Sinode Bukanlah Sidang Parlemen, Kata Paus Kepada Para Uskup

Paus Fransiskus. (Foto: Ist)

Paus Fransiskus mengingatkan para uskup bahwa sinode bukanlah sebuah sidang parlemen. Karena itu, kata dia, sebelum mengikuti sinode, para uskup harus mempelajari apa yang diinginkan dan dipikirkan serta dibutuhkan oleh umat mereka dan bukan supaya mereka dapat mengubah ajaran gereja.

Yang disasar, kata dia, adalah agar para uskup kemudian dapat mewartakan Injil dengan lebih efekti.

Paus menyampaikan hal itu di hadapan para uskup Gereja Katolik Ukraina. Empat puluh tujuh uskup dari keuskupan di Ukraina dan 10 negara lainnya, termasuk Amerika Serikat, Kanada, dan Australia, bertemu paus pada 2 September selama sinode mereka di Roma.

Sebagaimana dilansir Ucanews.com, Uskup Agung Kyiv-Halych, Uskup Agung Sviatoslav Shevchuk mengatakan kepada paus bahwa “setiap uskup dan perwakilan komunitas lokal telah melakukan perjalanan ke Roma dengan membawa penderitaan dan harapan umat Allah yang dipercayakan kepada pastoral kami.”

Para uskup, katanya, ingin benar-benar berjalan bersama dengan orang-orang yang mereka layani, “tidak hanya selama sesi pertemuan tetapi juga ketika kembali ke komunitas masing-masing, karena, pada kenyataannya, seseorang tidak bisa berjalan sambil duduk!”

Berbicara kepada para uskup, Paus Fransiskus memusatkan perhatian pada pernyataan Uskup Agung Shevchuk dan bagaimana gereja-gereja Katolik Timur, seperti gereja-gereja Ortodoks, memiliki sejarah keputusan yang panjang dan tanpa henti yang mengalir dari sinode para uskup.

“Ada bahaya, berpikir hari ini bahwa melakukan perjalanan sinodal atau memiliki sikap ‘sinodalitas’ berarti menyelidiki apa yang dipikirkan orang ini dan orang itu, dan kemudian mengadakan pertemuan untuk membuat suatu kesepakatan,” kata paus.

“Tidak! Sinode itu bukan seperti parlemen!”

Sementara anggota sinode harus membahas masalah dan memberikan pendapat mereka, tujuannya bukan “mencapai kesepakatan seperti dalam politik: ‘Saya akan memberi Anda ini, Anda memberi saya itu.’

Para uskup harus tahu apa yang dipikirkan umat beriman, imam, dan religius, tetapi itu bukan survei atau pemungutan suara tentang apa yang harus diubah.

“Jika Roh Kudus tidak ada, tidak ada sinode. Jika Roh Kudus tidak hadir, tidak ada sinodalitas. Bahkan, tidak ada Gereja,” kata paus.

Panggilan Gereja adalah untuk mewartakan Injil dan Roh Kudus akan membantu para uskup yang berkumpul dalam sebuah sinode untuk melakukan hal itu dengan lebih baik.

“Berdoalah kepada Roh Kudus. Berdebatlah di antara kalian sendiri seperti yang dilakukan para pemimpin gereja awal di Efesus tetapi tetap mendengarkan Roh Kudus.”