Pastor Tiago Varanda. (Foto: Ist)

Katoliknews.com – Tiago Varanda menjadi imam pertama yang ditahbiskan dalam kondisi tuna netra. Ia mengalami kebutaan pada usia 16 tahun karena kelainan bawaan sejak lahir.

Tiago ditahbiskan menjadi imam pada 15 Juli 2019 lalu, di Gua Maria Bunda Kita, Sameiro, Braga, Portugal.

Seperti dilansir Aleteia.org, usai pentahbisan itu, imam berusia 35 tahun ini beranjak ke kota Cova da Iria untuk merayakan misa di Kapel Penampakan Bunda Maria kepada Santa Fatima. Ia memilih tempat itu lantaran ingin mempersembahkan imamatnya kepada Bunda Maria.

Pastor Tiago mengatakan, Santa Fatima selalu memiliki tempat spesial dalam hatinya.

“Fatima selalu menjadi seorang yang spesial untuk saya, sejak kecil hingga di momen penting hidupku saat ini, saya ingin menguduskan pelayanan imamatku di tangan Bunda Maria, karena saya tahu bahwa bersama dia saya dengan mudah bersatu dengan Kristus,” kata Pastor Tiago.

Perayaan ekaristi saat itu dipimpin oleh Pastor Tiago bersama dua imam baru yang ditahbiskan bersamanya, Pastor Jorge Goncalves dan Pastor Pedro Oliveira.

Selain itu, mereka juga didampingi oleh imam veteran, Pastor Joaquim Fernandes yang sudah berusia 103 tahun. Pada misa itu, ia sekaligus merayakan ulang tahun imamatnya yang ke 74 tahun.

Pengalaman Unik

Pastor Tiago mengatakan, ia sebelumnya pernah mendatangi Kapel Penampakan Maria kepada Fatima saat ia belum mengalami penyakit buta.

“Suara banyak orang, suara bel dan burung membawa saya kepada tempat yang begitu damai. Dan aroma lilin-lilin yang bernyala membawa saya kepada devosi dan refleksi diri. Segala sesuatu berubah secara bertahap dan tenang, yang akhirnya membantu saya untuk berhenti dari kehidupanku yang dulu, lalu mengkuduskan diri kepada Tuhan,” kata Pastor Tiago.

Pastor Tiago Varanda sedang memimpin Misa bersama beberapa imam lain. (Foto: Aleteia.org)

Ia juga menceritakan, kebutaan menciptakan banyak hal unik yang justru melatihnya untuk melayani banyak orang.

“Tidak bisa melihat membuat saya tidak mudah dipengaruhi oleh kejadian di luar saya, meskipun secara internal masalah yang sama sering terjadi, dimana saya sulit berkonsentrasi dan menemukan ketenangan,” katanya.

“Namun, di balik kebutaan ini, saya merasa bahwa panca indraku yang lain justru makin tajam, secara khusus indra pendengaran. Bagi saya ini adalah hadiah, dimana saya akan lebih setia menjadi pendengar yang baik bagi orang-orang yang mengalami situasi duka atau suka, dalam keyakinan mereka akan Tuhan,” ujarnya.