Peter Tabichi: Guru Fransiskan yang Menggugah Dunia

Dalam foto ini, Bruder Peter Tabichi sedang berbicara kepada media setelah ia disambut oleh murid di sekolahnya di Bandara di Nairobi, Kenya, usai ia menerima penghargaan sebagai guru terbaik sedunia pada Maret 2019. Pada 24 Oktober, ia kembali mendapat penghargaan, di mana ia dinobatkan sebagai "Person of the Year" oleh PBB di Kenya. (Foto: AP/Khalil Senosi)

Katoliknews.comPeter Mokaya Tabichi (37), seorang bruder Fransiskan yang mengajar matematika dan fisika di pedalaman Kenya dinobatkan sebagai “Person of the Year” oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Kenya, sebuah gelar prestisius kedua yang diperolehnya dalam tahun ini.

Bruder itu yang mengajar di Sekolah Menengah Keriko, dekat Nakuru mendapat pengakuan atas karyanya dalam mempromosikan pendidikan untuk semua orang muda.

Ia menerima penghargaan itu saat perayaan Hari PBB di Nairobi pada 24 Oktober.

Bruder Peter menolak untuk menerima semua uang penghargaan itu, sebagaimana ia katakan dalam wawancara dengan Catholic News Service.

Ia mengatakan, lebih memilih untuk membagikannya dengan yang lain.

“Saya merasa malu untuk menggambarkannya sebagai milik Bruder Tabichi atau milik Gereja Katolik, tempat saya bernaung,” katanya, sambil menekankankan bahwa uang itu akan dialokasikan untuk sesama guru, siswa dan masyarakat setempat.

Berbicara dalam pertemuan saat mendapat penghargaan itu, Peter mengatakan sekitar 6 juta anak perempuan usia sekolah di seluruh dunia – mayoritas dari mereka ada di Afrika – tidak memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan.

Bruder Peter Tabichi usai menerima penghargaan di markas besar PBB di Nairobi, Kenya 24 Oktober 2019. (Foto: PBB di Kenya)

“Pada saat yang sama, 72 juta anak dalam bahaya kehilangan pendidikan di Afrika karena perang, banjir dan tantangan lainnya,” katanya.

Mengenyam pendidikan, katanya, seharusnya tidak terkait soal faktor keberuntungan, tetapi menjadi hak setiap orang.

Ia menjelaskan, pendidikan harus bisa membuat setiap orang mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan sehingga siap untuk terjun ke dalam masyarakat.

Bruder itu mendorong hadirin untuk mengambil langkah apa pun yang mungkin, kecil atau besar, untuk memengaruhi kehidupan orang lain di sekitar.

Setiap orang, kata dia, tidak harus memegang posisi tinggi di masyarakat untuk melakukan perubahan.

“Mulailah dengan melakukan hal-hal biasa dan milikilah dedikasi, kemurahan hati dan antusiasme dalam apapun yang kalian kerjakan. Jika kalian yakin itu bisa terjadi, maka itu akan terjadi,” katanya.

Penghargaan itu merupakan yang kedua yang diterima Bruder Peter tahun ini. Pada bulan Maret, ia menerima penghargaan sebagai guru terbaik sedunia dari Varkey Foundation yang berbasis di London, di mana ia mendapat hadiah 1 juta dolar atau setara 14 miliar rupiah.

Peter adalah orang Afrika pertama yang memenangkan penghargaan itu, yang dipilih dari antara 10.000 nominasi dari 17 negara, demikian menurut Varkey Foundation.

Di tengah sejumlah keterbatasan yang ada di sekolahnya, yang kelebihan murid dan buku teks seadanya, Peter disebut bertekad agar anak-anak muridnya melihat bahwa “sains adalah jalan” menuju masa depan mereka.

Setiap kelas sejatinya diisi 35 sampai 40 murid. Nyatanya, di sekolahnya, satu kelas berisi 70 hingga 80 siswa dan banyak dari mereka harus berjalan lebih dari enam kilometer untuk mencapai sekolah.

Tidak stabilnya koneksi internet di daerah sekolah membuat Bruder Peter harus pergi ke warung internet untuk memperkaya materi yang akan dia ajarkan.

Bagaimanapun, Bruder Peter menegaskan dirinya berkomitmen untuk memberi kesempatan kepada murid-muridnya untuk belajar sains dan mengembangkan pandangan mereka. Terbukti sejumlah muridnya berhasil menjuarai kompetisi sains di dalam dan luar negeri, termasuk penghargaan dari Royal Society of Chemistry di Inggris.

Peter mengatakan kepada CNS bahwa dia berencana menggunakan sebagian hadiah uang tunai untuk menunjang teknologi di sekolah, menambah fasilitas fisik dan mendukung masyarakat setempat di Nakuru.

“Terus terang, ada banyak tantangan, tetapi kami akan melangkah dengan penuh percaya diri dan mudah-mudahan bisa mengatasinya, semua atas nama upaya membuat perubahan,” katanya.

“Sebagai sekolah di daerah, sekolah saya serta siswa sangat membutuhkan,” tambahnya. “Saya berencana untuk mengalokasikan sebagian uang ke daerah-daerah yang juga membutuhkan.”

Selain mendapat penghargaan, Peter diundang ke Gedung Putih oleh Presiden Donald Trump pada bulan Maret dan berpidato di Sidang Majelis Umum PBB di New York pada bulan Oktober.

Bruder Peter Tabichi bertemu dengan Presiden Donal Trump di Gedung Putih pada September. (Foto: Ist)

Tabichi merupakan anggota ordo ketiga reguler Fransiskan yang disebut Franciscan Brothers – Mountbellew, dengan gelar religiusnya OSF. Ia mengikrarkan kaul kekal pada September tahun lalu.

Dikutip dari website resminya, ordo ini berpusat di Mountbellew, Irlandia, di mana mayoritas karyanya adalah di bidang pendidikan dan pertanian berkelanjutan di Kenya, Uganda, Irlandia dan California.

Pemimpin umumnya, Tony Dolan OSF saat menyampaikan apresiasi atas prestasi Tabichi mengatakan berterima kasih kepada semua yang telah mendukung anggotanya itu.

Ia juga berharap agar prestasi Bruder Peter “akan memotivasi dan mendorong para guru di sekolah-sekolah yang melayani kaum terpinggirkan untuk bekerja dengan semangat dan profesionalisme, demi menyediakan lingkungan belajar yang memungkinkan semua anak mengembangkan bakat mereka dan kemudian bisa mendapat pekerjaan serta merengkuh hidup yang bahagia, damai dan penuh cinta.”

Ia menyebut, penghargaan atas Bruder Peter yang bekerja di sebuah sekolah pemerintah di daerah miskin di Afrika dengan keterbatasan sumber daya “memberikan harapan kepada semua orang yang memiliki visi menggapai dunia yang adil di mana setiap orang memiliki kesempatan untuk hidup bermartabat.”