25 Tahun Pimpin Keuskupan Amboina, Mgr Mandagi Terus Kobarkan Semangat Cinta Damai

Uskup Amboina, Mgr Petrus Canisius Mandagi. (Foto: Ist)

Selama 25 tahun menjadi gembala di Keuskupan Amboina, Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC dianggap telah banyak berkontribusi bagi upaya memperjuangan perdamaian. Hal itu terus ia kobarkan hingga kini.

Uskup itu merayakan pesta perak tahbisannya sebagai uskup pada Rabu, 18 September 2019.

Perayaan Ekaristi dan malam syukuran dihadiri 11 uskup dan ratusan pastor dari beberapa daerah di Indonesia.

Dari jajaran pemerintah setempat juga ikut hadir, termasuk Gubernur Maluku Murad Ismail.

Ia bahkan mempersembahkan sebuah lagu untuk Mgr Mandagi di dalam Gereja Katedral Ambon, demikian laporan Kompas.id.

Nama Mandagi dikenal luas semenjak Kepulauan Maluku dilanda konflik sosial bernuansa agama pada tahun 1999 hingga 2003.

Ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang berdiri paling depan meminta konflik itu dihentikan.

Ia dianggap pemberani. Sebab, pada saat konflik membara, para penyeru perdamaian sering kali diincar untuk dibunuh. Banyak tokoh pun memilih diam.

Pertikaian yang meluas dengan ribuan korban jiwa membuat Maluku kian mencekam. Demi keselamatan, banyak orang termasuk pejabat pergi dari Maluku.

Dalam bukunya berjudul Gereja di Atas Batu Karang (2019) Tino Ulahayanan berkisah, Kepala Polda Maluku dan Gubernur Maluku saat itu sempat meminta Mgr Mandagi meninggalkan Ambon demi keselamatan dirinya.

Namun, setelah berdoa, Mandagi menelpon gubernur dan menyatakan bahwa dirinya tidak akan meninggalkan Ambon.

”Saya tidak akan meninggalkan Ambon karena tugas saya adalah melindungi jiwa-jiwa di sini,” tulis Tino meniru ucapan Mandagi, seperti dikutip Kompas.id.

Mandagi lalu menggalang kekuatan, mengajak semua tokoh agama memulai rekonsiliasi.

Ia menembus sekat-sekat, bahkan mendatangi tokoh yang dianggap ikut memprovokasi keadaan.

Tokoh yang terlibat perang kata-kata dengan Mandagi di media massa pun ditemui. Mandagi datang ke rumahnya.

”Saya datangi dan ajak bicara. Ketulusan dan cinta dapat meruntuhkan amarah. Sekarang kami jadi sahabat dekat,” katanya.

Selama 25 tahun ini, Mandagi berjasa besar untuk perdamaian Maluku.

Pengakuan akan keteguhan komitmennya pada perdamaian muncul dari para tokoh agama lain.

Abdullah Latuapo, Ketua Majelis Ulama Indonesia Provinsi Maluku menyebut, ia sudah menganggap Mgr Mandagi sebagai orang Maluku.

“Beliau sangat berperan aktif dalam perdamaian. Beliau baik dan bersahaja dengan kami (umat Islam). Beliau selalu terbuka dan menyampaikan apa adanya. Beliau selalu bilang, ’jangan ada dusta di antara kita’. Itu beliau lakukan dalam kehidupan kita bersama-sama,” katanya.

Pendeta Ates Werinussa menuturkan, Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku Pendeta menyebut, Mgr Mandagi selalu hidup di hati umat Kristen Protestan di Maluku.

Mgr Mandagi, kata dia, merupakan sosok yang sangat mereka hormati.

Sementara itu, Wilhelmus Jauwerissa, Ketua Perwakilan Umat Buddha Provinsi Maluku menggambarkan Mgr Mandagi sebagai orang yang “berani membicarakan hal-hal yang benar, tidak perlu takut walaupun itu berisiko.”

“Itu karena beliau mencintai kedamaian dan beliau menganggap Maluku adalah bagian dari kehidupannya,” katanya.

I Nyoman Sukadana, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Maluku menyebut Mgr Mandagi selalu mengedepankan kesetaraan, tidak mengenal kelompok mayoritas ataupun minoritas, semua sama.

25 Tahun Menggembala

Mgr Mandagi ditunjukkan ditunjuk oleh Paus Yohanes Paulus II sebagau Uskup Amboina pada 10 Juni 1994 dan ditahbiskan tiga bulan setelahnya, 18 September 1994.

Ia menggantikan rekan se-Kongregasinya, Mgr. Andreas Peter Cornelius Sol MSC.

Saat ditunjukan menjadi uskup, ia merupakan Provinsial MSC, jabatan yang diembannya sejak 1990.

Mgr Mandagir kuliah di LeuvenBelgia sejak tahun 1978 hingga 1981, dan meraih gelar MA dalam Religios Studies pada tahun 1979 dan Lisensiat dalam Teologi Dogmatik pada tahun 1981.

Ia pernah menjadi dosen dogmatik di Seminari Tinggi Pineleng hingga tahun 1990.

Selama menjadi uskup, ia pernah menduduki sejumlah jabatan penting di Konferensi Waligereja Indonesia, antara lain Ketua Komisi Kateketik (1997–2003), Anggota Presidium KWI (2000–2003), Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian dan Pastoral Perantau (2003–2009), dan Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan sekaligus Anggota Presidium KWI (2009–2015).

Sejak 7 Agustus 2019, Mgr. Mandagi juga menjadi Administrator Apostolik sede plena Keuskupan Agung Merauke, setelah pembebastugasan Mgr. Nicolaus Adi SeputraMSC untuk menjalani on-going formation.