Pemuda di Filipina Sedang Dalam Proses Jadi Beato

Darwin Ramos, seorang pemuda di Filipina kini sedang dalam proses menjadi beato, (Foto: Asianews.it)

Darwin Ramos, seorang pemuda di Filipina kini sedang dalam proses menjadi beato, atau langkah terakhir sebelum mendapat gelar sebagai orang suci.

Upacara resmi dimulainya proses ini dilakukan pada Rabu, 28 Agustus di Keuskupan Cubao, Manila, demikian laporan media Katolik Asia, ucanews.com.

Uskup Honesto Ongtioco dari Cubao mengumumkan bahwa keuskupan telah membentuk sebuah badan yang akan melakukan investigasi apakah Ramos memang “secara heroik mempraktikkan kebajikan Kristen” sehingga kemudian bisa untuk dinyatakan sebagai orang suci.

Pada Maret lalu, Kongregasi Penyebab Orang Suci di Vatikan memberi lampu hijau kepada Keuskupan Cubao untuk melihat kehidupan Ramos, di mana dia dinyatakan oleh Vatikan sebagai “Hamba Tuhan.”

Uskup Ongtioco mengakui bahwa proses untuk mendapat gelar orang suci akan memakan waktu.

Pastor Danilo Flores, promotor penyebab beatifikasi, mengatakan badan investigasi yang dibentuk oleh uskup berusaha membuktikan bahwa Ramos “memiliki reputasi untuk kebaikan dan dinyatakan layak untuk dibeatifikasi.”

Pastor Flores mengatakan, Darwin terkenal karena ia memiliki kekudusan tertentu yang tidak umum bagi kaum muda Filipina atau dunia.

“Dia memiliki sesuatu yang harus kita temukan dan itu akan terjadi secara bertahap,” kata imam itu.

“Lebih penting lagi, jika dia ada di surga, kita harus membuktikan apakah dia bisa menjadi model, terutama bagi kaum muda.”

Imam Dominika Thomas de Gabory, postulator untuk penyebab beatifikasi Ramos, mengatakan ia bertemu Ramos sebelum remaja itu meninggal pada 2012. “[Ramos] seperti anda dan saya, adalah seorang remaja sederhana,” katanya.

“Dalam penampilan dia seperti anda dan saya, tetapi dalam hati dia sepenuhnya menjiwai Yesus Kristus.”

Ramos yang lahir pada 17 Desember 1994 meninggal pada September 2012 pada usia 17 tahun setelah lama sakit.

Ia lahir di daerah kumuh Pasay City di pinggiran ibukota Filipina, Manila. 

Pada usia 12 tahun, ia membantu anak-anak jalanan melalui yayasan Tulay ng Kabataan (Jembatan Anak-Anak).

Saat bersamaan ia berjuang melawan distrofi otot Duchenne, penyakit genetik yang ditandai oleh kelemahan otot, yang umumnya terjadi pada anak laki-laki sebelum berusia enam tahun.

Ia menerima sakramen pembaptisan, komuni pertam dan sakramen krisma pada tahun 2007.

Bahkan ketika kondisi fisiknya memburuk, Ramos menjadi inspirasi bagi staf dan anak-anak di yayasan Tulay ng Kabataan.

Uskup Ongtioco mengatakan, remaja itu mengembangkan “hubungan pribadi yang mendalam dengan Kristus,” meluangkan waktu setiap hari untuk berdoa dan mempercayakan dirinya kepada Tuhan.

Pada 2012, kondisi Ramos memburuk. Di rumah sakit ia mempertahankan sikap ramahnya dan berterima kasih kepada semua orang karena telah membantunya.

Bagaimana Proses Memberi Gelar “Orang Kudus” dalam Katolik?

Pastor Gabory mengatakan dia yakin Ramos “sudah ada di surga … tetapi saya harus membuktikannya di pengadilan gereja.”

“Kita harus membuktikan kekudusan [Ramos], nilai-nilai Kristennya, harapannya, kerohanian dan imannya. Untuk membuktikan bahwa dia sudah ada di surga, kita harus menyelidiki kehidupannya. Itu adalah pekerjaan saya,” tambahnya.

Ibu Ramos, Erlinda, mengucapkan terima kasih atas kehidupan putranya.

“Ketika dia masih hidup, dia tidak menyakiti siapa pun, dan meskipun hidupnya singkat, dia melakukan sesuatu yang baik,” katanya.