‘Donasi’, Bentuk Ucapan Terima Kasih untuk Anggota Banser Korban Bom di Gereja Mojokerto

Saat penyerahan donasi kepada Amir Sagiyanto. Sumber foto: Topikini.com

Katoliknews.com – Riyanto, anggota Banser yang tewas akibat ledakan bom saat menjaga gereja Ebenhaezer di Mojokerto 19 tahun lalu mendapat Donasi berupa dana, yang secara simbolis diterima oleh pihak keluarganya.

Penyerahan dana yang digalang melalui platform donasi ‘Kitabisa.com’ tersebut digelar di Gereja Katolik St Yoseph Mojokerto pada hari Minggu, 29 Desember 2019.

Acara tersebut diinisiasi oleh pemilik akun Twitter-Instagram-Facebook ‘Katolik Garis Lucu (KGL)’ – (@KatolikG), Sahabat KGL (SKGL) bersama dengan beberapa anggota Banser.

Keluarga Riyanto mendapat dana sebesar 50 juta rupiah, sementara, korban lain dari Banser bernama Amir Sagiyanto yang mengalami cacat permanen pada matanya akibat ledakan bom yang sama mendapat dana sebesar 20 juta rupiah.

Saat berbicara kepada Katoliknews.com, Koordinator SKGL, Alma Costa mengatakan, acara ini adalah bentuk ucapan terima kasih kepada Riyanto dan Banser (ansor) yang telah memberi keteladanan menjaga kebebasan beribadah bagi semua orang tanpa memandang SARA.


Mendiang Riyanto, jelasnya, merupakan sosok pahlawan kemanusiaan sesungguhnya, yang memberi pesan bahwa persahabatan antar manusia itu tanpa sekat.

“Bahwa cinta kasih itu hidup tanpa memandang perbedaan atribut diri dan kelompok. Sudah seharusnya masyarakat tak lagi menyebut atribut diri seperti agama, suku, ras dll dalam ruang publik,” kata Alma Costa, Selasa 31 Desember 2019.

Ia juga mengatakan, wujud dari agama adalah relasi antar sesama manusia yan tidak terbatas.

Alma Costa menjelaskan, donasi yang diberikan sebenarnya merupakan sarana uluran tangan kasih dari para donatur dan tanda solidaritas SKGL bagi keluarga Riyanto dan anggota Banser yang saat itu berjaga.

“Momen penyerahan donasi ini boleh disebut sebagai ziarah kemanusiaan dan penghormatan terhadap para penjaga kerukunan, meski insiden bom saat itu merenggut nyawa Mas Riyanto dan Martinus Joni misdinar St. Joseph Mojokerto.”

Acara ini juga sebagai bentuk kunjungan kepada keluarga korban, berbagi cerita yang menghibur skaligus menguatkan mereka.

“Namun pertanyaan reflektifnya adalah apakah kita perlu mengorbankan lagi anak bangsa agar kita lebih paham tentang kemanusiaan? Apakah setiap perbedaan dan keberagaman bangsa ini akan selalu jadi masalah? Apakah sulit membangun persatuan tanpa korban?,” katanya.

Untuk Amir, Alma Costa mengaku, korban sudah ikhlas menerima musibah itu meski matanya sudah cacat permanen.

“Mas Amir yang saat ini tetap menjadi anggota Banser bahkan menyebut: ia akan tetap memberi tenaga untuk menjaga saudara/i dalam kemanusiaan karena ia tak punya apa-apa selain tenaga,” jelasnya.

Alma Costa berharap, dengan acara tersebut setiap anak bangsa Indonesia mulai membangun kesadaran kolektif untuk menjaga keberagaman.

“Kesadaran satu identitas, Indonesia sebab keberagaman adalah salah satu kekayaan yang patut dipertahankan.”

“Cara membangun kesadaran? Saat perayaan kemerdekaan Indonesia, kita sebaiknya tidak hanya larut dalam acara seremonial, namun mesti sampai pada tataran refleksi akan Keindonesiaan kita,” katanya.

Selain keluarga Riyanto dan Amir, donasi saat itu juga diserahkan kepada Subandi, Hartono, mendiang Wulyono, keluarga mendiang Martinus Joni – misdinar yang meninggal saat insiden tersebut, dan Banser Mojokerto.

“Acara penyerahan donasi dihadiri oleh Pastor Paroki St. Joseph Mojokerto, Romo Tomi, Ketua GP Ansor, Ketua Korcab Banser, Keluarga almarhum Mas Riyanto, keluarga almarhum Mas Wulyono, perwakilan keluarga almarhum Martinus Joni, Mas Amir, Mas Subandi, Mas Suhar, Sahabat KGL dan OMK St. Joseph Mojokerto,” ujarnya.

Penggalangan dana oleh KGL dilakukan melalui Kitabisa.com dilakukan sejak 8 Desember 2019 lalu, dengan target awal sebesar 50 juta rupiah. Dana yang dikumpulkan akhirnya berjumlah lebih dari 100 juta rupiah.

Akun KGL sendiri dibuat oleh satu orang pada 27 april 2019, yang kemudian dalam perjalanannya merekrut beberapa admin untuk membantu.

Sementara itu, SKGL adalah sebuah komunitas yang terbentuk untuk mendukung kegiatan KGL di media sosial dan yang berhubungan langsung dengan kegiatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Meski begitu, baik SKGL maupun SKGL tidak berafiliasi dan tidak mewakili Gereja Katolik.