Candu Diganggu

Oleh: IWAN JEMADI

Kita mengecek smartphone sebanyak 81.500 kali setiap tahun, atau sekali dalam setiap empat menit, kata Tony Reinkle. Angka ini bisa lebih gesit lagi, atau sebaliknya. Saya sendiri termasuk orang yang punya relasi intim dengan smartphone; lebih karib dari kawan terbaik, lebih dekat dari saudari sendiri. Saya bisa menggenggamnya setiap saat dengan alasan beragam yang bisa dicari-cari. Terkadang ia dibelai lebih mesra dari kepala kekasih.

Tentu hal ini tidak begitu susah dipahami. Kita telah hidup di era di mana seluruh aktivitas kita dipusatkan atau mungkin dikendalikan oleh (dan dari) smartphone.  Kita mencatat kenangan di sana; memperhatikan tanggal merah pada kalender, mengabadikan momen dengan lensa kamera, membuat rancangan kerja, menyimpan bacaan-bacaan atau menuliskan catatan. Kita perlu menggenggamnya karena ia menyediakan peta perjalanan, membiakkan gosip yang dimulai oleh tangan wartawan yang kesulitan mencari berita.

Di sana pula, kita bisa terhubung dengan para politikus yang menyusun bualan, juga aneka pengamat yang muncul seperti pemegang rahasia republik. Tentu saja, kita bisa belajar membuat jalan bercabang dalam soal relasi, mencari lintasan alternative untuk penyakit yang ditolak rumah sakit. Semua hal ini dapat dengan mudah kita temukan dalam perangkat kecil yang selalu kita bawa ke mana-mana. Untuk semua hal itulah, kita menemukan alasan mengapa tidak pernah bisa melepaskan diri darinya untuk menit-menit yang ringkas.

Keluarga Besar Facebook

Dalam penelitian Tony Reinkle, aplikasi yang paling sering digunakan adalah Facebook dan keluarga besarnya, seperti Instagram, Messanger dan aplikasi pengirim pesan ‘semua umat’; yakni WhatsApp. Sebuah penelitian pada 2016 menunjukkan bahwa jumlah rata-rata waktu setiap hari yang digunakan pengguna di Keluarga Besar Facebook, hanyalah 50 menit (tidak terhitung WhatsApp). Angka ini tampak sangat kecil. Tetapi kalau dihitung dari keseluruhan waktu sehari, sejam dihibahkan untuk reuni di rumah keluarga Mark Zuckerberg sudah cukup besar. Penelitian yang sama juga kemudian menunjukkan perbandingan penggunaan waktu untuk aktivitas berbeda, misalnya untuk makan dan minum (sejam), menonton film (2,8 jam), dan membaca (19 menit).

Saya sebetulnya tertawa ketika membaca laporan ini, meskipun sudah tiga tahun lewat. Ketika saya mencoba menghitung waktu yang saya habiskan di rumah Keluarga Besar Facebook, hasilnya cukup menggembirakan Mark; rata-rata tiga jam sehari. Mula-mula di sana saya bersosialisasi, mengaktualisasikan diri dan pandangan, mencari tahu semua perihal yang terjadi di bawah galaksi, mengintai kekasih dan menyelusuri jalan bercabang ke ‘hutan segalanya’.  Terkadang memang menyesal menghibahkan waktu sebanyak itu untuk pekerjaan memasang jerat angin. Toh demikian, membuat Mark bahagia adalah satu-satunya rasa syukur yang tersisa.

Saya merasa telah dijerat candu atau semacam dipelet oleh keluarga Mark, sedemikian sehingga susah mengalihkan diri dari sana. Sebuah penelitian lain mengatakan bahwa candu pada facebook (dan media sosial lainnya) memiliki pengaruh yang sama seperti kecanduan pada obat-obatan. Salah satu hal yang membedakannya adalah bahwa orang yang memiliki kecanduan pada media sosial (facebook) masih memiliki kemampuan untuk mengendalikan perilaku. Meskipun demikian, mereka tidak memiliki motivasi untuk mengontrol perilaku karena tidak melihat adanya konsekuensi. Padahal, konsekuensinya sungguh nyata. Salah satunya adalah meningkatnya distraksi.

Candu Untuk Diganggu

Bagi Tony Reinkle, smartphone mengubah hidup kita melalui menguatnya distraksi digital. Para ilmuwan perilaku dan psikolog membuktikan dalam aneka penelitian mengenai kebenaran ini: semakin kita candu pada telepon, semakin kita cenderung mengalami depresi dan kecemasan, dan semakin kita tidak mampu pula untuk berkonsentrasi dalam berbagai aktivitas yang lain, seperti di tempat kerja atau saat tidur. Pada gilirannya pula terjadi hal sebaliknya, semakin kita merasa gelisah, depresi dan cemas, semakin kita membenamkan diri dalam lautan digital tanpa dasar.

Distraksi digital bukanlah hal yang asing lagi. Kita mudah menemukan orang yang sementara berjalan menggenggam atau memainkan smartphonnya. Saya sendiri kerap mengalami hal seperti ini [bahkan ketika sedang asyik menyelsaikan bualan ini, saya masih menyaksikan pertandingan sepakbola klub kecil; MU versus Crystal Palace]. Atau ketika membaca Khotbah di Bukit, tangan saya masih menggenggam dan memainkan handphone. Ketika mengikuti Ekaristi, diam-diam membenamkan diri ke dalam samudera maya yang penuh warna [Untuk hal ini, khotbah pastor kerap dijadikan alibi]. Bahkan seringkali ketika berhadapan muka dengan mata kekasih, tangan jalang ini tak kuasa mengalihkan diri dari aneka keindahan yang muncul di berbagai media sosial.

Gangguan digital bukanlah hal yang main-main. Ini sungguh nyata. Smartphone telah membantu kita untuk terhubung satu sama lain. Setiap saat, sekian banyak orang (entah keluarga, teman, atau orang-orang asing) dapat menggangu kita atau menginterupsi aktivitas kita. Sebaliknya pun demikian; kalau kita merasa jenuh, dengan memainkan jempol jari di layar smartphone kita lantas dapat meluncur ke dalam “daftar hiburan dan keanehan online yang tak ada habisnya”.

Distraksi digital kerap menuntun kita melupakan aneka tugas dan segera menunda hal-hal yang rumit, seakan smartphone adalah tabib penyembuh. Di sana kita lekas melupakan percakapan-percakapan penting yang genting, tugas akhir kuliah yang rumit (semisal skripsi atau tesis). Penelitian lain menunjukkan bahwa rata-rata siswa Amerika menghabiskan 20% dari waktu kelasnya untuk bermain-main di perangkat digital, mengerjakan sesuatu yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan kelas. [Siswa Indonesia pasti lebih besar lagi]. Angka ini agaknya terlalu kecil ketika di hadapan kita yang muncul adalah dosen-dosen perayu kantuk. Ketika hidup menjadi sangat menuntut, kita kerap mendamba hal yang lain, segala sesuatu yang lain.

Selain itu, distraksi yang sama juga kerap menjauhkan kita dari orang lain. Tony Reinkle mengutip cerita Injil tentang perintah untuk mengasihi sesama dengan cara yang sama kita mencintai diri sendiri. Namun perintah ini kemudian mudah diabaikan, ketika kita dengan kemerdekaan khas anak-anak Allah, menarik diri dari sesame lalu beralih ke perangkat digital untuk juga mencoba berinteraksi dengan sesame yang lain. Kita hanya bisa dianggap terlibat ketika bertemu dengan orang lain, jika telpon tidak digunakan dan disingkirkan dari pandangan. Sebab, membagi perhatian ketika sedang bersama orang lain merupakan “ungkapan khas penghinaan”, katanya.

Semua hal yang saya tuliskan ini telah menimpa saya dan masih. Tetapi seperti pecandu yang berupaya membebaskan diri, usaha melepaskan diri dari pengaruh distraksi digital sedang diupayakan. Ini baru satu hal dari sekian banyak hal yang berubah oleh kemajuan teknologi komunikasi. Diam-diam smartphone telah mengubah sebagian diri saya menjadi manusia yang ‘candu untuk diganggu’!

Iwan Jemadi adalah seorang mahasiwa magister sebuah universitas di Jakarta, blogger yang pernah menjadi editor di sebuah perusahan penerbit buku. Artikel ini sebelumnya dimuat di blog pribadinya, Iwanjemadi.com. Silahkan mengunjungi blog tersebut untuk membaca tulisan lain dari Iwan.