Kebakaran Gereja di Mesir: Kebetulan atau Karena Perubahan Pola Operasi Teroris?

Tanggal 13 Oktober 2019 api “membakar tuntas” Gereja St. Georgius di Helwan. Sebuah gereja yang dianggap sebagai “salah satu gereja teragung dan tertua milik Gereja Koptik Orthodoks." (Foto: Diego Delso/Wikimedia Commons)

Katoliknews.com – Akhir-akhir ini, dalam kurun dua pekan, tiga gereja Kristen terbakar di Mesir. Kejadian pertama pada Minggu, 13 Oktober 2019. Kobaran api melanda sebuah Gereja Koptik penting di kawasan pinggiran Kota Kairo. Insiden itu menimbulkan kerusakan hebat. Untungnya, tidak ada korban jiwa.

Nama gereja itu, Gereja St. Georgius, yang terletak di Helwan. Gereja itu dianggap “satu dari gereja terbesar dan tertua milik Gereja Orthodoks Koptik.” Berbagai gambar dan video kebakaran mengukuhkan pernyataan Uskup Bishara bahwa “gereja itu sepenuhnya dirusak.”

“Tergesa-gesa, saya segera berlari ke gereja. Saya lihat api dengan asap tebal memenuhinya,” urai Pastor Andreas, yang sudah melayani gereja itu selama tiga dekade.

“Bangunan tua dari kayu terbakar tuntas sangat cepat. Api membakar apa saja di dalamnya sebelum petugas pemadam kebakaran tiba…Kami sangat kehilangan. Kami kehilangan bangunan bersejarah yang terbesar. Tidak bisa kami bangun lagi seperti itu,” tambahnya lagi.

Sebuah berita berbahasa Arab yang lain dari umat Koptik mencatat bahwa, “api menghancurkan warisan unik kuno bersejarah dengan arsitektur yang sangat kaya bagi turisme keagamaan Mesir. Meski tidak ada korban manusia, Paroki Helwan dan semua Gereja Koptik Mesir berduka [atas kehilangannya].


Jemaat mengadakan misa di gereja yang dibakar itu pada hari Minggu berikutnya, 20 Oktober. Seperti dijelaskan oleh seorang umat Koptik, “Bagaimanapun itu gereja kami. Kami akan terus berdoa di dalamnya.”

Tiga hari setelah kebakaran, tepatnya pada 16 Oktober 2019, insiden serupa terjadi. Api kembali membakar Gereja St. Georgius yang lain. Kali ini di Mansoura.

“Api membakar habis kapela kayu,” demikian tertulis dalam berita itu. Lima orang, dua di antaranya petugas pemadam kebakaran terluka karena kobaran api.

Para siswi yang pertama-tama berteriak mengingatkan Pastor Samuel bahwa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. Pastor yang tinggal dekat gereja itu pun bergegas keluar. Dan, dia menemukan “api besar meledak di kapel, di lantai atasnya. Api juga membakar balai pelayanan yang berada di dekatnya.”

Dua minggu setelah itu, pada Hari Jumat, 1 November 2019, satu lagi kebakaran terjadi di Gereja St. Georgius yang lain, di Shubra.

Menurut berita, “api menyala membakar dekat ruang teater gereja, di sebuah gedung yang berdekatan dengan gereja sekitar pukul 8:30 pagi. Pada saat itu, Anba Makary, Uskup Shubra Selatan, sedang memimpin Misa di lantai dasar untuk para penyandang cacat. Mereka semua dievakuasi dengan aman.”

Kebetulan atau tidak, ketiga gereja itu bernama St Georgius, sebagai santo pelindung umat Koptik. Gereja di manapun di Mesir diberi nama St. Georgius “sang pembunuh naga.”  Karena sang santo prajurit itu secara luas dilihat sebagai “pelindung,” maka jika api membakar tuntas gereja, maka pesan sebaliknya mungkin saja: “dia tidak bisa melindungi kalian.”

Berbagai laporan pendahuluan dari pihak berwenang Mesir mengatakan bahwa  ketiga kasus kebakaran itu tampaknya karena kecelakaan terkait dengan listrik atau kerusakan arus listrik. Jadi, bukan karena dibakar. Tidak ada laporan akhir yang diterbitkan atas setiap kasus. Tidak adanya informasi ini tidak membuat media yang dikelola pemerintah berhenti mengatakan bahwa ketiga kebakaran itu adalah kecelakaan. Namun, pendapat umum di antara orang-orang Kristen adalah bahwa kebakaran itu “tidak kebetulan.”

Menurut Pastor Samuel dari Gereja Mansoura, “Api dimulai dari langit-langit kayu di aula yang berdekatan.”

Rekaman video, lanjutnya, menunjukkan bahwa ada sesuatu yang dilemparkan dari pasar di belakang gereja ke atap gereja. Pastor lain, yang juga seorang insinyur profesional, di gereja yang sama, mengatakan, “Ketika membangun gereja, kami merancang sambungan listriknya dengan sangat baik. Kami pastikan untuk mematikan semua listrik ketika kami tidak ada di tempat. Panel distribusi listrik juga dilengkapi perangkat untuk menjaganya kalau arus dan voltase tegangannya naik.”

Sebuah sumber lokal yang tidak mau disebut namanya menambahkan bahwa beberapa saat sebelum kebakaran, dinas keamanan menghubungi beberapa gereja. Lembaga pemerintah itu meminta untuk memastikan kamera pengintai gereja-gereja bekerja dengan baik.

“Ini menunjukkan,” ia mendalilkan, “bahwa pihak keamanan nasional sudah punya informasi yang menunjukkan bahwa beberapa gereja di Mesir akan diserang.”

Dalam hal-hal tertentu, kebakaran baru-baru ini di Mesir dan pembakaran Katedral Notre Dame di Prancis itu, serupa.

Bagi pengamat biasa, pembakaran itu kecelakaan tragis atas gereja-gereja bersejarah. Namun bagaimanapun, harus dilihat jejak panjang serangan atas gereja di kedua negara tersebut.

Pada hari-hari menjelang kebakaran di Notre Dame, misalnya, ada sebuah berita mengatakan bahwa rata-rata dua gereja diserang dalam sehari di Perancis. Dalam beberapa kasus, kotoran manusia ditemukan dioleskan pada berbagai gereja. Prancis adalah negara yang menampung populasi Muslim terbesar di Eropa.

Di Mesir, serangan terhadap gereja bahkan lebih sering terjadi dan seringkali mematikan. Beberapa insiden yang lebih terkenal pantas disebutkan di sini.

Pada Minggu Palma 2017, dua gereja Koptik dibom dan 50 jemaah tewas. Pada Minggu, 11 Desember 2016, sebuah Gereja Koptik dibom dan setidaknya 27 jemaah tewas. Pada Malam Tahun Baru 2011, gereja lain dibom dan sekitar 23 orang Kristen tewas. Dan pada Malam Natal 2010, tujuh umat Kristen ditembak mati ketika meninggalkan gereja mereka.

Pastor Ephraim Youssef, seorang pastor di gereja di Mansoura, tidak berpikir bahwa berbagai kebakaran itu kecelakaan. Dia karena itu, ketika mendiskusikan kebakaran akhir-akhir ini mengamati bahwa “para teroris sudah mengubah operasi mereka, dari melakukan pemboman dengan melakukan pembakaran.”

Yang menyedihkan kaum Islam radikal tampaknya masih sangat memusuhi gereja. Cara yang mereka pilih berubah. Tidak lagi memilih meledakkan bom yang spektakuler, tiga kasus mungkin menunjukkan bahwa mereka yang membenci gereja di Mesir beralih kepada taktik yang lebih halus, yang terlihat sebagai kecelakaan sehingga diabaikan, auga agar tidak banyak diperhatikan dan dikecam.

Dengan demikian, Kristen Mesir dibiarkan hidup namun dengan jumkah gereja yang lebih sedikit.


Artikel ini ditulis oleh Raymond Ibrahim, pengarang buku baru Sword and Scimitar, Fourteen Centuries of War between Islam and the West (Pedang dan Badik, Empat Belas Abad Perang antara Islam dan Barat). Tulisan ini diterbitkan oleh Gatestone Institute pada 8 Desember 2019 dengan judul, Egypt: Christian Churches Burn “Accidentally,” or Have “Terrorists Changed Operations”? Penerjemah Jacobus E. Lato