Jenazah Mgr Saklil Dimakamkan Pada Rabu, 7 Agustus

Katoliknews.com – Jenazah Mgr. John Philip Saklil bakal dimakamkan pada Rabu esok, 7 Agustus, demikian menurut Ketua Persekutuan Imam Projo Keuskupan Timika, Pastor Dominikus Hodo.

“Jenazah Mgr. Saklil akan dimakamkan sekitar pkl. 12.00 setelah Misa Requiem yang dipimpin oleh Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) sekaligus Uskup Agung Jakarta, Mgr Ignatius Suharyo,” kata Pastor Hodo.

“Jenazahnya akan dimakamkan di Kuburan Imam Projo di belakang rumah uskup Timika,” lanjutnya.

Mgr. Saklil menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) pada Sabtu, 3 Agustus.

Jenazahnya sempat disemayamkan di Kantor Keuskupan Timika lalu dibawa ke Gereja Katedral Tiga Raja.

Uskup yang lahir di Kokonao, Mimika Barat, Mimika, Papua ini, pada 20 Maret 1960 adalah uskup pertama Keuskupan Timika, yang mekar dari Keuskupan Jayapura.

Ia mulai memimpin sejak ditahbiskan pada 18 April 2004.

Mgr Saklil meninggal sepekan setelah ditetapkan oleh Vatikan sebagai administrator apostolik Keuskupan Agung Merauke pada 27 Juli pembebasan tugas Mgr Nicolaus Adi Seputra MSC.

BACA JUGA: Pemberhentian Mgr Nico: Mengapa Terjadi dan Apa yang Perlu ke Depan

Ia dikenal karena keberpihakannya yang tegas terhadap hak asasi warga Papua.

Lantas, kepergian Uskup Saklil melahirkan dukacita mendalam bagi warga Papua.

Ronny Nakiaya, umat Paroki Katedral Tiga Raja Timika mengatakan, umat dari kampung-kampung berbondong-bondong datang untuk melihat uskup mereka untuk yang terakhir kali.

“Umat mencintai dia. Dia pejuang bagi rakyat Papua,” katanya seperti dikutip Ucanews.com.

“Kami sulit percaya bahwa ia bisa pergi secepat ini. Kami kehilangan tokoh yang memiliki hati untuk orang Papua. Tidak banyak tokoh agama yang mengambil jalan seperti beliau,” lanjutnya.

Ketegasan sikapnya itu tampak misalnya ketika bulan lalu, ia melayangkan protes keras kepada Pemerintah Kabupaten Mimika yang akan menarik guru-guru PNS dari sekolah swasta, hal yang ia sebut akan merugikan warga asli Papua.

BACA: Uskup Timika Kecam Keras Rencana Pemerintah Tarik Semua Guru PNS dari Sekolah Swasta

Ia juga kerap mengkritik militer dan polisi dalam kasus kekerasan terhadap warga sipil dan berkali-kali menyerukan masyarakat untuk tidak menjual tanah ulayat mereka.

Saat tahun 2017 pemerintah Indonesia sedang melakukan renegosiasi terkait kepemilikan saham dengan perusahan tambang emas PT Freeport yang beroperasi di wilayahnya, ia menemui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Ignatius Jonan, memintanya memperhatikan hak-hak masyarakat asli Papua.

Pastor John Djonga Pr, aktivis HAM Papua mengatakan kepergiannya merupakan sebuah kehilangan besar di tengah perjuangan melawan pelanggaran hak asasi warga Papua.

“Beberapa bulan lalu, warga Papua meratapi kepergian Pastor Neles Tebay,” katanya, menyinggung imam asli Papua yang juga pejuang dialog damai yang meninggal pada 14 April.

“Kini, tokoh Papua lain harus pergi dengan begitu cepat. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi rakyat Papua,” katanya.

Ia menggambarkan Uskup Saklil tidak hanya berjasa bagi Gereja Katolik, “tapi bagi seluruh rakyat Papua.”

“Ia berbicara tentang isu-isu publik yang melampaui sekat-sekat agama,” katanya.