Sr Lamberta FCJM. (Foto: Ist)

Katoliknews.com – Pengalaman kecelakaan lalu lintas saat tengah berkarya di Timor Leste ternyata menjadi hal yang membawa Sr Lamberta FCJM pada satu langkah penting dalam hidupnya.

Di tengah-tengah proses pemulihan pasca kecelakaan pada tahun lalu itu, yang membuat kakinya retak dan kemudian ‘dipulangkan’ oleh Kongregasinya ke Indonesia, ia memanfaatkan waktu untuk menulis kata demi kata tentang pengalaman hidupnya, hingga menjadi sebuah buku yang baru saja terbit awal bulan ini.

Tears Become Spring of Life: Tetesan Air Mata Jadi Mata Air Kehidupan,” demikian judul buku setebal 81 halaman itu.

Terdiri dari 15 bab, di mana setiap bab diakhiri dengan catatan refleksi, Sr Lamberta berupaya menarik pesan penting dari setiap pengalamannya, yang ia kaitkan dengan cara pandangnya terhadap campur tangan hidup dalam hidupnya hingga kini, juga peran keluarga jasmani dan sesama rekannya anggota Kongregasi Fransiscanae Filiae Sanctissimae Cordis Yesu et Maria (FCJM).

“Yang saya tulis dalam buku kecil ini adalah pengalaman hidup saya dan bagaimana kemudian saya mengambil hikmah dari semuanya itu, terutama dalam memaknai lika-liku hidup sebagai seorang suster anggota Kongregasi FCJM,” katanya kepada Katoliknews.com.

“Saya merekam pengalaman hidup sejak lahir, juga kepingan-kepingan kisah dalam hidup berkomunitas, dinamika penghayatan janji-janji suci serta pengalaman menjalankan karya di berbagai tempat, termasuk saat bermisi di luar negeri, yaitu di Afrika dan Timor Leste,” lanjutnya.

Dari berbagai kisah yang ditulisnya, ia mengatakan menemukan satu benang merah, yaitu adanya air mata yang selalu mengiringi perjalanan hidupnya, juga ketika kini ia kembali mengenang lagi pengalaman-pengalaman itu.

“Dalam konteks demikianlah, kata air mata saya tempatkan sebagai judul buku ini,” katanya.

Bagaimana kemudian tetesan air mata bisa menjadi mata air kehidupan?

Ia menyatakan, dari rangkaian pengalaman yang dikisahkan, ia sampai pada kesadaran bahwa ternyata air mata bisa menjadi sesuatu yang kemudian membawanya pada niat untuk berubah dan semakin semangat menjalani hidup.

“Semuanya tidak selesai dengan air mata. Air mata sekaligus menjadi titik awal untuk memulai sebuah komitmen yang baru,” kata Sr Lamberta.

“Saya tidak tahu persis dari sudut mana air mata bisa muncul di mata dan meleleh di pipi. Namun saya bayangkan ia seperti oase di tengah gurun, yang tersembunyi, misteri, penuh air dan menyegarkan,” lanjutnya.

Seperti para kelana yang kelelahan dalam perjalanan di gurun akan menemukan kesegaran ketika membasuh di oase, kata dia,  begitu pula hidup yang kering dan penuh kesukaran akan menemukan kekuatan dengan basuhan air mata.

“Tangisan bukan sesuatu yang buruk. Air mata bukan melulu pertanda kesedihan. Air mata adalah mata air yang keluar dari oase kehidupan. Air mata bisa menjadi sumber kekuatan yang meneguhkan ketika ia keluar dari hati yang tulus,” katanya.

Ia menjelaskan, buku ini terbit sebagai bentuk rasa syukur di usia 34 tahun hidup saya sebagai biarawati.

“Perjalanan ini tentu masih panjang. Karena itu, saya tetap mengharapkan dukungan saudari dan saudara semua bagi ziarah hidup saya selanjutnya,” katanya.

Provinsial FCJM, Sr. Theodosia Tinambunan FCJM dalam kata pengantar terhadap buku tersebut mengatakan, cerita dan sharing yang diungkapkan Sr. Lamberta sungguh bersumber dari pengalaman nyata.

“Kisah-kisah sederhana yang diungkapkannya memberikan semangat juang baginya untuk selalu maju dan mau membarui diri dalam perjalanan panggilan dan pelayanan,” tulisnya.

Ia pun menyebut judul ini tampak unik, tetapi sekaligus mendalam.

 

Provinsial FCJM, Sr. Theodosia Tinambunan FCJM: “Kisah-kisah sederhana yang diungkapkannya memberikan semangat juang baginya untuk selalu maju dan mau membarui diri dalam perjalanan panggilan dan pelayanan.”

“Kebenaran kisah air mata yang dialaminya dapat membawa orang untuk memaknai perjalanan hidup dan perjuangan masing-masing sampai pada pengalaman akan keindahan dan kemuliaan Tuhan,” katanya.

“Saya sebagai provinsial, teman dan saudari seperjuangannya dalam Kongregasi FCJM hanya bisa mengucapkan terima kasih. Kami sama-sama menata hidup sedemikian sehingga bermakna dalam setiap tugas perutusan yang kami jalani. Semoga dengan ungkapan cinta dan pengalamannya lewat buku ini, suster kami ini semakin kuat, sehat dan setia pada Sang Pencipta, Pemberi Cinta,” lanjut Sr Theodosia.

Sementara itu, Tiurlan Siboro (Op. Andres), kakak dari Sr Lamberta menyebut merasa terharu ketika membaca kisah-kisah dalam buku ini.

“Saya tidak membayangkan bahwa air mata yang dialaminya dapat ia maknai sebagai hal yang menguatkan imannya kepada Tuhan,” tulisnya.

Sebagai kakak, katanya, dia telah lama melewati pengalaman hidup bersama Sr Lamberta, khususnya semasa kecil dalam keluarga.

“Sebagai keluarga kami bangga akan dirinya. Kami semua juga sangat mendukung panggilan hidup yang ditempuhnya dari dulu hingga kini. Kami selalu mendoakannya agar selalu berjuang dan setia melayani Tuhan,” katanya.

Ia menambahkan, “kami tahu perutusan itu diberikan bukan terutama karena dia pintar, tetapi hanya karena Tuhanlah yang memilihnya.”

“Tuhan menguatkannya dalam segala tugas yang diterimanya, juga ketika ia bertugas di negara lain seperti Afrika dan Timor Leste.  Meski ada air mata, Tuhan masih setia memakainya hingga usia tua hidupnya,” tulis Tiurlan.

Lahir di Simardalihan, Kecamatan Onanrunggu, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara pada 19 November 1964, Sr. Lamberta FCJM, dengan nama lengkap Maria Lamberta Siboro adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara.

Pendidikan dasar dan menengah ditempuhnya di SD Negeri Sitamiang, Kecamatan Onanrunggu (1971-1979), lalu SMP RK Swasta Onanrunggu (1979-1982) dan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Katolik Balige Tuput (1982-1985).

Saat tamat SPG, ia memutuskan masuk Kongregasi FCJM. Masa postulat dan novisiat dijalaninya pada tahun 1985-1987, lalu mengikrarkan kaul perdana pada 20 Juni 1987. Ia pertama kali terjun ke medan karya di Tanjungbalai, Asahan pada 1987-1993. Sr. Lamberta kemudian mengikrarkan kaul kekal pada 1993.

Tahun 1993-1996 ia ditugaskan di Balige, di mana ia juga mendapat kesempatan mengikuti kursus Katekese Pastoral di Semarang, Jawa Tengah.

Dari Balige, ia diutus ke Medan dan berkarya di sana selama tiga tahun (1996-1999). Sambil mengikuti kuliah di Universitas Terbuka (UT), ia merangkap tugas sebagai Guru Agama SMP Assisi Medan dan Kepala Sekolah TK Assisi Medan.

Mulai Juli 1999 hingga Juli 2000, ia pindah ke komunitas Tebing Tinggi, sambil menyelesaikan tugas kuliahnya di UT.

Usai kuliah, pada Agustus 2000 ia berangkat ke Jerman, untuk menjalani persiapan sebelum bermisi ke Afrika.

Pada Februari 2001, ia menginjakkan kaki di Malawi, Afrika dan berkarya di sana selama 10 tahun.

Pada September 2011, ia kembali ke Indonesia dan ditugaskan kembali ke Tanjungbalai Asahan.

Lima tahun kemudian, tepatnya April 2016, ia mendapat perutusan ke Timor Leste.

Sr Lamberta FCJM di halaman sekolah TK Assisi, Pekanbaru. (Foto: Ist)

Setelah dua tahun melayani umat di negara mayoritas Katolik itu, pada Juli 2018, ia harus kembali ke Indonesia untuk menjalani perawatan lanjutan setelah mengalami kecelakaan lalu lintas yang cukup parah. Hingga Desember 2018, ia tinggal di Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya, Pematangsiantar.

Pada Januari-Juni 2019, sambil menjalani proses pemulihan, ia bertugas sementara di TK St Maria Perumnas, Pematangsiantar.

Sejak Juli hingga sekarang, ia  pindah ke Pekanbaru, di mana ia mendapat tugas rangkap sebagai Kepala Sekolah TK Assisi dan Ibu Asrama Putri St Klara dari Assisi.