Tubuh Digital

Iwan Jemadi: Kangen atau cinta kita tidak sebatas tweet atau pesan teks. Kasih memerlukan laku yang utuh dan kehadiran fisik yang nyata. (Foto: Ilustrasi)

Oleh: IWAN JEMADI

Mungkin Anda pernah mengalami hal semacam ini. Seseorang mengirimkan Anda pesan atau berbicara ringkas lewat telpon untuk mengabarkan kangen. Ia lalu mengajak Anda bertemu. Sebetulnya, Anda juga sedang rindu ketika akhirnya bersepakat untuk menjumpainya. Sesaat selepas mata kalian bertemu di sebuah Caffe, Anda akhirnya menyadari bahwa kangennya cuma sebentuk basa-basi. Seseorang yang mengatakan kangen pada Anda lewat sebaris pesan di smartphone itu memilih asyik dengan handphonenya ketika mata kalian bertemu. Barangkali ia pun sedang mengirimkan pesan kangen yang lain pada seseorang yang jauh dan mengajak bertemu.

Atau justru Andalah yang pernah memperlakukan orang lain seperti itu. Bilang kangen dan mengajak bertemu. Nongkrong sambil minum kopi kepunyaan orang Amerika, lalu menghabiskan jam-jam itu untuk membuat kesepakatan lain dengan orang lain melalui smartphone, selain membikin selfie! [Saya pernah mengalami keduanya, dan bukan itu alasan mengapa tulisan ini dibuat].

Tony Reinke menyebut pengingkaran akan makna tubuh menjadi salah satu jalan yang diubah smartphone pada diri kita. Dengan handphone di tangan, kita bisa memilih bersikap tak acuh terhadap tubuh. Kehadiran tubuh lain bisa dianggap ‘cuma’ bayang-bayang. Mungkin itu pulalah sebabnya mengapa orang nekat mengirimkan pesan atau menelpon ketika ia sedang mengendarai motor (mobil). Pertama-tama ia mengabaikan tubuhnya, sebelum juga mengabaikan tubuh orang lain yang rentan untuk dibunuh oleh karena pilihannya itu.

Tubuh dalam Dunia Digital

Kita mengetahui dan melibatkan diri dalam dunia lewat tubuh. Kita bisa memeluk atau memukul dengan tubuh. Kita merasakan nyamannya dipeluk dan perihnya ditinju, juga melalui tubuh. Manusia selalu berada dalam dunia dengan tubuhnya. Dan kita tidak bisa mengartikannya sebagai seorang pengamat yang mengintip dari jauh, dan terpisah dari tubuh. Hanya melalui tubuh, kita bisa mengetahui kata-kata kangen punya makna lebih dari sekadar huruf atau sebatas audio.

Ketika kita hadir sebagai tubuh di hadapan orang lain, kita menjadi terbuka dan rentan menerima resiko. Kita bisa dicintai atau dibenci, diabaikan atau diacuhkan. Karena itu, kita berupaya membangun rasa percaya bahwa orang lain yang ada dihadapan kita tidak akan menyakiti diri kita. Kita memberikan sentuhan dengan berjabat tangan, mengarahkan pandang, atau mendengarkan dan bicara. Semuanya itu merupakan negosiasi yang bisa melahirkan rasa percaya.

Tapi, dalam dunia maya kita kehilangan kemungkinan itu. Tubuh kita tidak memiliki risiko. Kata Hubert Dreyfus dalam ulasannya yang berjudul On The Internet, kita kehilangan cengkeraman terbaik di sana. Kita kehilangan kemungkinan untuk mendapatkan cengkraman paling optimal yang bisa kita rasakan ketika bersentuhan dengan sesuatu atau seseorang. Kita tidak bisa merasakan lengan yang memeluk, nikmatnya berjabat tangan, suara seseorang yang masuk ke gendang telinga tanpa bantuan medium digital. Kita bisa melihat mata seseorang. Kita bisa melihat keaslian seseorang.

Mungkin karena itu, kita susah membangun kepercayaan lewat dunia digital, sebab kita kehilangan kerentanan dan resiko terhadap tubuh. Orang bisa begitu leluasa mengatakan benci di sana, mengajak orang yang tidak dikenal untuk berkembang biak. Ia tidak perlu merasa takut bahwa tubuh fisiknya akan terancam oleh karena kehadiran orang lain. Bahaya tiba, ketika UU ITE membawanya ke kantor polisi. Kata-kata yang garang itu mendadak berubah jadi tikus basah.

Mengingkari Tubuh

Saya memulai bualan ini dengan gambaran tentang orang-orang yang berbeda ketika di dunia maya dan saat berhadapan muka. Di dunia digital, orang bisa menjadi pribadi paling ramah dan romantis serta banyak bicara, tetapi ketika berhadapan muka berubah menjadi manusia paling introvert. Smartphone membantu kita menghubungi manusia lain, tetapi benda yang sama juga menuntun kita melupakan yang lain.

Rasul Yohanes mengakhiri suratnya dengan sebuah kutipan yang kiranya juga relevan untuk kita yang hidup di era digital, di mana jari lebih fasih dari lidah untuk bicara. “Sungguhpun banyak yang harus kutulis kepadamu, aku tidak mau melakukannya dengan kertas dan tinta, tetapi aku berharap datang sendiri kepadamu dan berbicara berhadapan muka dengan kamu, supaya sempurnalah sukacita kita.” Kata-kata Yohanes itu adalah segalanya. Ia pasti akan meninggalkan gadgetnya di rumah, ketika memutuskan bertemu jemaat di era ini. Yohanes menggunakan teknologi untuk berkomunikasi, tetapi dia pun menyadari bahwa surat yang ditulisnya hanya bagian dari komunikasi. Surat hanyalah sebuah jalan antisipasi, bahwa perjumpaan dari ‘muka ke muka’ akan lekas menyusul. Di sana sukacita jadi penuh.

Manusia adalah makluk yang holistik, kata Dogulas Groothuis, seorang professor filsafat di Denver University. Ia memiliki perasaan, pikiran, imajinasi, dan tubuh. Ketika manusia memisahkan bagian tertentu dari keutuhan dirinya, kesalahapahaman selalu mungkin terjadi. Ketika lengan, mata, telinga, dilepaskan dari sebuah perjumpaan, ketegangan dan kesalahpahaman bakal tumbuh. Ia menafsirkan kepenuhan sukacita dalam surat Paulus, sebagai suatu kenyataan yang bisa muncul dari interaksi dua pribadi atau lebih dimana suara, sentuhan, kehadiran dan waktu menjadi sangat penting. Barangkali ketika waktunya bertemu, orang hanya bisa menggunakannya untuk hening, atau menangis dan tertawa bersama. Tapi itu sudah cukup, sebab kehadiran itu tidak pernah menepikan tubuh.

Kangen atau cinta kita tidak sebatas tweet atau pesan teks. Kasih memerlukan laku yang utuh dan kehadiran fisik yang nyata. Kalau akhirnya seseorang mengatakan kangen pada Anda melalui media sosial, jangan lekas percaya. Bisa saja jarinya mengetik lima huruf tersebut, sedang mulutnya penuh dengan anggur yang bikin ia mabuk dan lihai berbasa-basi. Anda baru akan benar-benar mengenal kangennya itu ketika mata kalian bertemu, dan lengan kalian bersentuhan. Saat kalian hening kehilangan tema pembicaraan. Saat Anda mendengar suaranya.


Iwan Jemadi adalah seorang mahasiwa magister sebuah universitas di Jakarta, blogger yang pernah menjadi editor di sebuah perusahan penerbit buku. Ia aktif mengelola blog pribadinya, Iwanjemadi.com. Silahkan mengunjungi blog tersebut untuk membaca tulisan lain dari Iwan.