematikan di Filipina selatan.

Para uskup mengutuk “aksi terorisme” dan meminta umat Kristen untuk bergandengan tangan dengan semua Muslim yang cinta damai untuk memerangi ekstremisme.