Pakistan: Penculikan dan Paksaan Pindah Agama atas Gadis Non-Muslim

Karachi, ibukota Provinsi Sindh, Pakistan. (Foto: Srsly/Wikimedia Commons

Oleh UZAY BULUT

 

Pada 12 Juli, sekelompok warga Hindu dan Sikh berkumpul di Propinsi Sindh, Pakistan. Mereka memprotes penculikan gadis-gadis muda dan paksaan untuk memeluk Agama Islam berikut pernikahan dengan penculik mereka. Selain itu, para demonstran juga mengecam Pemerintahan Perdana Menteri Imran Khan karena tidak melindungi hak minoritas di negara mayoritas Muslim itu.

Menurut sebuah laporan dari Lembaga Prakarsa Persemakmuran Universitas Birmingham untuk Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan (University of Birmingham’s Commonwealth Initiative for Freedom of Religion or Belief) pada 2018:

“Bukti yang diberikan oleh banyak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), wartawan dan akademisi memperlihatkan bahwa penculikan dan paksaan pindah agama menjadi salah satu masalah paling serius yang dihadapi perempuan dan gadis Hindu serta Kristen.

“Kaum minoritas seringkali tidak menerima perlindungan yang diperlukan dari lembaga negara dan tidak punya akses ke keadilan.

“Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan melaporkan bahwa polisi sering menutup mata terhadap laporan penculikan dan paksaan pindah agama sehingga muncul pemikiran para pelaku tidak tersentuh oleh hukum. Polisi sering menolak mencatatkan Laporan Informasi Pertama atau menuliskan informasi yang salah. Akibatnya, keluarga korban tidak punya kesempatan untuk membawa kasus mereka lebih jauh. Pengadilan tingkat rendah dan tinggi Pakistan pun tidak mengikuti prosedur yang tepat dalam kasus-kasus yang melibatkan tuduhan pernikahan dan paksaan pindah agama. Pengadilan sering takut mendapat aksi balasan dari unsur ekstrimis. Dalam kasus lain keyakinan pribadi petugas pengadilan malah bisa mempengaruhi korban untuk menerima pengakuan yang dibuat bahwa mereka, para perempuan /gadis itu berpindah agama atas kemauan bebasnya sendiri. Sering juga tidak ada penyelidikan mengenai keadaan di mana perpindahan agama terjadi. Usia sang gadis pun sering diabaikan. Gadis / wanita yang menjadi korban sebagian besar tetap dibiarkan ditahan oleh penculiknya selama proses persidangan. Akibatnya, dia pun mengalah kepada ancaman lebih lanjut yang memaksanya menyangkal bahwa dia diculik dan diperkosa. Sebaliknya, dia malah mengaku, perpindahan agama dilakukan karena keinginannya sendiri.

“Banyak lembaga keagamaan, masjid dan pondok pesantren lokal tidak menyelidiki alasan mendasar (nature) perpindahan agama atau usia pengantin wanita. Banyak yang hanya menerima apa yang dikatakan penculiknya. Beberapa organisasi, seperti Minhaj-ul-quran, rutin dan sebagai rutinitas kebijakan resmi, mendorong anggota komunitas minoritas berpindah agama dengan menawarkan hadiah bagi yang berhasil pindah agama. Mereka katakan bahwa memberi hadiah kepada orang yang berpindah agama itu setara pahalanya dengan naik haji besar (Haj-e-Akbari) atau tugas keagamaan terbesar bagi umat Islam. ”

Laporan Tahunan Komisi Kebebasan Beragama Internasional Amerika Seriat (Annual Report of the U.S. Commission on International Religious Freedom) pada tahun 2019 sepakat menyatakan bahwa;

“Paksaan pindah agama atas perempuan muda Hindu dan Kristen untuk masuk Islam kemudian menikah, yang seringkali melalui kerja paksa tetap menjadi masalah sistemik … Polisi dan pemimpin politik lokal, terutama di Provinsi Punjab dan Sindh, seringkali dituduh terlibat dalam pernikahan paksa dan kasus perpindahan agama karena tidak menyelidiki kasusnya secara benar. Jika kasus-kasus itu diselidiki atau diputuskan, maka wanita muda itu dilaporkan diinterogasi di depan pria yang terpaksa dia nikahi. Ini membuatnya tertekan sehingga tidak mengaku dipaksa. ”

Maheen Pracha, Manajer Publikasi dan Media Sosial dari Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan (HRCP), mengatakan kepada Gatestone bahwa “sekitar 1.000 kasus paksaan pindah agama terjadi tahun lalu di Provinsi Sindh saja. ”

Anggota HRCP Zohra Yusuf pun kepada Gatestone mengatakan bahwa statistiknya “sulit untuk dikumpulkan dan dibuktikan. Tetapi paksaan untuk pindah agama di Punjab tampaknya lebih tinggi terjadi di antara gadis-gadis Kristen daripada Hindu.” “Meskipun diyakini praktiknya itu tersebar luas,” tambah Yusuf lagi, “ia hanya diliput media ketika keluarga memprotes atau mengajukan permohonan yang mendesak kepada pengadilan.”

Yusuf mengatakan ada “tekanan meningkat atas identitas Islam di Pakistan.” Akibatnya, kaum non-Muslim, terutama perempuan menjadi sektor lemah masyarakat Pakistan.  “Para wanita sangat rentan terhadap eksploitasi dan pelecehan.”

Yusuf tidak percaya bahwa pemerintah Pakistan melakukan cukup banyak hal untuk meningkatkan keamanan para wanita. Karena itu, dia menambahkan; “Rancangan Undang-Undang (RUU) yang menentang paksaan pindah agama ditangguhkan sementara di parlemen federal. Pada 2016, Majelis Propinsi Sindh mengesahkan sebuah undang-undang yang menentang paksaan pindah agama, tetapi terpaksa ditarik setelah partai-partai agama memprotes. Bagaimanapun, jika UU yang menaikkan usia perkawinan menjadi 18 tahun itu dijalankan dan ditegakkan secara benar, maka dia agaknya bisa meredakan situasi.”

Sardar Mushtaq Gill, seorang pengacara hak asasi manusia Pakistan sekaligus Kepala Pengembangan Asosiasi Penginjilan yang Sah Pakistan (Legal Evangelical Association Development LEAD – Pakistan) pun turut prihatin. Kepada Gatestone,  ia mengatakan bahwa, menurut data yang dikumpulkan oleh organisasinya: “Dalam enam bulan pertama tahun 2019, ada lebih dari 60 penculikan dan paksaan pindah agama atas gadis-gadis Kristen dan Hindu. Mereka benar-benar sasaran empuk karena status sosial ekonomi mereka yang buruk. Alasan terpenting untuk ini adalah keinginan untuk meningkatkan populasi Muslim Pakistan yang bersumberkan pada ajaran Islam bahwa seseorang yang berhasil mengajak non-Muslim masuk Islam akan diberikan tempat di surga. ”

William Stark, manajer regional Asia Selatan International Christian Concern (ICC), juga memperlihatkan peran Islam dalam penganiayaan terhadap gadis-gadis non-Muslim. Kepada Gatestone, dia pun mengatakan: “Alasan agama di balik penculikan ini penting untuk dicatat. Di Pakistan, ada kaum ekstremis yang mengajarkan ideologi yang mengatakan bahwa penculikan dan paksaan pindah agama bagi kaum minoritas itu sebenarnya baik. Ideologi ini mengajarkan bahwa pelaku dapat dan akan mendapat berkat atas apa yang mereka lakukan karena mereka melakukannya untuk menyebarkan Islam.

“Alasan lain di balik masalah ini adalah luasnya diskriminasi agama yang ada di Pakistan. Di Pakistan, kaum minoritas agama dipandang lebih rendah daripada kaum Muslim karena mereka tidak menganut Islam. Pada dasarnya, karena Pakistan itu Republik Islam, maka non-Muslim dipandang sebagai warganegara kelas dua. Kepercayaan mereka pun dianggap kurang suci. Upaya untuk mengurangi pentingnya non-Muslim ini membantu menciptakan hirarki agama yang membenarkan kekerasan itu.

“Berdasarkan keterangan para korban yang saya ajak bicara di Pakistan, Pemerintah Pakistan belum cukup berbuat untuk mengatasi masalah ini. Banyak yang menyatakan frustrasi dengan pihak berwenang dan polisi setempat karena berpihak pada para pelaku penculikan dan paksaan pindah agama.

“Pihak berwenang yang lebih tinggi juga tidak melakukan apa pun untuk mengesahkan undang-undang yang secara khusus menganggap persoalan ini sebagai tindakan yang jahat.

“Tekanan internasional atas Pakistan menjadi unsur penting ketika berupaya mengakhiri perlakuan kejam ini. Tanpa motivasi yang berasal dari luar, Pemerintah Pakistan sangat tidak mungkin akan mendengarkan para pemimpin minoritas dan masyarakat sipil untuk mengesahkan undang-undang yang memerangi masalah ini.

“Ada advokasi untuk membentuk gugus tugas yang dilatih khusus. Mereka mencakup perwakilan dari minoritas agama, untuk menangani masalah ini. Dengan demikian, kita mungkin saja kemudian mulai melihat para pelaku disidik kemudian diajukan ke pengadilan.”

Uzay Bulut, adalah Wartawan Muslim Turki.

[Diterjemahkan oleh Jacobus E. Lato dari teks asli, Pakistan: Abduction, Forced Conversion of Non-Muslim Girls, yang diterbitkan Gatestone Institute, 7 Agustus 2019]