Gereja Jadi Tempat Berlindung Warga Pendatang Saat Kerusuhan di Wamena

Dalam foto ini, tampak salah satu bangunan yang hangus terbakar saat terjadi kerusuhan di Wamena, Kabupaten, Jayawijaya, Provinsi Papua, pada 23 September lalu, Rabu, 25 September 2019. (Foto: Dok Staf Khusus Gubernur Papua)

Kerusuhan yang meletus di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua pada 23 September lalu dan kini telah memicu eksodus ribuan warga meninggalkan, kisah tentang bagaimana orang-orang asli Papua berusaha memberi perlindungan kepada saudara-saudari mereka, warga pendatang dari daerah lain.

Gereja pun dijadikan sebagai tempat yang aman bagi warga pendatang dari Padang, Jawa dan Makassar untuk berlindung.

Hal ini diuraikan dalam laporan BBC Indonesia, Senin, 30 September.  Media tersebut mengulas cerita dari warga pendatang yang kini sudah berada di luar Wamena, menanti situasi di Wamen kembali kondusif.

Dilarikan ke Gereja

Mus Mulyadi, pendatang yang sejak 2006 menjadi pedagang di Wamena, mengaku keluarganya dan ratusan orang lain diselamatkan penduduk asli Wamena saat kerusuhan pecah sekitar pukul 08.00 Wita.

“Kita 250 orang dibawa ke gereja, diungsikan, diselamatkan. Orang Padang, Jawa, Makassar dimasukkan ke gereja. Yang menyelamatkan asli orang Wamena,” kata Mus yang kini berada di penampungan Ikatan Keluarga Minang (IKM) di Sentani.

“Mereka juga yang menjaga serta mengawal kami sepanjang hari itu,” tambahnya.

Mus sedang berjualan aneka makanan ketika kerusuhan pecah.

“Saya baru buka. Pembeli baru satu-dua, langsung pecah (kericuhan). Saya langsung jemput anak saya di sekolah,” tutur Mus.

Selang 15 menit, kisahnya, pembakaran terjadi di samping SMP.

“Setelah anak saya bawa pulang, kantor bupati dibakar. Selanjutnya POM bensin dibakar, merembet ke Woma,” katanya.

Setelah kondisi kelihatannya aman, Mus dan keluarganya mengungsi ke Komando Distrik Militer Jayawijaya.

Mereka tinggal di sana selama semalam, untuk kemudian mengungsi ke Jayapura menggunakan pesawat maskapai Trigana.

Ingin Kembali ke Wamena

Mengingat kembali kerusuhan di Wamena, Mus mengaku tidak merasakan tanda-tanda konflik horizontal.

“Saya dan keluarga hidup berdampingan dan sangat rukun. Masyarakat lokal, secara khusus orang Lembah Baliem sudah seperti keluarga saya sendiri. Putra daerah malah dekat dengan kita orang Padang. Kita sekolahkan dia, kita kasih makan, kita kasih gaji,” paparnya.

Ia menambahkan, dia dan keluarganya masih menunggu hingga kondisi kembali kondusif.

“Untuk sementara kita di Sentani dulu, memang sebagian besar harta benda seperti tempat jualan dan sebagian rumah sudah hangus terbakar. Kalau kondisi aman, kita pasti kembali lagi untuk memulai usaha kita dari awal lagi,” katanya.

Keinginan pengungsi untuk kembali ke Wamena juga diutarakan Krisanthus Letsoin, asal Kepulauan Kei, Maluku—yang sejak 2008 mengabdi sebagai tenaga guru honorer di Kabupaten Yahukimo.

“Kalau saya akan tetap kembali, sudah jadi tugas saya yang harus dilaksanakan. Di sana kekurangan guru, semua mata pelajaran saya ajarkan,” kata Kris yang kini sudah mengungsi di Sentani bersama keluarganya.

Kris tidak menampik bahwa dirinya mengalami trauma sehingga masih memulihkan diri.

“Perasaan masih trauma. Di sini kita merasa aman sekali, ada lingkungan keluarga. Kita sudah baik,” ujar Kris.

Kris sejatinya tidak mengalami kerusuhan di Wamena pada 23 September lalu karena dia datang ke kota itu sebelum ricuh dan sudah kembali ke Yahukimo saat terjadi kerusuhan.

“Saya tiba di Wamena sehari sebelum Wamena rusuh, untuk pencairan dana BOS. Setelah di Yahukimo baru saya dengar Wamena rusuh. Tidak ada penerbangan ke Wamena. Terpaksa saya langsung ke Jayapura karena tidak ada akses untuk ke Wamena baik darat maupun udara,” paparnya.

Dari istrinya yang tinggal di Wamena dan belakangan menyusul ke Sentani, Krisanthus mengetahui rumahnya sudah rata dengan tanah.

“Istri saya dari Wamena dua hari lalu tiba di Sentani hanya baju di badan. Harta benda, rumah dan segala isinya sudah hangus dan rata dengan tanah,” katanya.

“Saya bersyukur karena kami sekeluarga masih selamat, dan untuk sementara kami tinggal di sentani sampai kondisi aman dulu baru kembali lagi ke Wamena,” ucapnya.

Kris menuturkan ada 26 orang penduduk Wamena asal Kepulauan Kei yang mengungsi ke Jayapura.

Mereka ditampung di salah satu pos pengungsian di Sentani dengan dukungan keluarga besar masyarakat Kepulauan Kei.

Eksodus

Dalam konferensi pers pada Senin, 30 September, Presiden Joko Widodo mengimbau masyarakat untuk tidak ramai-ramai meninggalkan Wamena.

Jokowi menyebut, aparat keamanan kini sudah bisa memulihkan kondisi di Wamena setelah terjadi kerusuhan yang menewaskan sedikitnya 33 orang.

“Terus kami imbau agar masyarakat tidak keluar dari Wamena karena aparat keamanan sudah bisa mengamankan,” kata Jokowi di Istana Bogor.

Ia meminta tak ada yang mengaitkan kejadian ini dengan konflik antar-etnis.

“Seluruh masyarakat tetap tenang, menahan diri dan menghindarkan dari semua provokasi provokasi dan fitnah-fitnah yang kita lihat di media sosial begitu sangat banyaknya isu-isu yang ditebarkan,” kata dia.

Sementara itu, TNI Angkatan Darat menyatakan telah mengevakuasi 4.588 orang dari Wamena ke Jayapura menggunakan pesawat Hercules, sejak 23 September hingga Senin, 30 September.

Komandan Lanud Silas Papare Jayapura, Marsma TNI Tri Bowo Budi Santoso, mengatakan kepada BBC Indonesia, selama ini mereka menggunakan dua pesawat Hercules dan akan ada satu pesawat Hercules tambahan mulau hari ini, Selasa.

Para pengungsi tersebut, lanjutnya, ditampung di beberapa pos penampungan, seperti di gedung serbaguna Lanud Silas Papapre, Yonif Raider 751, Rindam, Tabita dalam, Al-Aqso Sentani, dan Musholla Attaqwa Sentani.

Menurutnya, jumlah pengungsi di kawasan Sentani diperkirakan akan bertambah mengingat masih ada 8.000 hingga 10.000 orang lagi yang menunggu dievakuasi dari Wamena. Sebagian dari tempat lain, seperti Tolikara, baru mendaftar.

Di Wamena, pemerintah Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua, mencatat terdapat 7.278 warga perantau masih berada di penampungan pengungsi.

Bupati Jayawijaya, Jhon Richard Banua, mengatakan pengungsi tersebar di lebih dari 59 titik.

“Pengungsi terbanyak bertahan di Polres, Kodim, gereja, mushola dan sudah didistribusikan logistik,” katanya.

Selain masyarakat pendatang, masyarakat asli Papua juga ikut mengungsi ke kampung-kampung.

“Kita juga data orang asli Papua yang mengungsi ke kampung-kampung untuk diberikan logistik, sebab setelah kejadian, tidak ada tempat usaha yang buka untuk mereka belanja,” katanya.

“Di pengungsian ada yang sakit saya sudah perintahkan tim medis untuk datang ke tempat-tempat pengungsi. Ada bantuan tenaga medis juga dari TNI dan Polri untuk membantu obat maupun tenaga. Bukan hanya itu dokter-dokter kita juga melakukan trauma healing khususnya kepada anak-anak,” katanya.

Untuk meringankan korban kerusuhan di Wamena, Kementerian Sosial (Kemensos) mengirimkan bantuan senilai Rp3,89 miliar.

“Dalam rangka penanganan penyintas pasca kerusuhan di Wamena, Kemensos memberikan layanan pemenuhan kebutuhan dasar berupa bantuan logistik bagi kelompok rentan serta pemulihan usaha ekonomi warga,” kata Menteri Sosial, Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Minggu.