Anies Baswedan: Pastor Adolf Heuken SJ Jadi Jendela Dunia untuk Mempelajari Jakarta

Dalam foto ini tampak Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan sedang melayat jenazah Pastor Adolf Heuken SJ yang disemayamkan di Kolese Kanisius Jakarta pada Jumat, 27 Juli 2019. (Foto: IG @aniesbaswedan)

Katoliknews.com –  Jendela bagi dunia untuk mempelajari Jakarta, demikian  Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut sosok Pater Adolf Heuken SJ yang meninggal dunia pada pekan lalu.

Bagi Anies, imam kelahiran Jerman itu telah “ terus berkontribusi besar bagi Indonesia” sampai di akhir hayatnya.

“Mudah-mudahan ini bisa mejadi inspirasi bagi orang banyak bahwa dia tidak pernah mengenal kata tua karena muda-tua tetap saja menulis produktif,” tulis Anies lewat akun instragmnya @aniesbaswedan usai melayat ke tempat persamayaman jenazah Pater Heuken di Kolese Kanisius Jakarta, Jumat, 26 Juli 2019.

Berikut adalah kesan lengkap tentang Pastor Heuken, yang dikutip Katoliknews.com, Senin, 19 Juli dari akun instagram Anies.

Atas nama Pemprov DKI Jakarta, kami menyampaikan turut berbelasungkawa atas berpulangnya Pater Adolf Heuken SJ. Beliau asal Jerman tapi hidupnya lebih lama dicurahkan untuk Indonesia dan bagi Jakarta khususnya. Lewat buku-buku beliau telah menjadi jendela bagi dunia untuk mempelajari Jakarta.

Sosok Adolf Heuken adalah salah seorang warga Jakarta yang terus berkontribusi besar bagi Indonesia. Sampai di akhir hayatnya, beliau masih dalam proses penulisan buku juga. Jadi mudah-mudahan ini bisa mejadi inspirasi bagi orang banyak bahwa dia tidak pernah mengenal kata tua karena muda-tua tetap saja menulis produktif.

Selain menyusun kamus terjemahan bahasa Indonesia-Jerman dan Jerman-Indonesia, bukunya tentang Historical Sites of Jakarta itu menjadi semacam buku standar utk souvenir dari Jakarta. Kalau turis datang, ingin tahu Jakarta, buku itulah yang sering diberikan.

Dan sebagai jendela, beliau berjasa sekali. Dunia tahu tentang Jakarta, sejarah Jakarta dari beliau. Jadi kami di Jakarta merasa bersyukur salah seorang warganya telah ikut mendorong Jakarta dikenal dunia.

Pater Heuken, meninggal dunia di Rumah Sakit St Carolus Jakarta pada Kamis malam, 25 Juli pada pukul 20.27.

BACA: Sejarahwan, Pastor Adolf Heuken SJ Meninggal Dunia

Setelah disemayamkan di Kapel Kolese Kanisiusu, jenazahanya dibawa ke Girisonta pada dan dikuburkan di sana.

Pria kelahiran Coesfeld, Jerman, tanggal 17 Juli 1929 itu sebelumnya ditahbiskan sebagai pastor dari Jesuit tahun 1961 di Jerman.

Dia sempat tiga tahun berkarya di Yogyakarta sebagai dosen dan tahun 1963 ia menetap hingga akhir hayatnya.

Awalnya, Heuken membantu menjadi pastor di Paroki Mangga Besar dan mengajar di Atma Jaya.

Namun, dia kemudian memilih jalan sebagai penulis.

Awalnya, ia menulis buku-buku rohani, namun kemudian jatuh cinta menulis tentang sejarah-sejarah kota Jakarta.

Heuken berburu bahan, membacanya, mendatangi beratus-ratus tempat, merajutnya sebagai sejarah, dan menuliskannya dalam puluhan buku.

Namun, buku tentang kota lama Jakarta belum lengkap, banyak campur aduk antara fiksi dan fakta.

Ia pun mencari bahan dan buku-buku lain di berbagai negara, dari berbagai bahasa seperti Inggris, Perancis, Belanda, Jerman, dan Portugis.

Nama Adolf Heuken banyak dikenal umum dari sejumlah buku penting yang ditulis olehnya, seperti Kamus Dwibahasa Indonesia-Jerman (ditulis bersama E.R.T. Sinaga; buku ini sangat populer dan bajakannya dapat dijumpai di mana-mana) dan kebalikannya, Deutsch-Indonesisch Wörterbuch, serta buku mengenai sejarah Jakarta: Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta.

Selain itu ia juga membuat bibliografi mengenai sejarah Jakarta berjudul Sumber-sumber Asli Sejarah Jakarta.

Ia juga menulis buku sejarah mengenai gereja dan masjid tua di Jakarta. Untuk kalangan internal Katolik ia menulis pula Ensiklopedia Katolik dan Jungen für Christus: Ein Buben-Buch yang ditulisnya bersama Roman Bleistein.

Berbagai penghargaan diterimanya, antara lain dari Pemerintah Indonesia bersama Pater PJ Zoetmulder SJ (almarhum) memperoleh penghargaan Satya Lencana Kebudayaan.

Adolf Heuken menerima penghargaan Das Bundesverdienstkreuz am Bande (“Bintang Penghargaan Republik Federal Jerman”) pada 25 November 2008 atas jasa-jasanya dalam mengembangkan hubungan Jerman-Indonesia.

Penghargaan yang disematkan oleh Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Baron Paul von Maltzahn, ini adalah yang tertinggi yang dapat dianugerahkan oleh Pemerintah Federal kepada setiap orang sebagai jasanya terhadap negara Jerman, dan mulai diberlakukan pemberiannya sejak 1951 oleh Presiden Jerman, Theodor Heuss.