Boko Haram: Teror Berdarah yang Tak Berujung

Boko Haram baru saja merayakan 10 tahun pendiriannya. Setiap tahun, kelompok teroris Nigeria ini, tampak semakin kuat. Kini, ia sudah semakin kuat berpijak di negara-negara tetangga Afrika seperti Kamerun, Chad atau Niger. Foto: Pemimpin Boko Haram Abubakar Shekau, dari sebuah video propaganda kelompok itu yang dikeluarkan Nopember 2018 lalu.

Oleh: UZAY BULUT

Boko Haram, kelompok berafiliasi dengan ISIS yang berusaha  mendirikan sebuah khilafah di Nigeria baru, saja merayakan ulang tahunnya yang kesepuluh. Ketika baru lahir, banyak kalangan meragukan kelangsungan hidup kelompok penjahat berdalih agama itu. Ketika Negara Islam (ISIS) muncul, dia pun berkiblat kepadanya. Cita-citanya sama; mendirikan kekalifahan Islam di Nigeria. Pertautannya dengan ISIS menyebabkan kelompok teroris ini dikenal juga sebagai Provinsi Afrika Barat Negara Islam (ISWAP). Dan bukannnya mati, kelompok teroris ini tidak mudah dikalahkan. Setiap tahun, para penjahat itu semakin kuat berpijak di negara-negara tetangga Afrika seperti Kamerun, Chad dan Niger.

Suicide bombings and other deadly attacks committed by Boko Haram terrorists over the past decade have claimed the lives of tens of thousands of innocent people, while more than two million others have been displaced. These figures do not even include the thousands of women and children abducted, some of whom, according to the Counter Extremism Project (CEP), “have been forced to carry out suicide missions.”

Bom bunuh diri dan serangan mematikan lainnya yang dilakukan oleh para teroris Boko Haram selama dekade terakhir telah merenggut nyawa puluhan ribu orang tak bersalah. Sementara itu, lebih dari dua juta orang lainnya terlantar. Angka-angka ini bahkan tidak termasuk ribuan wanita dan anak-anak yang diculik, di mana beberapa di antaranya, menurut Proyek Kontra-Ekstrimisme (Counter Extremism Project, CEP), “telah dipaksa melakukan misi bunuh diri.”

CEP menjelaskan: “Boko Haram memperbanyak jumlah pembom bunuh diri wanita. Soalnya, sangat mudah untuk menyembunyikan senjata di bawah jilbab. Apalagi, ada kebiasaan Islam yang melarang pria untuk menggeledah wanita.”

Menurut International Christian Concern (ICC), sejauh ini, selama 2019, untuk di Niger saja Boko Haram menculik 179 orang, kebanyakan wanita dewasa dan gadis-gadis. Jumlah korbannya nyaris hampir satu orang per hari. Ini tidak termasuk banyak penculikan yang tidak dilaporkan atau penculikan yang terjadi di Nigeria atau Kamerun.

Manajer Regional ICC untuk Afrika, Nathan Johnson, baru-baru ini mengatakan bahwa “meningkatnya penculikan di Niger ini mengkhawatirkan. Ia menunjukkan bahwa pengaruh dan kekuasaan Boko Haram sedang tersebar.”

Johnson melanjutkan: “Ekstremisme Islam sudah punya kekuatan di Afrika karena berbagai alasan. Pertama, akibat rasa tidak aman. Kurangnya pengawasan pemerintah memungkinkan kelompok-kelompok penjahat menguasai wilayah yang luas, juga mempengaruhi kehidupan jutaan manusia. Hal ini memberi para teroris ruang untuk melatih penduduk. Sisa penduduk lainnya digunakan untuk merekrut mata-mata yang diberikan peluang untuk mengumpulkan atau mencuri uang.

“Alasan kedua, kemiskinan dan buta huruf. Jutaan keluarga hidup dalam keadaan paling miskin di Kawasan Sahel Afrika. Empat dari 10 negara di Sahel termasuk di antara 25 negara termiskin di dunia. Kurangnya uang, infrastruktur, pendidikan dan perawatan kesehatan, antara lain, membuat mereka menderita. Dengan semua masalah ini, kelompok-kelompok ekstremis menemukan sumber sukarelawan yang mudah ketika mereka dapat menawarkan uang dan kekuasaan.

“Alasan ketiga,  mudahnya akses terhadap senjata. Dengan dana dan dukungan sumber-sumber luar seperti ISIS, kelompok-kelompok seperti Boko Haram dapat dengan mudah memperoleh senjata yang cocok atau mengalahkan orang-orang dari militer setempat di negara-negara ini. Ketika Muammar Gaddafi jatuh di Libya, banjir senjata menghantam pasar gelap dan tersedia bagi kelompok-kelompok teror di seluruh Afrika Barat. Ini membuat mereka lebih mudah menyerang warga sipil dan tentara. Juga untuk merebut tanah.

“Akhirnya, Islam punya klaim historis untuk sebagian besar Afrika. Jelas bahwa semakin jauh utara di Afrika Anda pergi, semakin kuat pegangan Islam. Banyak negara Afrika Utara juga mematuhi interpretasi Islam yang sangat ketat dan ekstrem. Mauritania, Aljazair dan Sudan, misalnya, terus-menerus menganiaya orang-orang Kristen dan non-Muslim lainnya. Ini berarti mereka juga lebih memungkinkan untuk mendukung kelompok-kelompok teroris yang memiliki kepercayaan yang sama. Sudan dikenal sebagai pendukung terorisme, misalnya.

“Nigeria menjadi negara yang paling hancur oleh ulah Boko Haram. Secara kasar, organisasi penjahat itu berarti, ‘Pendidikan Barat dilarang.’ Sampai baru-baru ini, Pemerintah Nigeria terus mengklaim diri bahwa Boko Haram sudah dikalahkan. Walau kelompok teroris itu memang kehilangan wilayah taklukan dan kekuasaan antara 2015 dan 2017, bagaimanapun, dia sudah mendapatkan kembali semuanya itu. Pemerintah Nigeria membuktikan dirinya benar-benar sangat tidak mampu. Dan yang paling mengerikan, terlibat dalam berbagai serangan itu.

“Banyak kelompok teroris itu sudah bekerja bertahun-tahun di Nigeria untuk membantu kawasan yang paling berdampak oleh ulah Boko Haram. Lembaga Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) misalnya memberikan milaran dolar bantuan di kawasan timur laut Nigeria. Persoalannya, bantuan yang membantu menyelesaikan kerusakan dengan biaya kecil bukanlah jawaban yang memadai. Selama berbagai kelompok seperti Boko Haram itu bisa terus menghancurkan seluruh desa dan infrastruktur, dan itu berarti menghancurkan penduduknya, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) tidak bakal mampu mengatasinya. Serangan-serangan itu harus dihentikan sebelum terjadi pemulihan nyata di kawasan-kawasan itu.”

Kampanye mematikan dan yang merusak oleh Boko Haram mencakup:

  • Serangan terhadap markas besar PBB di Abuja, Ibukota Nigeria, pada 2011.
  • Penculikan nyaris 300 anak dari Kota Chibok, Nigeria yang nyaris semuanya Kristen pada 2014 lalu. Sekitar 112 gadis siswi sekolah masih hilang sampai sekarang.
  • Pembantaian selama beberapa hari di Kota Baqa dan desa-desa sekitarnya di utara Nigeria pada 2015 silam. Tragedi ini menewaskan sekitar 2.000 warga sipil.
  • Serangan atas sebuah pangkalan militer di Negara Bagian Borno, pada 2018 lalu yang menyebabkan sekitar 1.000 tentara tewas.
  • Serangan Juli 2019 atas upacara pemakaman di timur laut Nigeria yang menewaskan 65 orang.
  • Juli 2019, menyiarkan sebuah video tentang enam tenaga kerja pemberi bantuan beragama Kristen di Nigeria yang meminta agar tidak dibunuh setelah diculik oleh Boko Haram.
  • Serangan terhadap sebuah desa Kristen Kalagari di utara Kamerun, 29 Juli 2019 lalu. Dilaporkan para penjahat itu menculik sedikitnya delapan wanita Kristen lalu memotong telinga mereka.
  • Razia malam di kawasan timur daya Niger, Agustus 2019 lalu. Insiden itu menewaskan 12 warga desa.

Uzay Bulut adalah wartawan Turki.

[Naskah ini diterjemahkan dari judul asli,Boko Haram: Bloody Terror, No End in Sightyang diterbitkan oleh Lembaga Kajian Gatestone Institute, 4 September 2019 lalu. Penerjemah: Jacobus E. Lato]