Sepekan, Gereja di Regio Nusra Bahas Masalah Migran Perantau

Pertemuan tiga tahunan ini mengambil tema “Gereja Nusra Peduli Migran Perantau.”

Bupati Belu, Willybrodus Lay bersama para uskup membuka pertemuan pastoral Gereja Regio Nusra terkait migran perantau. Pertemuan ini berlangsung di Atambua, ibukota Kabupaten Belu pada 22-27 Juli 2019. (Foto: infopublik.id)

Katoliknews.comSelama hampir sepekan, para uskup, pastor, suster dan awam Katolik di Regio Nusra berkumpul mendiskusikan masalah migran dan perantau dalam pertemuan pastoral XI yang digelar di Atambua, Kabupaten Belu.

Sejak Senin, 22 Juli, hingga Sabtu, 27 Juli mereka menggeluti isu tersebut dalam pertemuan tiga tahunan ini, di bawa tema, “Gereja Nusra Peduli Migran Perantau.”

Gereja Regio Nusra mencakup tujuh keuskupan di wilayah Nusa Tenggara Timur, ditambah Keuskupan Denpasar, yang wilayahnya mencakup Bali hingga Nusa Tenggara Barat.

Persoalan terkait banyaknya migran yang menghadapi masalah, termasuk buruh migran di luar negeri, menjadi latar belakang pemilihan tema tersebut.

Acara pembukann berlangsung pada Senin sore, dalam Misa yang dimpimpin Mgr Dominikus Saku, Uskup Atambua, yang juga Ketua Komisi Keadilan, Perdamaian dan Migran Perantau Konferensi Waligereja Indonesia.

Selain tujuh uskup, pertemuan ini juga dihadiri delapan orang orang direktur pusat pastoral setiap uskupan, 10 orang utusan masing-masing keuskupan, enam pendamping ahli dan 60 panitia.

Dua pakar yang memberikan analisis sosiokultural adalah Romo Max Regus, dosen Universitas Katolik Indonesia St Paulus Ruteng dan Dominggu Elcid Li, peneliti dan akademisi yang berbasis di Kupang.

BACA JUGA: Imam di Atambua: Kenapa Kita Tinggalkan Pacul dan Memilih Bekerja di Malaysia?

Gubernur NTT, Viktor Bungtilus Laiskodat juga mendapat kesempatan untuk berbicara dalam pertemuan ini.

Pertemuan ini diharapkan akan mampu melahirkan rekomendasi pastoral bersama terkait masalah migran perantau.

Gubernur Laiskodat dalam sambutannya saat acara pembuka, yang dibacakan oleh Bupati Belu, Willybrodus Lay mengatakan, pertemuan diharapkan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi umat.

Saat ini, kata dia, peran Gereja di NTT tidak hanya terbatas pada hidup berorganisasi dan pembinaan umat, tetapi juga diharapkan semakin berperan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bangsa dan negara.

“Kami menghimbau kepada seluruh masyarakat NTT agar tetap menjaga kebersamaan dan kerukunan antar umat beragama di Wilayah NTT. Kita juga harus terus bersinergi untuk membangun daerah ini. Bila ada perbedaan, mari kita berkomunikasi dengan terbuka sesuai etika ketimuran yang kita miliki,” kata Viktor.