Ruang Misteri dalam Relasi Manusia

Ilustrasi

Belajar mengerti perbedaan pada diri orang lain adalah konsekuensi dari keberadaan manusia sebagai makhluk sosial.

Dua pribadi yang berjanji saling mencintai, berproses selama sisa hidup untuk menjadi we person; dua orang yang bersahabat saling belajar mengenal kelebihan dan kekurangan, agar dapat menjadi partner; dalam sebuah komunitas, apapun bentuk dan tujuannya, pribadi-pribadi perlu saling mengenal agar terjalin relasi dan kerja sama yang solid.

Manusia tidak pernah berhenti belajar tentang sesamanya, karena setiap pribadi memang unik. Tentu saja unik juga berarti terbatas, dan terbatas artinya tidak sempurna, maka perlu dilengkapi.

Seorang teolog kontemporer dari Kroasia, Miroslav Volf, dalam bukunya Exclusion and Embrace: A Theological Exploration of Identity, Otherness and Reconciliation, memaknai relasi antara pribadi manusia dengan menafsirkan tindakan saling merangkul atau memeluk. Ia sendiri menggunakan istilah ‘fenomena merangkul’ (phenomenology of embrace)Apa yang terjadi ketika dua orang saling memeluk atau merangkul?

Ketika merangkul sesorang, saya melakukan gesture menyambut dia yang ada di hadapan saya. Mengulurkan tangan, membuka lengan sambil sedikit membungkuk untuk merangkul berarti memberi ruang bagi dia yang ada di hadapanku. Melalui sikap yang sama dia yang ada di hadapanku menyediakan ruang unutk menerima aku. Merangkul adalah bahasa tubuh yang mengekspresikan kesediaan seseorang  keluar dari egoisme, menjumpai pribadi lain melalui sentuhan riil: menubuh.

Tentu setelah merangkul, kita melepaskan rangkulan. Lengan-lengan dibuka lagi. Pelukan atau rangkulan bukan gesture untuk membatasi gerakan dia yang ada di hadapanku. Rangkulan yang terlalu lama menimbulkan rasa tidak nyaman. Lengan-lengan harus dibuka kembali. Masing-masing pribadi kembali ke dalam dirinya. Tubuhnya kembali tegak. Ruang yang saya berikan kepada dia yang ada di hadapanku tentu bukan belenggu bagi kebebasannya. Kita sedang saling memberi ruang tanpa menyangkal ciri-corak yang unik pada setiap pribadi. Relasi yang sehat terjalin justru antara dua pribadi yang telah mengenal dirinya dengan baik.

Dengan mengenal kelebihanku, aku sadar apa yang dapat kuberikan kepada engkau; sebaliknya dengan menerima keterbatasanku, aku akui apa yang perlu kupelajari dari engkau. Kita dapat saling melengkapi karena masing-masing pribadi telah berhasil mengenal sisi-sisi diri kita.

Dalam rangkulan yang tulus, saya sadar bahwa ada pribadi lain (wanita maupun pria) yang hadir di hadapanku. Kami saling membuka ruang agar dapat menyambut satu sama lain, namun kami tetaplah dua manusia yang unik. Sekalipun rangkulan itu menandakan keterbukaan antara dua pribadi, keduanya tetaplah individu-individu yang berbeda. Mereka adalah dua tubuh yang terpisah. Semua manusia setara, namun satu pribadi tak akan pernah tergantikan oleh pribadi lain. Saya tidak pernah dapat mengklaim telah mengetahui seluruh diri ia yang berada di hadapan saya. Dan sebaliknya ia tidak dapat mengklaim telah mengenal seluruh keberadaanku. Ke-aku-an saya tidak pernah tergantikan oleh ke-engkau-an kamu; dan sebaliknyapun demikian.

Dengan kata lain, dalam relasi kita belajar saling mengenal. Temuan kita yang paling istimewa ialah bahwa dalam setiap diri terdapat ruang misteri. Di hadapan wajah dia yang kurangkul, ada dimensi lain di baliknya yang tidak kupahami. Demikian pula, pada diriku terdapat ruang lain yang tidak mampu ia mengerti.

Dengan perkataan lain, terdapat hal ‘ketiga’ antara aku dan engkau (Martin Buber). “Yang ketiga” itu tampak terlalu luas untuk kita dijelajahi. Namun justru karena luasnya itu, aku dan kamu dapat menemukan kejutan-kejutan yang menjadikan relasi kita selalu baru.

Artikel ini sebelumnya dimuat di Andreatawolo.id, blog milik RP Andre Atawolo OFM. Silahkan membaca tulisan lain dari pengajar teologi dogmatik di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini dengan mengklik di sini!