Kongregasi FSGM Akan Luncurkan Buku Panduan Pendidikan Karakter

Para suster FSGM sedang merapikan miniatur honai, rumah adat Papua yang dibangun di Taman Karakter Fransiskus. Taman ini diresmikan bersamaan dengan peluncurkan buku Panduan Pendidikan Karakter yang akan digunakan di sekolah-sekolah milik FSGM. (Foto: Ist)

Katoliknews.com – Kongregasi Suster-suster Fransiskanes dari Santo Georgius Martir (FSGM) akan meluncurkan buku khusus terkait pendidikan karakter yang bakal diterapkan di sekolah-sekolah yang mereka kelola di seluruh Indonesia.

Peluncuran buku tersebut yang akan diadakan di Kompleks SMA Fransiskus, Lampung pada Sabtu esok, 19 Oktober 2019 dikemas dengan seminar tentang pendidikan karakter, konser dan peluncuran taman karakter.

Uskup Tanjungkarang, Mgr Yohanes Harun Yuwono dan Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi dipastikan hadir dalam acara itu.

Buku ini yang diterbitkan oleh Erlangga akan digunakan oleh semua Sekolah Fransiskus, sebutan untuk sekolah-sekolah milik FSGM di Lampung, Sumatera Selatan, Jakarta, Dalem dan Papua.

Sr Lusie FSGM, Ketua Yayasan Dwi Bakti Bandarlampung – yang menaungi sekolah-sekolah tersebut – menjelaskan, ide untuk menyusun buku ini bermula dari rencana Yayasan pada 2010 untuk menjadikan semangat pendiri Kongregasi FSGM sebagai keunggulan sekolah-sekolah mereka.

“Lima tahun kemudian, pada 2015, pihak Yayasan mulai mengkaji visi misi Kongregasi. Dalam perjalanan waktu, saat rapat kerja Yayasan bersama seluruh suster yang berkarya di sekolah, secara bulat kemudian diputuskan bahwa buku pendidikan karakterlah yang menjadi keunggulan Sekolah Fransiskus,” katanya, seperti yang tertulis dalam pengantar buku.

Ia menambahkan, di tengah upaya mereka menyusun buku itu, gayung bersambut, karena pemerintah juga mencanangkan Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sesuai amanat Peraturan Presiden No. 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter.

Bertepatan dengan momen itu, kata dia, pada 2017, secara efektif penyusunan buku dimulai.

Prosesnya, jelas Sr Lusie, dilakukan di bawah bimbingan Romo Vinsensius Darmin Mbula OFM, yang kini menjadi Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik.

Sr Elfrida FSGM, koordinator tim penulis buku ini menjelaskan, buku ini “memberikan pedoman praktis kepada peserta didik dan bagi ketiga basis pendidikan karakter, yaitu guru, orangtua dan pihak sekolah dengan melihat dan memperhatikan nilai-nilai spiritualitas  FSGM.”

Dari upaya penggalian terhadap visi misi, semangat pendiri Kongregasi dan Santo Fransiskus Assisi, katanya, ditemukan 5 Pilar Pendidikan Karakter Sekolah Fransiskus, yakni Cinta Kasih Allah yang penuh Kerahiman, Cerdas, Jujur, Toleransi  dan Disiplin.

Pada masing-masing pilar, katanya, terdapat karakter-karakter yang dikembangkan. Untuk Cerdas misalnya, diuraikan lagi menjadi karakter kerja keras, kreatif, cekatan, mampu memecahkan masalah dan kritis.

Masing-masing karakter, lanjut dia, kemudian diuraikan secara rinci, yang diawali cerita dengan bahasa sederhana, penjelasan tentang karakter, uraian tentang indikator-indikator, poin-poin tentang peran ketiga basis pendidikan karakter, yaitu orangtua, guru dan sekolah serta pada bagian akhir adalah evaluasi.

“Pelaksanaan pendidikan karakter terintegrasi dalam seluruh proses pembelajaran, bimbingan dan pelatihan sesuai dengan visi dan misi Sekolah Fransiskus,” katanya.

Sr M Aquina, Provinsial FSGM mengatakan, peluncuran buku ini bertepatan dengan syukuran 150 tahun Kongregasi FSGM yang berdiri pada 1869 di Thuine, Jerman oleh Muder M. Anselma Bopp.

“Melalui buku ini, Sekolah Fransiskus memiliki konsep yang jelas dan terarah tentang pendidikan karakter yang harus dilaksanakan secara sistematis, strategis, utuh dan menyeluruh sesuai nilai-nilai dasar dan semangat pendiri Kongregasi,” katanya.

Ia menambahkan, sebagai bagian dari bangsa Indonesia, sekolah-sekolah di bawah naungan Yayasan Dwi Bakti Bandarlampung turut berperan serta secara aktif dalam usaha menguatkan karakter generasi muda bangsa.

Konser dan Taman Karakter

Bersamaan dengan peluncuran buku ini, FSGM juga menggelar konser yang menampilkan para peserta didik dari 22 sekolah di bawah Yayasan Dwi Bakti Bandarlampung di Lampung, Jakarta, Yogyakarta dan Palembang.

Karya-karya seni yang ditampilkan berada di bawah tema besar “Dari Fransiskus untuk Indonesia.”

Selain itu, akan diperkenalkan juga apa yang disebut “Taman Karakter Fransiskus,” yang terletak di belakang kompleks SMA Fransiskus.

Layaknya Indonesia mini, di taman tersebut, berdiri miniatur lima rumah adat yang mewakili komunitas masyarakat di lima pulau besar di Indonesia, yakni, Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan Papua.

Di setiap miniatur, ditempatkan satu-satu pilar, yang menjadi isi buku karakter. Di honai, rumah tradisional masyakat Papua menjadi basis untuk mendalami pilar disiplin, rumah adat Lampung untuk pilar Cinta Kasih Allah Penuh Kerahiman, rumah ada Jawa untuk pilar cerdas, rumah adat Toraja untuk pilar toleransi dan rumah adat Kalimantan untuk pilar jujur.

Pilar Cinta Kasih Allah yang Penuh Kerahiman di minatur rumah adat Lampung. (Foto: Ist)N

Di setiap rumah adat juga diperkenalkan keunikan dan keragamanan budaya Indonesia.

Sr Elfrida mengatakan, pembentukan taman karakter ini bertujuan membuat peserta didik merasa senang dan nyaman untuk belajar tentang karakter-karakter.

Dalam rangkaian acara pada Sabtu, ada sesi kunjungan ke taman tersebut, bersamaan dengan wisata kuliner.

Pendidikan Karakter Sesuatu yang Mendesak

Pastor Darmin yang ikut mendampingi proses penyusunan buku menyatakan, buku tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat identitas Kekatolikan di sekolah Katolik dengan bercermin pada spiritualitas pendiri, sebagaimana yang menjadi harapan Gereja.

“Apa yang disusun dalam buku ini sejalan juga dengan nilai-nilai dalam Ajaran Sosial Gereja, juga dengan nilai-nilai Pancasila,” katanya.

Dengan buku ini, kata dia, diharapkan sekolah-sekolah milik FSGM bisa terus berkontribusi menghasilkan generasi masa depan yang bermutu sekaligus berkarakter.

Ia mengapresiasi khusus gagasan FSGM yang berupaya mendaratkan karakter dengan pembentukan taman karakter.

“Ini ide yang luar biasa, yang menurut saya bisa menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain,” katanya.

“Dengan taman ini yang ditata dengan indah dan menarik, anak-anak tentu akan menemukan situasi yang menyenangkan untuk pertama-tama mengenal karakter, lalu kemudian menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.

Pastor Darmin mengatakan, penguatan pendidikan karakter bagi generasi masa depan adalah sesuatu yang mendesak di tengah beragam krisis yang melanda bangsa Indonesia saat ini.

“Kita menemukan banyak kemerosotan di sana-sini, ada praktek korupsi, kekerasan, kerusakan lingkungan, runtuhnya penghargaan satu sama lain, intoleransi dan sebagainya. Syukurlah bahwa sekolah-sekolah Katolik, termasuk di bawah Kongregasi FSGM bergerak aktif merespon hal ini,” jelasnya.

Selain FSGM, pastor yang juga anggota Komisi Pendidikan KWI ini juga telah membantu Kongregasi lain dalam penyusunan buku pendidikan karakter.

Yang bukunya juga sudah jadi adalah milik Kongregasi JMJ, SFD, sementara beberapa lain kini sedang dalam proses penyusunan.

Harapan

Pihak FSGM berharap banyak dengan kehadiran buku ini yang akan dipakai mulai tahun ini.

“Kami berharap, dengan bantuan buku ini, semua pihak yang terlibat dalam seluruh proses pendidikan di Sekolah Fransiskus yaitu guru, peserta didik, orangtua dan masyarakat  dapat secara optimal berperan serta dalam menanamkan nilai karakter secara holistik, terintegrasi dan utuh, melalui seluruh program dan situasi sekolah,” kata Sr Lusie.

“Tugas pendidik dan sekolah adalah secara kreatif memasukkan nilai-nilai karakter ke dalam seluruh proses pembelajaran sesuai kurikulum nasional dan melatih pembiasaan-pembiasaan setiap hari sehingga nilai-nilai ini menjadi bagian dari cara hidup peserta didik dan juga menjadi budaya sekolah,” lanjutnya.

Sr Aquina menambahkan, “semoga kehadiran buku ini dapat semakin memperkuat implementasi pendidikan karakter generasi penerus bangsa Indonesia, demi menyiapkan generasi emas sebagai generasi milenial menuju peradaban baru dengan karakter yang unggul.”

Sementara itu, Sr Elfrida menekankan, keberhasilan Sekolah Fransiskus menerapkan pendidikan karakter merupakan tanggung jawab bersama seluruh warga sekolah, baik orang tua, para guru, karyawan, maupun masyarakat.

“Karena itu, dibutuhkan kerja sama dan saling mendukung agar nilai-nilai karakter kemudian tertanam kuat dan menjadi bagian dari cara hidup peserta didik.” katanya.