Paus Fransiskus mengajak anak-anak migran untuk menaiki mobilnya pada Rabu, 15 Mei 2019. (Foto: Ist)

Katoliknews.com –  Dalam laporan yang dikeluarkan Rabu, 4 Desember 2019, Organisasi Migrasi Internasional (IOM) menyatakan bahwa selama 2018, para migran di seluruh dunia mengirimkan dana yang mencapi $689 miliar atau setara Rp 9,69 triliun ke negara asal mereka.

Sesuai jumlah migrannya, negara penerima terbesar adalah India ($78,6 miliar), Cina ($67,4 miliar), Meksiko ($35,7 miliar) dan Filipina ($34 miliar).

Sementara negara asal pengiriman dana, Amerika Serikat adalah yang pertama dengan nilai $ 68 miliar, diikuti dengan Uni Emirat Arab (sebesar $ 44,4 miliar) dan Arab Saudi (36,1 miliar)

IOM mencatat  di seluruh dunia saat ini jumlah migran adalah 3,5% atau 270 juta dari 7,7 miliar total populasi dunia. Kebanyakan dari mereka berasal dari India, Meksiko dan Cina.

Sebagaimana dilansir Vaticannews.va, tujuan utama tetap Amerika Serikat, yakni hampir 51 juta, diikuti oleh Jerman (13 juta) dan Arab Saudi (13 juta).

IOM mencatat jumlah migran hanya mengalami kenaikan 0,1 persen dari tahun lalu.

“Angka ini tetap merupakan persentase yang sangat kecil dari populasi dunia, yang berarti bahwa sebagian besar orang secara global (96,5 persen) diperkirakan tinggal di negara tempat mereka dilahirkan,” demikian menurut Laporan Migrasi Global IOM 2020.

Diperkirakan 52 persen adalah migran pria dan sekitar dua pertiga migran berusaha mencari kerja. Itu berarti ada sekitar 164 juta orang yang berjuang mencari kerja.

Lebih dari 40 persen migran internasional berasal dari Asia, sekitar sekitar 112 juta jiwa.  India tetap sebagai negara asal migran internasional terbesar, dengan 17,5 juta migran yang berdiam di luar negeri, diikuti oleh Meksiko (11.8 juta) and Cina (10.7 juta).

Migrasi dalam kawasan tempat kelahiran

Meskipun sebagian besar migran bepergian ke AS, laporan itu mengukuhkan adanya koridor atau jalan migrasi penting lainnya dari negara-negara miskin ke negara-negara kaya, seperti misalnya ke Prancis, Rusia, Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.

Tetapi di Afrika, Asia dan Eropa, sebagian besar migran internasional tinggal di kawasan kelahiran mereka, sementara mayoritas migran dari Amerika Latin dan Karibia dan Amerika Utara tidak.

Untuk kategori ini, ada tiga negara teratas dengan jumlah migran terbesar, yaitu Mesir, Maroko, dan Sudan Selatan. Sementara Afrika Selatan adalah tempat teratas para imigran.

Data di Timur Tengah menunjukkan bahwa negara-negara Teluk punya sejumlah pekerja migran temporer terbesar di dunia, termasuk Uni Emirat Arab. Di sana mereka merupakan hampir 90 persen dari populasi.

Pengungsi internal

Persoalan konflik kekerasan yang sedang berlangsung di Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo (DRC), Myanmar, Sudan Selatan, Suriah dan Yaman pun masuk dalam sorotan IOM.

Temuan mereka memperlihatkan bahwa berbagai konflik menyebabkan terjadinya perpindahan internal besar-besaran dalam dua tahun terakhir.

Pusat Pemantauan Pengungsian Internal IOM mengatakan bahwa sebanyak 41,3 juta orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka pada akhir 2018. Ini rekor sejak pemantauan dimulai pada tahun 1998.

Setelah hampir sembilan tahun konflik, Suriah memiliki populasi pengungsi internal tertinggi, yaitu 6,1 juta, diikuti oleh Kolombia (5,8 juta) dan DRC (3,1 juta).

Dengan lebih dari 6 juta pengungsi, Suriah juga merupakan sumber utama pengungsi, diikuti oleh Afghanistan sekitar 2,5 juta – dari total hampir 26 juta.

Pendorong utama migrasi di benua Afrika adalah perubahan iklim. (Jacobus E. Lato)