Pastor Darmin: Visi Moral dan Kemanusiaan dalam Pendidikan Sebuah Keharusan

Pastor Vinsensius Darmin Mbula OFM sedang berbicara dalam seminar bertajuk “Membangun SDM Indonesia Menuju Indonesia Emas 2045” yang digelar di Program Pasca Sarjana Universitas Pelita Harapan, Jakarta, Kamis, 19 September 2019. (Foto: Ist)

Pastor Vinsensius Darmin Mbula OFM, Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK) mengamini pentingnya visi moral dan kemanusiaan dalam merumuskan konsep tentang manusia Indonesia, demi menyambut Indonesia Emas 2045.

Pembangunan visi itu, kata dia, teletak dalam upaya memberi perhatian serius pada penananam nilai-nilai dalam pendidikan, yang disesuaikan dengan nilai-nilai dalam Pancasila sebagai rujukan bersama. Nilai-ilai dalam Pancasila,  menurut dia, pada prinsipnya sesuai dengan konteks sosio-kultural Indonesia dan beragam tantangan saat ini, juga di masa depan, yang mesti disikapi.

Hal itu ia sampaikan saat menjadi pembicara dalam seminar bertajuk “Membangun SDM Indonesia Menuju Indonesia Emas 2045” yang digelar di Program Pasca Sarjana Universitas Pelita Harapan, Jakarta, Kamis, 19 September 2019.

Pembicara lain dalam seminar itu adalah Dr. (HC) Ir. Jonathan L. Parapak, Msc yang menyampaikan keynote speech dan Prof. Dr. H. Fuad Abdul Hamied, M.A dari Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung yang membahas tema “Reposisi dan Aktualisasi Falsafah Sisdiknas dalam Rangka Mendukung Pembangunan SDM Indonesia Menuju Indonesia Emas 2045.”

Dalam kesempatan itu, Pastor Darmin diminta membahas topik tentang Pembangunan Pendidikan yang Bervisi Moral dan Kemanusiaan.

Ia menjelaskan, pendidikan yang bervisi moral dan kemanusiaan itu tentu merujuk pada upaya menghasilkan manusia-manusia masa depan, yang dalam konteks Indonesia adalah, manusia Indonesia yang unggul, yang memiliki visi moral dan kemanusiaan.

Menurutnya, di tengah kemanusiaan amat pesat di bidang teknologi, yang kini disebut era Revolusi Industri 4.0, pertanyaan tentang apa artinya menjadi manusia – dalam konteks situasi saat ini, juga dalam kerangka menyikapi tantangan di masa depan, adalah sebuah pertanyaan yang mesti dijawab semua pihak sepanjang sejarah.

“Mengapa mesti kita jawab bersama, karena kita menghadapi dua gejala ini. Pertama, kita menemukan bahwa di tengah perkembangan yang dahsyat di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, kita masih terus-menerus berhadapan dengan situasi yang memperlihatkan adanya krisis moral dan kemanusiaan. Sehari-hari, kita berhadapan dengan korupsi, radikalisme, intoleransi, dan kerusakan lingkungan hidup dan berbagai masalah sosial lainnya,” katanya.

Kedua, masih tampak jelas adanya kesenjangan antara tingkat pendidikan dan kematangan pribadi hasil lulusan lembaga-lembaga pendidikan kita,” jelasnya.

Ia menjelaskan, para pelaku kejahatan, seperti korupsi dan pelaku pembakaran hutan yang menyebabkan kabut asap di Sumatera dan Kalimantan, misalnya, adalah output dari pendidikan Indonesia hari ini.

“Hal ini kiranya menjadi sinyal bagi kita, bahwa upaya pendidikan nilai itu atau yang sekarang menjadi Program Penguatan Pendidikan Karakter oleh pemerintah, adalah upaya, proyek bersama kita, jika ingin membangun manusia unggul di masa depan,” katanya.

Pastor Darmin mengingat, salah satu poin kunci untuk bisa mencapai hal itu adalah, meletakkan tujuan dasar pendidikan sebagai upaya mengembangkan semua potensi yang ada di dalam diri manusia yaitu intelektual, afektif, moral, artistik, spiritual agar dapat berinteraksi dengan lingkungan secara kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif.

“Semua itu diletakkan dalam ruangan yang sama. Konsepnya adalah pendidikan integral, sehingga hasil didikan kita tidak hanya cerdas, tetapi juga baik,” katanya.

Hal itu, kata Pastor Darmin, menuntut agar tema-tema tentang kebebasan, perdamaian abadi, keadilan sosial, hak asasi manusia yang menandai pergumulan umat manusia sepanjang sejarah penting dimasukkan dalam pendidikan.

“Pendidikan tidak hanya melatih manusia menggunakan daya nalarnya, tetapi pendidikan juga melatih emosi dan sisi spiritualnya,” katanya

Ia mengingatkan, dasar dari semua itu sebenarnya sudah terangkum semua dalam nilai-nila Pancasila, yaitu hormat terhadap keyakinan religius setiap orang; hormat terhadap martabat manusia sebagai pribadi, kesatuan sebagai bangsa yang mengatasi segmentasi sempit karena suku, agama, ras, golongan; demokrasi atas dasar kedaulatan di tangan rakyat; dan keadilan sosial yang mencakup kesamaan derajat setiap orang (equality) dan pemerataan (equity).

“Namun, patut menjadi refleksi semua elemen bahwa nilai-nilai itu belum secara jelas diimplementasikan dalam sistem pendidikan kita,” katanya.

Ia menjelaskan, Gereja Katolik, dalam kerangka mengedepankan visi untuk setia kepada upaya mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana tercantum dalam konstitusi dan nilai-nilai Pancasila; juga menambahkan prinsip lain, yaitu setia kepada katolisitas yang tercermin dalam ajaran sosial Gereja serta setia kepada spiritualitas pendiri.

Kesetian pada katolisitas dan spirtualitas pendiri itu, jelasnya, menambah bobot penting dalam upaya mewujudkan manusia Indonesia yang bervisi moral dan kemanusiaan, mengingat nilai-nilai Kekatolikan dan juga yang dihidupi para pendiri, adalah juga nilai-nilai kemanusiaan universal, yang tentu juga relevan dengan konteks Indonesia.

Ia membagikan upaya LPK dalam rangka mencapai itu, beberapa di antaranya adalah memperkenalkan penelitian kepada peserta didik yang bertujuan mendorong keterlibatan mereka untuk terjun langsung ke dalam konteks dan situasi masyarakat saat ini.

“Di balik hal ini, ada kesadaran bahwa tidak ada pengetahuan ilmiah yang mengabaikan konsekuensi etis moral. Ilmu pengetahuan dan penelitian membuat peserta didik semakin lebih baik memahami manusia dan dunia.”

Ia menambahkan, LPK juga menekankan proses belajar yang manusiawi, di mana bukan saja isi mata pelajaran yang dipelajari, tetapi juga nilai-nilai yang perlu diciptakan dalam proses belajar mengajar, seperti saling percaya, penghargaan, penghormatan dan persahabatan.

“Hubungan antara pendidik dan peserta didik, bukan hanya hubungan teknis-profesional, tetapi sebuah relasi yang dibangun dengan nilai-nilai itu. Tidak hanya transfer pengetahuan yang ditekankan, tetapi juga transfer nilai lewat iklim yang diciptakan di kelas, juga di lingkup sekolah,” jelasnya.

Ia menekankan, peserta didik didorong untuk terus belajar kreatif dan memiliki kemampuan untuk berdialog secara terbuka dengan orang lain; memilki keterbukaan hati dan akal budi terhadap alam semesta dan tanggung jawab terhadap Sang Pencipta

Tentu, hal itu, jelasnya, didukung dengan upaya terus-menerus melakukan pendampingan bagi para kepala sekolah dan para  guru.

Usulan

Berangkat dari sejumlah gagasan tu, ia mengusulkan sejumlah poin dalam rangka pembentukan manusia Indonesia bervisi moral dan kemanusian.

Pertama, kata dia, adalah pentingnya memunculkan kembali kesadaran akan cita rasa manusia Indonesia, yang berbasiskan Pancasila.

“Ini harus menjadi gerakan bersama dalam pendidikan dan budaya di sekolah. Kita mesti meletakkan gambaran ideal manusia Indonesia seperti apa yang ingin dicapai pada usia emas nanti,” katanya.

Kedua, mendesain kurikulum yang mengintegrasikan nilai-nilai moral dan kemanusiaan Indonesia Pancasila, sebagaimana sudah dimulai lewat program Pendidikan Penguatan Karakter sesuai PP No 87 thn 2017.

Ketiga, menyiapkan tenaga pendidik dan kependikan serta kepala sekolah yang mumpuni dengan merujuk pada Undang Undang Guru dan Dosen.

“Poinnya adalah para guru dan kepala sekolah harus menjadi orang Indonesia pembelajar sesuai dengan perubahan yang amat kompleks, cepat dan tidak pasti. Guru-guru harus kritis, kreatif, inovatif, komunikatif dan kolaboratif,” katanya.

Ia menambahkan, guru-guru harus memahami konsep pengetahuan secara benar dan baik sehingga mampu mentransformasi peserta didik untuk mengenal dirinya, untuk semakin peduli dan semakin memiliki rasa cinta kepada yang lain dan alam sekitarnya.

“Kepala sekolah juga demikian, agar menjadi leader 4.0 yang dicirikan oleh konektivitas, jejaring kerjasama internal dan eksternal untuk perubahan pendidikan di sekolah agar menjadi lebih unggul, serta juga memiliki kematangan mental dan spiritual.”

Kelima, kata dia, sejumlah prinsip penting harus dimasukkan dalam Kerangka Kerja Pendidikan Nasional,  yakni pertama, hormat terhadap manusia sebagai ciptaan Allah; kedua, manusia sebagai makhluk beradab dan berbudaya; ketiga, manusia sebagai makluk personal yang berelasi dengan yang lain sebagai sesama saudara sebangsa setanah air; keempat, manusia yang berdemokrasi secara bebas dan bertanggung jawab; manusia sebagai makluk sosial yang punya hati nurani untuk bertindak.