Uskup Agung Melbourne, Mgr Peter Comensoli. (Foto: ABC News)

Katoliknews.com – Uskup Agung Melbourne, Mgr Peter Comensoli  mengatakan ia lebih memilih masuk penjara daripada melaporkan pengakuan terkait pelecehan seksual terhadap anak yang dilakukan di tempat pengakuan dosa.

Sebuah Rancangan Undang-Undang (RUU) yang akan mewajibkan para imam untuk melaporkan dugaan pelecehan terhadap anak kepada pihak berwenang, termasuk pelecehan yang terungkap dalam pengakuan dosa, diperkenalkan ke Parlemen Victoria hari ini, Rabu, 14 Agustus, demikian laporan ABC News.

Gereja Katolik tahun lalu secara resmi menolak gagasan bahwa para klerus harus dipaksa secara hukum untuk melaporkan pelecehan yang diungkapkan selama pengakuan dosa.

Diwawancarai Radio ABC Melbourne pagi ini, Uskup Agung Peter mengatakan dia akan mendorong seseorang yang mengaku melakukan pelecehan untuk memberi tahu polisi, dan memberi tahu dia lagi hal yang sama di luar ruang pengakuan, sehingga tidak melanggar rahasia pengakuan.

Tetapi jika orang yang mengaku menolak untuk melakukan itu, dia mengatakan dia tidak akan melanggar tradisi Katolik: “Secara pribadi, saya akan menyimpan rahasia,” katanya.

Di bawah UU yang berlaku saat ini, para guru, polisi, praktisi medis, perawat, konselor sekolah, pekerja untuk anak usia dini dan yang melayani kaum muda harus memberi tahu pihak berwenang jika mereka secara masuk akal meyakini bahwa dalam menjalankan tugas mereka menemukan anak yang telah mengalami pelecehan.

Amandemen yang diperkenalkan hari ini akan menambah pemimpin agama ke dalam daftar itu, memastikan pengungkapan pelecehan selama pengakuan dosa tidak dikecualikan dan harus dilaporkan ke polisi.

Hal ini menindaklanjuti rekomendasi yang dibuat oleh komisi khusus terkait pelecehan seks terhadap anak dan akan mencakup hukuman hingga tiga tahun penjara bagi mereka yang gagal melaporkan kasus.

Menteri Perlindungan Anak Luke Donnellan mengatakan amandemen itu akan membawa “perubahan budaya” untuk membuat generasi masa depan anak-anak Victoria lebih aman.

Respons Keluarga Korban

Advokat anti-pelecehan Chrissie Foster menyebut undang-undang itu sebagai terobosan dan mengatakan itu adalah “hari bersejarah”.

Foster, yang putrinya, Emma dan Katie diperkosa oleh imam di Melbourne, Pastor Kevin O’Donnell ketika mereka berada di sekolah dasar mengatakan para politisi yang mendukung perubahan UU itu harus diberi ucapan selamat.

Dia mengutip kasus imam Katolik Michael McArdle – yang mengaku dalam pernyataan tertulis bahwa dia melakukan pelecehan seksual terhadap 30 anak selama periode 25 tahun – sebagai contoh mengapa undang-undang itu diperlukan.

“Alih-alih dia tersinggung selama 25 tahun, sekarang dia akan wajib dilaporkan pada pengakuan pertama,” katanya.

Ia mengatakan, menurut Gereja Katolik pengakuan dosa adalah rahasia suci.

“Rahasia suci berarti ada sesuatu yang terlalu penting atau berharga untuk diintervensi. Yah saya mengatakan tubuh dan kehidupan anak-anak adalah rahasia suci.”

Uskup Agung Comensoli mengatakan sebagian besar pengakuan dilakukan secara anonim dan pengakuan terkait pelecehan “sangat jarang”.

Praktek bisa diubah

Sementara itu, Pastor Kevin Dillon, dari Paroki St Rasul Simol di Rowville, mengatakan gereja “perlu mengakui kerusakan besar yang telah terjadi” terhadap korban pelecehan.

Pastor Dillion, yang telah blak-blakan membela para korban pelecehan seksual di dalam gereja menyatakan bahwa undang-undang itu menjadi kesempatan untuk meninjau kembali kanon yang mengatur rahasia pengakuan dosa.

“Saya tidak melihat rahasia pengakuan dosa lebih sebagai ajaran, (tetapi) sebagai praksis, dan praksis dapat diubah.”

Tetapi dia tidak mengatakan apakah dia sendiri akan melaporkan pelecehan jika ada yang mengaku padanya. Sebagai gantinya mengatakan: “Saya harus mengikuti hati nurani saya pada saat itu untuk melakukan apa yang saya percaya sebagai hal yang benar untuk dilakukan.”

Para imam Katolik yang membuka rahasia pengakuan saat ini menghadapi ekskomunikasi dari gereja.