Timor-Leste Mengenang 30 Tahun Kunjungan Bersejarah Paus Yohanes Paulus II

Paus St Yohanes Paulus II merayakan Misa Kudus di lapangan terbuka Tasitolu, Dili pada 12 Oktober 1989.

Umat Katolik di Timor Leste melakukan prosesi menuju lapangan terbuka Tasitolu, Dili, tempat Paus St Yohanes Paulus II merayakan Misa pada tahun 1989 saat melakukan kunjungan bersejarah ketika negara itu masih di bawah kekuasaan Indonesia. (Foto: Uca.news)

Katoliknews.com – Lebih dari 5.000 umat Katolik Timor Leste berkumpul di Dili pada hari Rabu, 30 Oktober 2019 untuk memperingati kunjungan pastoral Paus St Yohanes Paulus II ke negara itu pada tahun 1989.

Uskup Agung Dili, Mgr Virgilio do Carmo da Silva memimpin Misa konselebrasi yang digelar di lapangan terbuka di Tasitolu, didampingi beberapa uskup lainnya. Perwakilan Gereja Katolik Indonesia dan Australia juga berpartisipasi dalam acara itu.

Uskup Maliana, Mgr Norberto do Amaral meminta umat di negara dengan populasi Katolik terbanyak di Asia itu untuk setia kepada Kristus, seperti yang ditunjukkan oleh Paus St. Yohanes Paulus II yang mencium tanah di negara itu ketika dia menginjakkan kakinya 30 tahun yang lalu, saat negara itu masih menjadi bagian dari Indonesia.

“Itulah saat ketika dunia mulai mengenal perjuangan rakyat Timor untuk kemerdekaan,” kata Uskup do Amaral seperti dilansir Uca.news.

“Bapa Suci sangat mencintai negeri ini dan sebagai umat Katolik, kita juga harus bekerja demi transformasi, solidaritas, dan perdamaian sebagai anak-anak Allah,” kata uskup itu.

Menjadi daerah jajahan Portugis sejak abad ke-16, Timor-Leste mendeklarasikan kemerdekaan ketika Portugis meninggalkan negara itu pada 28 November 1975. Namun, Indonesia melakukan invansi pada 17 Juli tahun berikutnya. Gerakan perlawanan yang berlangsung selama 24 tahun membawa Timor-Leste menuju kemerdekaan pada tanggal 20 Mei 2002 setelah referendum yang didukung oleh PBB tahun 1999.

Pemuda, wajah masa depan bangsa dan Gereja

Di antara mereka yang berpartisipasi dalam Misa pada Rabu adalah ratusan anak-anak dari paroki di seluruh negara itu.

Uskup Agung Da Silva menghargai partisipasi anak-anak dan  mengatakan bahwa Timor-Leste sebagai negara mayoritas Katolik harus menjadi model bagi semua orang dan Gereja dengan mengandalkan orang-orang muda.

Dia mengatakan bahwa pesan Paus St. Yohanes Paulus II juga dimaksudkan untuk mengundang kaum muda agar membawa Kabar Baik ke tengah masyarakat.

“Siapa pun yang dibaptis, termasuk anak-anak, wajib untuk berpartisipasi dalam misi Kristus, dimulai dengan hal-hal sederhana di rumah, menghormati orang tua, dan tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani,” kata Uskup Agung Da Silva.

“Gereja membutuhkanmu, paroki tempatmu berada membutuhkanmu,” kata uskup agung itu.

Dia mengatakan, Paus St. Yohanes Paulus II ingin rakyat Timor-Leste “menjadi lilin kecil dalam keluarga sendiri dan menghindari kekerasan dalam rumah tangga.”

Pastor Mouzinho Pereira Lopes, direktur Serikat Misi Misi Kepausan di Timor-Leste mengatakan anak-anak dan remaja akan menjadi wajah Kristus di tahun-tahun mendatang.

“Jadi, kita harus membuat mereka sadar bahwa mereka adalah garam dan terang, sama seperti ketika Yohanes Paulus II meminta orang Timor untuk menjadi garam dan terang bagi dunia,” katanya.

Pemerintah berterima kasih kepada Gereja

Dalam pidatonya setelah Misa, Presiden Francisco Guterres menyatakan terima kasih kepada Gereja Katolik atas kontribusinya selama perjuangan menuju kemerdekaan.

“Kunjungan Bapa Suci Yohanes Paulus II 30 tahun yang lalu adalah cara di mana dia ingin mendengarkan langsung tangisan dan perjuangan rakyat,” kata Guterres.

Dia mencatat bahwa demonstrasi orang-orang muda setelah Misa kala itu menjadi sesuatu yang signifikan, meski penjagaan ketata diberlakukan tentara Indonesia.

Presiden mengatakan pemerintah telah mendirikan monumen Paus St. Yohanes Paulus II di Bukit Tasitolu sebagai simbol harapan bagi rakyat Timor-Leste.

Patung St Yohanes Paulus II di Bukit Tasitolu, Dili. (Foto: Ist)

Dia mengatakan 17 tahun setelah kemerdekaan, rakyat Timor-Leste harus memperkuat nilai-nilai Kristiani seperti solidaritas dan persaudaraan untuk menghilangkan kemiskinan.

“Tidak seorang pun boleh diabaikan, tetapi saling mendorong satu sama lain sebagai satu negara, Timor-Leste,” kata Guterres.