Kardinal Suharyo: Membarui Gereja Tanggung Jawab Sejarah Para Fransiskan

Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Ignatius Kardinal Suharyo. (Foto: Katoliknews.com)

Katoliknews.comKetua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Ignatius Kardinal Suharyo mengingatkan para Fransiskan untuk tetap menghadirkan spirit pembaruan dalam hidup menggereja, hal yang ia sebut sebagai sebuah tanggung jawab sejarah.

Ia mengatakan, St Fransiskus Assisi, pendiri Tarekat Fransiskan adalah “sosok pembaru yang unggul dalam gereja” dan para pengikutnya mesti meneruskan hal itu.

Berbicara dalam homili saat Misa peringatan 90 tahun kehadiran Fransiskan di bumi nusantara, kata dia, mereka harus “menjadi pembaru di dalam gereja, di keuskupan, di paroki, di mana pun diutus untuk melayani.”

Misa syukur itu digelar pada Minggu, 17 November 2019 di Gereja Hati Kudus Kramat, Jakarta Pusat, salah satu paroki yang dilayani para Fransiskan, di mana ratusan umat dan puluhan Fransiskan ikut hadir.

Suharyo menjadi seleberan utama, didampingi enam uskup lainnya – empat di antaranya adalah uskup OFM – Uskup Bogor, Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM; Uskup Emeritus, Mgr Mikael Angkur OFM; Uskup Jayapura; Mgr Leo Laba Ladjar OFM dan Uskup Pangkalpinang Mgr Adrianus Sunarko OFM – dan dua lainnya uskup yang di wilayahnya menjadi tempat karya para Fransiskan, Uskup Agung Ende, Mgr Vincensius Sensi Potokota dan Uskup Banjarmasin, Mgr Petrus Bodeng Timang.

Kardinal Suharyo menyatakan, pembaruan terus-menerus dibutuhkan dalam Gereja.

Karena itu, jelasnya, Paus Fransiskus, yang meskipun merupakan seorang Jesuit, memilih St Fransiskus Assisi sebagai namanya saat menjadi paus.

“Ia juga tidak memilih sesama Jesuit yaitu St Fransiskus Xaverius,” kata Suharyo. “Karena apa? Karena Paus Fransiskus ingin betul-betul Gereja terus diperbarui, sebagaimana yang dilakukan St Fransiskus Assisi,” katanya.

Ia pun mengingatkan bahwa, dalam konteks pembaruan Gereja itu, gambaran Gereja yang perlu dihadirkan di tengah dunia saat ini adalah gambaran Gereja yang betul-betul menunjukkan solidaritas bagi mereka yang terpinggirkan.

Mengutip Paus Fransiskus, ia menekankan bahwa Gereja perlu tampil sebagai “gereja yang lemah, terluka dan kotor karena telah keluar di jalan-jalan, daripada gereja yang sakit karena menutup diri dan nyaman dengan dirinya sendiri.”

Ia menyebut, gambaran Gereja seperti itu sebagai hal yang baru, sama sekali berbeda, yang tidak dikenal dalam dokumen-dokumen Gereja sebelumnya.

Upaya Paus Fransiskus mendeskripsikan Gereja demikian, ungkapnya, adalah bentuk penghayatannya pada komitmen agar gereja terus membarui diri, sebagaimana dicontohkan oleh St Fransiskus dari Assisi, yang pada masanya secara radikal menghadirkan cara hidup sederhana, di tengah krisis dalam kehidupan Gereja yang diwarnai kemewahan dan hilangnya perhatian pada orang-orang kecil.

Pembaruan, kata dia, dimulai dari rumusan, dari konsep.

Di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), lanjut kardinal, pembaruan itu dirumuskan dalam tiga kata kunci yang telah dihayati dalam beberapa tahun terakhir, yakni semakin beriman, semakin bersaudara, semakin berbela rasa.

Ia mengingatkan, di mana pun mereka hadir, para Fransiskan mesti senantiasa menyebarkan spirit pembaruan demikian.

“Kami semua bersyukur atas semua yang telah saudara-saudara jalankan,” katanya.

“Kita berdoa, semoga seperti St Fransiskus Assisi dan Paus Fransiskus, saudara-saudara sekalian sungguh menjadi pendorong pembaruan di dalam Gereja,” tegas Kardinal.

Para uskup bersama para Fransiskan berfoto bersama sebelum Misa peringatan HUT 90 tahun kehadiran Fransiskan di nusantara.

Sementara itu, dalam sambutannya, Pastor Mikael Peruhe OFM, Provinsial OFM Provinsi St Mikael Malaikat Agung Indonesia mengatakan bersyukur kepada Tuhan atas penyertaan terhadap semua saudara dina selama ini.

“Saudara dina selama ini berkarya dalam bidang karya paroki, panti asuhan, bidang jurnalistik dan pendidikan, kerasulan Kitab Suci, bidang keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan, ekopastoral, pendidikan calon imam, rumah sakit dan pelayanan untuk orang-orang meninggal,” katanya dalam sambutan yang dibacakan oleh Pastor Daniel Klau Nahak OFM, Wakil Provinsial.

“Melalui karya-karya itu, para Fransiskan ingin terlibat secara aktif membawa keharmonisan dan persaudaraan kepada bangsa dalam pintu kebhinekaan sebagaimana diwariskan oleh St. Fransiskus Assisi,” lanjut Pastor Mikael, yang tidak bisa hadir dalam Misa itu karena sedang berada di kampung halamannya di Lembata, menjenguk ibunya yang sakit.

Ia menyatakan, membutuhkan dukungan semua orang agar para Fransiskan “semakin sungguh-sungguh dalam menjalani tugas-tugas, dalam hidup yang penuh persaudaraan.”

Para Fransiskan pertama kali hadir di bumi nusantara pada tahun 1929. Mereka adalah para misionaris asal Belanda.

Kini mereka berkarya di sejumlah wilayah di Indonesia, terutama Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur dan Papua.

Provinsi St Mikael Malaikat Agung Indonesia sebelumnya mencakup wilayah Papua dan Timor Leste. Pada 2017, Papua membentuk provinsi sendiri dengan nama Provinsi St Fransiskus Duta Damai Papua.