“Jack itu Anak yang Sangat Baik dan Lucu… Sangat Benci Kekerasan”

Terkait dengan begitu banyak retorika untuk meredakan keadaan menyusul dipenjarakannya para jihadi ISIS Inggris yang tertangkap, kata-kata John Letts sangat berbeda dengan pernyataan-pernyataan kejam anaknya sebelumnya. Betapa membingungkannya bahwa seorang pecinta damai harus berakhir di ladang-ladang pembantaian berdarah di Raqqa. Gambar: John Letts dan Sally Lane, orangtua Jack Letts, yang dijuluki "Jihadi Jack". (Foto oleh Jack Taylor/Getty Images).

Oleh: ANDREW ASH

“Kekuasan ini [yang mau mencabut status kewarganegaraan] menjadi satu cara kita untuk bisa menangani ancaman teroris yang diungkapkan oleh beberapa orang yang paling berbahaya sekaligus menjaga negara kita aman,” demikian menurut jurubicara Departemen Dalam Negeri Inggris pada Agustus 2019.

Jack Letts. Julukannya, “pejihad Jack.” Dia warga Inggris yang jadi mualaf, lalu bebergian ke Suriah pada 2014 lalu untuk bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Baru-baru ini, status kewarganegaraan Inggrisnya dicabut. Dulunya, dia malah berkewarganegaraan ganda. Soalnya, ayahnya warga Kanada. Mamanya, warga Inggris. Keberadaan ISIS membuatnya bersedia menukarkan kota kelahirannya Oxford yang indah lalu pergi ke Raqqa, untuk bergabung dengan pasukan ISIS. Akhir-akhir ini, dia sedang menantikan nasibnya dalam tahanan pasukan Kurdi.

Letts, dulunya mengaku “musuh Inggris.” Berbagai media sosial penuh dengan banyak pesan postingannya. Misalnya, “ancamannya untuk memenggal kepala sekelompok tentara Inggris yang masih muda di laman Facebooknya.” Kini, dia mengaku menyesali masa lalu, termasuk menyesali penderitaan yang dia timbulkan atas kedua orangtuanya. “Saya merasa bersalah, karena saya yang menjadi alasan (orangtua saya) mengalami semua ini.”

Dia mengisahkan kisah ini kepada seorang wartawan TV Sky News, Juni lalu. Tampaknya dia lupa dengan fakta bahwa tindakannya menimbulkan lebih banyak kerugian daripada sekedar membingungkan orangtuanya. Soalnya, kedua orangtuanya kini mendapatkan hukuman gantung karena “menyediakan uang untuk tujuan teroris.”

Terpisah, ada Shamima Begum. Ia salah satu dari tiga siswi Inggris yang merencanakan kemudian menjalankan rencana meninggalkan rumah keluarga mereka di London timur dan menuju Suriah pada 2015 lalu. Dia pun mengalami nasib yang sama pada Februari lalu. Begum, juga setelah status kewarganegaraannya diminta dicabut Pemerintah Inggris kini merana di sebuah kamp pengungsi Suriah.

Kamp pengungsi mungkin bukanlah hasil yang Begum atau keluarganya dambakan. Tetapi tidak diragukan lagi bahwa tertahan di kamp pengungsian itu lebih mereka sukai. Bandingkan misalnya dengan nasib sahabat sekaligus antek satu sekolah Begum, yaitu Kadiza Sultana dan Amira Abase. Kedua gadis itu sama-sama tewas. Abase dilaporkan tewas terbunuh dalam sebuah serangan udara Rusia. Sultana tewas ketika berupaya meninggalkan ISIS. Upayanya untuk melarikan diri gagal, tampaknya karena pemikirannya berubah.

Ada yang sama pada Letts dan ketiga gadis itu. Mereka sama-sama mengutip kisah penderitaan sesama Muslim mereka di tangan Presiden Suriah Bashar Assad. Dan  semua kisah itu mereka jadikan katalisator, sesuatu yang cepat sekali mempengaruhi mereka membuat keputusan untuk mengubah hidup mereka, untuk keluar dari kamp pengungsi menuju Timur Tengah.

Situasi ini tampaknya terjadi pada begitu banyak mualaf Inggris. Yaitu keinginan untuk ikut campur dalam urusan negara lain dengan klaim demi umat (komunitas Muslim sedunia). Tampaknya ia menjadi motif sangat menarik yang tak tertahankan, namun tidak dipikirkan secara matang.

Yang sama-sama bisa diramalkan adalah sikap mereka setelah ditangkap musuh. Mereka mengaku mau bertobat berbalik arah. Tentu saja diikuti kata-kata pembelaan diri penuh semangat kekeluargaan.

“Dia [Jack] itu orang yang sangat manusiawi. Dia ingin melakukan sesautu untuk membantu,” urai Tuan Letts tentang anaknya, lalu menambahkan, “Dia sangat ramah, lucu dan sangat lembut. Dia benar-benar tidak suka kekerasan …”

Seperti halnya banyak retorika meringankan menyusul penjeblosan Muslim Inggris yang ditangkap ke dalam penjara, kata-kata Tuan Letts sangat bertentangan dengan pernyataan putranya yang kejam sebelumnya. Betapa membingungkannya, bahwa seorang pecinta damai seperti itu harus berakhir di ladang-ladang pembantai Raqqa yang berdarah-darah.

Bagaimanapun, ada masalah yang jauh lebih besar daripada apa yang harus dilakukan dengan orang-orang seperti Jack Letts dan Shamima Begum, yaitu kemungkinan hilangnya peluang penjahat ISIS Inggris itu kembali ke negaranya sehingga kehadiran mereka terasa. Tidak peduli betapapun sepenuh hatinya orangtua mereka mungkin memohon atas nama mereka setelah mereka ditangkap, kecenderungan anak-anak mereka yang terbaik mungkin bisa diukur dengan tindakan mereka ketika mereka bebas melakukan apa yang mereka inginkan.

Andrew Ash berdiam di Inggris.

(Naskah ini diterjemahkan dari judul asli, Jack… Is a Really Kind, Funny Kid… Totally Non-violent yang diterbitkan oleh Lembaga Kajian Gatestone Institute, 18 September 2019 lalu. Penterjemah Jacobus E. Lato.)