Pesan Kardinal Suharyo Jelang Pelantikan Presiden: Ajak Berhenti Bertikai dan Percaya Pada Jokowi-Ma’ruf

Ignatius Kardinal Suharyo. (Foto: Ist)

Katoliknews.comMenjelang pelantikan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin pada Minggu, 20 Oktober 2019, Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo berpesan kepada masyarakat untuk berhenti bertikai dan percaya pada kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin di lima tahun mendatang.

“Yang paling penting bukan hanya pemerintah atau presiden, tapi seluruh warga negara Indonesia mesti sadar bahwa membuang-buang energi untuk bertikai. Itu tidak akan banyak gunanya untuk bangsa kita,” katanya, Kamis , 17 Oktober usai memberikan pidato kebangsaan dalam acara yang digelar PARA Syndicate di Jakarta.

Ia meyakini, Jokowi-Ma’ruf memiliki ide dan gagasan besar untuk memajukan masyarakat Indonesia.

Dirinya menekankan bahwa pemerintah dan masyarakat perlu bersatu dan fokus mewujudkan cita-cita bersama bangsa, dengan menjadikan Pancasila sebagai panduan bersama.

“Pancasila itu kalau dihayati akan membentuk watak. Yaitu watak berketuhanan, watak berperikemanusiaan, watak persatuan, watak kerakyatan dan watak berkeadilan,” kata kardinal yang dilantik pada 5 Oktober itu.

“Kalau itu berjalan, bangsa ini akan sungguh-sungguh mampu dan sampai kepada cita-cita kemerdekaan. Tapi kalau energinya dihabiskan untuk berkelahi dan bertikai, kita sungguh khawatir,” tambahnya.

Pentingnya Teladan Para Tokoh

Karena untuk membentuk watak dan nilai yang sesuai dengan Pancasila diperlukan sosok yang bisa menjadi contoh, ia berpesan agar para tokoh memberi teladan kepada masyarakat.

“Karena teladan itu abadi. Kalau hanya ceramah itu mudah dilupakan, tapi kalau melihat tokoh pemerintah, tokoh nasional yang hidupnya sungguh-sungguh demi bangsa, demi tanah air, saya yakin itu akan menjadi motivasi yang sangat besar bagi seluruh warga negara untuk mendukung perjuangan ini,” tegasnya.

Ia menambahkan, tidak kalah penting bagi pemimpin juga warga negara adalah membiasakan diri dengan perbedaan.

Kecakapan merawat perbedaan, kata dia, bakal mampu memajukan bangsa.

“Realitas kehidupan beragama harus disadari, perbedaan itu harus dikelola dengan baik. Agama apapun di Indonesia mesti dirawat dalam bingkai ke-Indonesia-an. Itu penting sekali jadi pekerjaan rumah pemerintahan baru, tak hanya pemerintah, masyarakat juga,” ujar Suharyo.