Imam Sebagai Pelayan, Apa Maknanya?

Peran sebagai imam bukan semacam status sosial lebih tinggi yang meminta perlakuan istimewa orang lain. (Foto: Ist)

Oleh: Andre Atawolo OFM

Gereja Katolik meyakini bahwa melalui pelayanan imamat para imam, Kristus sendiri hadir dan bertindak dalam Gereja,  mempersatukan kaum beriman dengan pengorbanan diri-Nya. Tugas pelayanan para imam tidak memiliki tujuan lain kecuali mengabdi kepada imamat Kristus dan kaum beriman.

Albert Vanhoye, dalam Kristus Imam Kita Menurut Surat Kepada Orang Ibrani (Vanhoye, 1987), merefleksikan bahwa Yesus sendirilah yang paling pantas disebut imam besar. Hanya Yesus sendiri yang pantas diterima oleh Allah di hadirat-Nya; tetapi sekaligus yang dapat bersolidaritas secara sempurna dengan manusia, dengan menjadikan dirinya saudara, bahkan rela mati di kayu salib bagi manusia. Para imam dipanggil secara istimewa untuk mempersatukan diri dengan pengorbanan Kristus dengan mencontoh solidaritas Kristus sendiri.

Sebuah Panggilan

Menjadi imam pertama-tama adalah sebuah panggilan, panggilan Tuhan yang dijalankan pribadi manusia. Tujuan dasar panggilan itu ialah membentuk seseorang menjadi diri yang utuh dan dewasa, yang mampu melihat realitas dirinya secara matang. Dari pihak manusia imamat bukanlah hal yang dicapai atas prakarsanya melainkan hadiah Allah.

Dari dirinya sendiri manusia tidak layak, namun rahmat Allah mengangkatnya. “Dan tidak seorangpun yang mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri, tetapi dipanggil untuk itu oleh Allah, seperti yang telah terjadi dengan Harun.” (Ibr. 5: 4). Sama halnya dengan Kristus: “Demikian pula Kristus tidak memuliakan diri-Nya sendiri dengan menjadi Imam Besar, tetapi dimuliakan oleh Dia yang berfirman kepada-Nya: ‘Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini; sebagaimana firman-Nya dalam suatu nas lain: ‘Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek” (Ibr. 5:5-6).

Sebagai sebuah panggilan, imamat itu, menurut saya, menggembirakan. Di satu pihak seorang imam adalah “manusia rapuh”, namun di lain pihak ia terpanggil untuk mewartakan “Kabar Gembira.” Dalam kerapuhannya sebagai manusia seorang imam diberi kepercayaan untuk memberi kesaksikan bahwa di tengah daya tarik dunia ini manusia dapat mengupayakan sebuah cara hidup yang digerakkan oleh pengaruh kehendak Allah saja.

Seorang imam menemukan kepenuhan jati dirinya dalam Kristus Imam Agung perjanjian baru dan kekal. Demikianlah acuan kepada Kristus merupakan kunci yang mutlak perlu untuk memahami kenyataan imamat. Dalam 2Kor 4: 6-10, Santo Paulus menganalogikan tugas pelayanannya sebagai rasul dengan harta milik yang tersimpan dalam bejana tanah liat. Bejana yang rapuh itu menunjukkan bahwa Allah sendirilah yang menjadikan ia kuat dan gembira dalam pelayanannya. “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” (4: 7).

Dengan meletakkan kekuatannya pada Yesus sendiri, Paulus yakin mampu menghadapi penindasan, rasa putus asa, kesendirian, bahkan maut. Pengalaman dan harapan akan harta melimpah dari Allah meneguhkan Paulus untuk memaknai penderitaan selama di dunia (bdk. ay 8 dst.)

Pemimpin yang Melayani

Peran sebagai imam bukan semacam status sosial lebih tinggi yang meminta perlakuan istimewa orang lain. Budaya feodalisme seperti di Indonesia ini, sering kali mengkondisikan pengkultisan imam atau religius pada umumnya. Kenyataan itu diperkuat oleh sikap imam tertentu yang justru menuntut perlakuan istimewa, yang tidak mau berkotor tangan, dan rubricise dalam hal atau urusan rituas. Seorang imam pernah bercerita kepada saya bahwa ketika ia masih studi di Eropa, siapapun harus bekerja tangan, termasuk membersihkan toilet. Imam tersebut mengeluh: “Ah…saya tidak mau diperlakukan seperti itu karena tangan saya sudah diurapi.” Saya sangat heran dan bingung mendengar pernyataan imam itu.

“Pemimpin” dan “pelayan” merupakan dua kata yang cukup berbeda makna. Mana mungkin tuan sekaligus hamba, atau majikan sekaligus budak? Kepemimpinan yang hendaknya mendasari pelayanan para imam ialah model “kepemimpinan pelayan.” Dalam paradigma ini pemimpin digerakkan oleh semangat mengabdi. Anggota-anggota menjadi majikannya. Paradoks ini merupakan tantangan bagi pelayanan para imam zaman ini.

Peran para imam sebagai pemimpin bertolak dari model kepemimpinan Yesus sendiri. Anthony A  D’Souza, dalam Leaders for Today Hope for Tomorrow (D’Souza, 2001) menjelaskan tiga dimensi utama kepemimpinan Injili. Pertama sebagai pelayan (melayani, mendukung dan memberdayakan). Yesus sendiri menegaskan bahwa Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mrk. 10: 45).

Kedua, sebagai gembala (memelihara, meneguhkan, menuntun). Sebagai gembala yang baik Yesus mengenal domba-domba-Nya, menuntun mereka, bahkan mengorbankan nyawa-Nya bagi mereka (bdk. Yoh 10: 11-14). Ketiga, sebagai pengurus (terpercaya, bertanggung jawab, dapat diandalkan). Seorang pengurus rumah yang baik menantikan kedatangan tuannya dengan setia, siap melayani tuannya, berjaga-jaga, sehingga layak diberi kepercayaan yang lebih besar (bdk. Luk. 12: 42-44).

Injil mengingatkan bahwa kepemimpinan seorang imam bukan jabatan “atasan” melainkan “pelayan” (minister). Sebagai minister mereka hendaknya melayani umat dengan model pelayanan Yesus sendiri.  “Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Mat 20: 28). Santo Fransiskus dari Assisi, misalnya, dalam Petuahnya, mewariskan nasehat ini kepada para pengikutnya: “Mereka yang ditetapkan sebagai atasan bagi yang lain, tidak boleh lebih berbangga atas tugas pimpinan itu daripada kalau mereka diberi tugas membasuh kaki saudara-saudara. Semakin mereka lebih gelisah karena kehilangan tugas pimpinan daripada karena kehilangan tugas mencuci kaki, semakin mereka mengumpulkan bagi dirinya kekayaan yang membahayakan jiwa” (Pth. IV: 2-3).

Salib: Radikalitas Pelayanan

Para murid Yesus yang selalu berada bersama-Nya bahkan belum dapat menyelami visi pelayanan Yesus. Mereka ingin menjadi terbesar dan terkemuka. Yesus tidak menghalangi mereka untuk menjadi orang yang terkemuka dan terbesar. Namun cara untuk mencapainya bukan dengan minta dilayani, melainkan dengan melayani.

Para muridpun perlu belajar mengerti bahwa Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawanya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mrk. 10: 45). Dengan sabda dan teladan hidup-Nya Yesus membalikkan orientasi yang dimiliki para murid-Nya. Para murid disadarkan untuk memikirkan bentuk pelayanan kepada sesama, dan bukan bagaimana mendapat peran terhormat. Itulah resiko kemuridan yang harus mereka terima.

Bentuk pelayanan para imam hendaknya bertolak dari pesan Yesus ini: “Bukan orang yang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mrk. 2: 17). Para imam dalam tugas pelayanannya hendaknya mendahulukan orang-orang yang betul-betul memerlukan, yang lemah dan tak berdaya. Yesus sendiri memang datang untuk orang yang paling lemah.

Radikalitas kasih dan pelayanan Yesus  itu nyata dalam segala perkataaan dan tindaknnya, dan menjadi lebih kuat dalam peristiwa salib. Di salib, hati Yesus, Imam Agung kita, menggerakkan rentangan tangan-Nya untuk merangkul manusia. Di salib Yesus tampil sebagai pemimpin tanpa nafsu kuasa dan manipulasi. Sikap Yesus itu tentu merupakan model utama kepemimpinan bagi para imam. Pada salib nyatalah bahwa sebagai pemimpin Yesus tidak menuntut sesuatu kembali kepada diri-Nya, melainkan memberikan diri secara utuh dan cuma-cuma bagi manusia.

Salib menampilkan bahwa wahyu ilahi merupakan gerak turun Allah menuju kemiskinan (bending down); dan justru di sinilah letak keagungan Imamat Yesus Kristus. Begitu sederhana dan rendahnya cara Allah menyingkapkan diri, sehingga ketika Ia datang kepada pemilik-Nya, Ia tidak dikenal, bahkan ditolak (bdk. Yoh. 1: 10). Kiranya krendahan hati Kristus menjiwai para imam, sehingga, bersama Santo Paulus mereka pantas memberi kesaksian bahwa Kristuslah yang sungguh hidup dalam dirinya, bukan dari dirinya semata-mata.

Artikel ini sebelumnya dimuat di Andreatawolo.id, blog milik RP Andre Atawolo OFM. Silahkan membaca tulisan lain dari pengajar teologi dogmatik di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini dengan mengklik di sini!