Korban Badai yang Melanda Filipina Sejak Hari Natal Terus Meningkat

Topan Phanfone menyebabkan kerusakan parah di Filipina saat Natal. (Foto: AFP/Bobbie Alota)

Katoliknews.comJumlah korban yang tewas akibat badai dahsyat yang melanda Filipina pada Hari Natal telah meningkat menjadi 41 orang, demikian menurut pihak berwenang, dengan puluhan ribu lainnya masih bertahan di lokasi pengungsian.

Topan Phanfone berhenti melanda Filipina pada hari Sabtu, 28 Desember setelah menghancurkan beberapa pulau di Visayas pusat, termasuk tujuan wisata populer, namun tingkat kerusakan dilaporkan terus bertambah.

Menurut pemerintah pada Minggu, 29 Desember 2019, korban tewas kini menjadi 41 – naik dari 28 orang yang sebelumnya dilaporkan pada hari Jumat, 27 Desember. Dari puluhan korban itu termasuk tiga awak kapal yang meninggal setelah kapal mereka terbalik karena angin kencang, seorang polisi yang kena setrum dari tiang yang jatuh, dan seorang pria tertimpa pohon.

“Kami berharap tidak akan ada lagi korban tewas,” kata Mark Timbal, juru bicara badan bencana nasional kepada AFP.

Ia menjelaskan, pihak berwenang masih mencari 12 orang yang hilang.

Laporan terbaru menunjukkan lebih dari 1,6 juta orang terkena dampak topan, yang merusak lebih dari 260.000 rumah dan memaksa hampir seratus ribu orang mengungsi ke tempat penampungan darurat.

Banyak penduduk yang terkena dampak di negara yang didominasi Katolik itu merayakan Natal di pusat-pusat evakuasi, di mana mereka mungkin harus tinggal sampai Tahun Baru mengingat skala kehancuran yang besar.

Pemerintah memperkirakan bahwa badai tersebut telah menyebabkan kerusakan lahan pertanian dan infrastruktur senilai 21 juta dolar atau setara 292,5 miliar rupiah.

Saluran listrik dan koneksi internet terputus di beberapa daerah setelah hembusan Topan Phanfone hingga 200 km per jam menggulingkan tiang listrik dan pepohonan.

Paus Berdoa Bagi Korban

Pada 26 Desember, Paus Fransiskus berdoa khusus bagi korban bencana ini.

Saat meminta ribuan orang Lapangan Santo Petrus bersama-sama berdoa Salam Maria bagi para korban, ia mengatakan ikut merasakan penderitaan rakyat Filipina, “yang sangat saya cintai.”

“Saya berdoa untuk banyak korban, untuk yang terluka dan untuk keluarga mereka,” katanya.

Topan Phanfone, yang secara lokal disebut Ursula, adalah topan ke-21 yang melanda Filipina, negara yang rawan badai.

Banyak dari topan itu yang mematikan, biasanya merusakan tanaman pertanian, rumah dan infrastruktur.