‘Ramah, Tegas, Bertanggung Jawab’: Kesan Rekan Uskup tentang Mgr Situmorang

Bagi rekan-rekannya sesama uskup, Mgr Martinus Dogma Situmorang OFMCap adala sosok yang tegas, ceria dan bertanggung jawab dengan tugas-tugasnya. (Foto: Ist)

Katoliknews.com – Seorang sosok yang ramah, tegas dan bertanggung jawab, tiga kata kunci itu amat dominan dalam komentar para uskup tentang rekan mereka Mgr Martinus Dogma Situmorang OFMCap yang telah meninggal dunia pada Selasa, 19 November 2019 dalam usia 73 tahun.

Uskup Padang itu menghembuskan nafas terakhir dua pekan setelah ia dirawat intensif, pasca sakit kanker hatinya kambuh ketika ia sedang mengikuti sidang tahunan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) di Bandung 4-14 November.

Di mata rekan-rekan uskupnya, Mgr Situmorang dianggap telah meninggalkan warisan istimewa, tidak hanya bagi Keuskupan Padang yang telah digembalakannya selama 36 tahun, tetapi juga bagi seluruh Gereja Katolik Indonesia, di mana ia pernah menjadi Ketua KWI selama dua periode, 2006-2012.

Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo, yang juga penerus Mgr Situmorang OFM dalam kepemimpinan di KWI menyatakan kekaguman pada sosok almarhum, yang setia dengan tugas-tugasnya hingga akhir.

Salah satunya, jelas dia, bagaimana ia“dalam kondisi kesehatan yang kurang baik menyempatkan diri hadir ”dalam sidang KWI di Bandung, “bahkan sempat memimpin sidang.”

Pada 5 November, sehari sebelum dibawah ke Rumah Sakit St. Carolus Borromeus Bandung, Jawa Barat, Mgr Situmorang memang menjadi pemimpin dalam satu sesi rapat.

“Itulah beliau, selalu ingin hadir bersama sahabat dan umat, melaksanakan tugas sampai tuntas,” kata Suharyo.

Dalam komentarnya yang dipublikasi di situs Mirifica.net, ia juga menyinggung kesan seorang tokoh muda Muslim tentang mendiang Mgr Situmorang.

“Beliau sangat bijaksana dan mengayomi yang muda. Bukan hanya umat Katolik, saya juga merasa kehilangan,” kata pemuda itu, yang diulang Suharyo.

Sementara itu, di mata Uskup Malang, Mgr Henricus Pidyarto Gunawan O.Carm, rekannya itu adalah “sosok yang ramah, penuh perhatian kepada orang lain dan suka bersahabat.”

“Ia juga adalah sosok pemimpin yang cerdas dan tegas. Kita kehilangan seorang gembala yang baik,” katanya.

Karena sejumlah keutamaan demikian yang sangat kental selama hidupnya, ia meyakini almarhum berbahagia di surga.

“Ia sudah siap bertemu Yesus, Sang Gembala Agung,” katanya.

Uskup Manokwari-Sorong, Mgr Hilarion Datus Lega Pr yang sejak 1994 bekerja di KWI sebelum ditunjuk menjadi uskup pada 2003 dan lama bekerja sama dengan Mgr Situmorang menyebutnya sebagai “orang yang selalu bertanggung jawab dengan semua tugas yang diberikan oleh KWI.”

“Gereja Katolik kehilangan tokoh dan sejawat luar biasa,” kata Mgr Datus.

Senada dengan rekan-rekan uskup lainnya, Uskup Tanjung Selor, Mgr Paulinus Yan Olla MSF menyebutnya sebagai sosok yang selalu ceria.

“Keceriaan dan kemampuannya menyimpan penderitaan di dalam batin muncul dalam sidang KWI, menjelang kepergiannya,” kata Mgr Olla, yang sudah mengenal Mgr Situmorang ketika dirinya masih bertugas di Roma sekitar tahun 2000-an.

Menurutnya, selama sakit, mendiang Mgr Situmorang jarang berbagai penderitaannya dengan orang lain. Ia justru selalu ceria.

Menyebut rekannya sebagai “gembala yang baik” Uskup Amboina, Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC menyebut Mgr Situmorang “menjadi teladan bagi para imam dan umat.”

Ia menyatakan, meski ditunjuk sebagai uskup saat usia muda, 37 tahun, di mana kemudian ia tercatat sebagai uskup paling muda di Indonesia yang diangkat Tahta Suci, “namun ia dengan sangat hebat tampil sebagai uskup.”

“Beliau sangat ramah dengan semua orang dan khususnya di antara para uskup, beliau hadir sebagai sahabat yang hangat,” katanya kepada Katoliknews.com.

Sementara bagi Uskup Agung Ende, Mgr Vincentius Sensi Potokota Pr, Mgr Situmorang adalah sosok kakak dan rekan yang mengajarinya banyak hal.

“KWI kehilangan sosok uskup inspirator yang brilian, analitis, kritis, optimis, komunikatif, humoris dan ceria,” katanya.

Uskup Ketapang, Mgr Pius Riana Prabdi menyebut yang selalu ia ingat dari almarhum adalah kehangatannya.

“Ia selalu membuat pertemuan para uskup menjadi segar,” kata Ketua Komisi Kepemudaan KWI ini.

Sebagai sesama Fransiskan, Uskup Bogor, Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM menyebut almarhum sebagai “seorang yang tegas dengan pendirian yang benar.”

“Ia juga adalah seorang uskup yang pandai membesarkan hati orang lain dan berpikir positif,” katanya.

Wakil Ketua KWI ini juga menyebut Mgr Situmorang menjalankan dengan baik semangatnya sebagai pengikut St. Fransiskus dari Assisi.

“Dia amat mudah bergaul akrab dengan semua orang. Semua orang diterimanya sebagai saudara,” katanya.

“Sebagai uskup yang sudah cukup lama menggembalakan umat di Padang, ia juga menjadi teladan kesetiaan bagi saya,” tambahnya.

Uskup Agung Semarang, Mgr Robertus Rubiyatmoko Pr mengatakan, Mgr Situmorang adalah pribadi yang sangat ramah, selalu ceria dalam segala situasi kehidupan kehidupan.”

“Kami seluruh umat Keuskupan Agung Semarang berdoa semoga bapa uskup kita ini menikmati anugerah kehidupan abadi di dalam surga bersama Kristus dan para kudusnya dan selanjutnya menjadi pendoa bagi kita semua, khususnya bagi umat Keuskupan Padang,” katanya dalam sebuah video yang dipublikasi Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Semarang.

Jenazah Mgr Situmorang telah diberangkatkan dari Bandung menuju Padangpada Rabu, 20 November.

Ia akan dimakamkan pada Jumat esok, 22 November.