Rumah Bebas Pasung, Ruang Hidup Baru Bagi Penderita Gangguan Jiwa di Maumere

Pastor Suparman Andi saat mendoakan ODGJ di rumah bebas pasung.

Katoliknews.comOrang dengan gangguan jiwa (ODGJ) itu tidak sakit 24 jam, di saat tertentu ia akan kembali normal.

Demikian Pastor Suparman Andi, Rektor Seminari Tinggi St. Kamilus, Nita-Maumere, NTT memberi gambaran tentang para penderita gangguan jiwa yang dipasung.

“Jika saat kembali normal ia menyadari sedang dipasung, ia mudah stress, dan itu tidak mendukung kesembuhannya,” kata Pastor Andi kepada Katoliknews.com, Selasa 17 Desember 2019.

Hal tersebut, menurutnya, menjadi cikal bakal Seminari St. Kamilus menginisiasi program pembebasan pasung bagi para ODGJ, hingga munculnya rumah rehabilitasi yang disebut ‘rumah bebas pasung’ di Maumere pada tahun 2016 lalu.

Berukuran 3×4 meter, rumah tersebut dibangun di dekat rumah keluarga penderita gangguan jiwa, dengan tujuan agar ODGJ mudah dipantau oleh pihak keluarga.

“Gaya kami dalam merawat pasien adalah home base rehabilitation, bukan dibawa ke rumah sakit atau panti,” ujar Pastor Andi.

Meski berukuran kecil, rumah bebas pasung ini dilengkapi tempat tidur dan toilet, serta berlantai keramik putih dengan dinding rumah dilapisi bambu dan anyaman besi.

“Dindingnya dirancang demikian agar tetap memiliki ventilasi udara, tetapi tidak terkesan seperti penjara. Meski begitu ODGJ juga tidak mudah keluar dari rumah tersebut,” ujarnya.

Ia menjelaskan, jika penderita gangguan jiwa sudah menempati rumah bebas pasung tersebut, tanggung jawab ada di pihak seminari dan keluarga.

“Tanggung jawab seminari adalah mendidik keluarga pasien serta mengaktifkan partisipasi keluarga dalam merawat pasien,” ujar Pastor Andi.

Selain itu, pihak seminari juga bertanggung jawab membantu pasien ODGJ yang berasal dari keluarga miskin misalnya dengan memberikan beras, obat-obatan dan kebutuhan yang lain.

“Jika puskesmas setempat kekurangan obat-obatan, yang kami akan membantu.” Sementara itu, “tanggung jawab keluarga adalah memberikan perhatian kepada pasien.”

Rumah Bebas Pasung Sebagai Solusi Alternatif

Pastor Andi mengatakan, rumah bebas pasung ini adalah salah satu solusi alternatif untuk merawat dan merehabilitasi pasien ODGJ yang dipasung.

“Sebelumnya mereka dipasung oleh anggota keluarganya karena berbagai bahaya yang mengancam masyarakat atau keluarganya sendiri,” ceritanya.

Lantas, kata dia, perjuangan awal pembangunan rumah bebas pasung ini tidaklah mudah. Saat itu, pihak seminari bahkan melakukan diskusi dan sosialisasi dengan anggota keluarga dari pasien ODGJ tentang rumah bebas pasung ini.

“Keluarga sempat takut ditawarkan rumah bebas pasung karena mereka masih ragu apakah cara ini aman bagi keluarga dan tetangga sekitar,” cerita Pastor Andi.

Ia mengatakan, “kita lalu memberikan bukti beberapa pasien yang saat itu mengalami perubahan yang lebih baik hingga akhirnya pihak keluarga menerima tawaran kami.”

Saat ini, jumlah rumah bebas pasung yang dibangun dan sudah ditempati pasien ODGJ sebanyak 32 rumah.

“Rumah bebas pasung yang ke 33 dan 34 masih dibangun. Total pasien yang kami rawat sekitar 40 orang,” katanya.

Dampak Positif

Menurut Pastor Andi, ada sejumlah dampak positif dari rumah bebas pasung terhadap penderita gangguan jiwa.

Pertama, kata dia, dari segi aspek fisik, pasien ODGJ merasa bebas di dalam rumah pasung dan secara fisik ia sehat.

“Ia juga tidak kedinginan, tidak kehujanan, bisa bebas bergerak,” jelasnya.

Lalu aspek sosial, jelasnya, pasien masih bisa bersosialisasi dengan keluarga dan orang sekitar. Selain itu, keluarga juga bisa melihat perkembangannya dan memberikan perhatian setiap hari.

“Kalau di panti, saat penderita ODGJ kembali ke rumah, keluarga ragu dan takut karena mereka tidak bisa melihat perkembangan pasien secara langsung,” katanya.

Dari aspek psikis, “dengan rumah bebas pasung hati dan pikirannya lebih tenang sehingga sangat menunjang proses kesembuhan.”

Di rumah ini, ODGJ juga bisa merasakan dampak positif dalam aspek spiritual. “Kami mengajarkan mereka untuk tetap berdoa meski tidak semua pasien bisa melakukan ini,” jelas Pastor Andi.

Dari aspek ekonomi, rumah bebas pasung ini sangat murah secara jangka panjang, meski pembangunan satu rumah bebas pasung menghabiskan uang sekitar Rp20- an juta di awal.

“Namun, jika di panti atau di rumah sakit jiwa, keluarga akan terbebani secara ekonomi dalam jangka waktu yang lama.”

Jadi, dengan rumah bebas pasung, keluarga tidak perlu lagi mengeluarkan banyak uang untuk membiayai ODJG di tahun-tahun berikutnya.

Pastor Andi mengatakan, saat ini ada sejumlah penderita gangguan jiwa yang mengalami perkembangann positif. “Kami sudah bisa memberikan dia pekerjaan harian agar dia punya kesibukan dan memiliki penghasilan,” katanya.

Selain itu, ada juga pasien ODGJ yang saat ini sudah beternak dan menenun. “Modal untuk itu kami yang sediakan,” ujarnya.

“Jadi kami ingin memberikan pelayanan yang holistik sejak dia dipasung, bebas pasung, dan kehidupannya pasca bebas pasung.”