Merayakan Persahabatan dan Persaudaraan

Pastor Vinsensius Darmin Mbula OFM (Foto: Floresa.co).

Oleh: RP DARMIN MBULA OFM

Di berbagai belahan bumi ada beragam cara untuk merayakan dan memaknai pergantian tahun.

Momen ini, bagi banyak orang, terasa sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Ada rasa rindu untuk merayakannya bersama keluarga, teman, rekan kerja, rekan sekomunitas dalam iklim persahabatan dan persaudaraan.

Pada momen ini, seperti yang akan segera terjadi pada hari ini, ketika kita akan beralih dari tahun 2019 menuju 2020, banyak orang pergi ke luar rumah untuk menyalami yang lain sambil  memandang kembang api di langit dan hiruk pikuk orang-orang di taman-taman kampung, desa dan kota.

Merayakan persahabatan dan persaudaraan yang penuh harmonis dan humanis serta kasih sayang di ujung tahun sejatinya dilanjutkan dalam tahun-tahun berikutnya.

Janji, resolusi, niat, komitmen, seperti saling memaafkan, saling berbagi, saling membantu, saling mengucapkan terima kasih, saling menghargai, menjauhkan ujaran kebencian, iri hati, sombong, keangkunghan, kerakusan, korupsi, fanatisme, eksklusivisme mesti  menjadi bagian dari cara menyambut tahun yang baru.

Jika kita melihat di sekeliling kita, kita menemukan bahwa ada orang-orang yang begitu kaya, namun ada juga yang dalam keadaan miskin akut, kurang gizi.

Di sisi lain, planet bumi kita semakin terluka. Kita juga masih menemukan kekerasan dan pelanggaran HAM terhadap ibu, anak dan kelompok rentan lainnya. Di berbagai tempat di tanah air persoalan human traficking masih menjadi hal serius.

Di hadapan wajah dunia seperti ini, perlu ada rasa peduli, solidaritas, rasa setiakawan, yang dibarengi optimisme untuk membangun bumi dengan nilai-nilai persaudaraan dan persahabatan. Di hadapan masalah kekerasan antaragama yang dipicu eksklusivisme serta di tengah persoalan lingkungan hidup perlu ada gerakan mewujudkan spiritualitas dialog dan ekologi.

Pada saat ini, kita tentu saja punya banyak alasan untuk optimis bahwa hari-hari esok akan mungkin menjadi lebih baik.

Salah satu hal yang perlu dicatat dan memunculkan optimisme di tengah kecemasan akan dunia yang makin individualistis saat ini adalah muncul beragam bentuk gerakan solidaritas. Syukur bahwa gerakan-gerakan itu dipelopori tunas-tunas muda, generasi milineal, generasi gadget dan digital.

Dengan daya kreatif, inovatif dan adaptif, generasi milenial melahirkan dan membuat berbagai macam karya inovatif untuk mencegah berbagai kerusakan alam lewat gerakan mengantikan kemasan plastik dengan kemasan-kemasan organik, merias lingkungan rumah yang semakin mungil dengan tanaman organik yang menyumbangkan oksigen bagi orang lain, merawat sumber mata air, membantu anak-anak di pedalaman yang sulit membaca dan menulis dengan mengumpulkan dan mengirim buku-buku bacaan. Semuanya ini adalah gerakan kaum milenial.

Inilah salah satu alasan bagi kita untuk optimis memasuki 2020;  bahwa masih banyak orang yang berkehendak baik, secara khusus generasi milenial untuk menjadikan manusia di bumi ini hidup semakin bersahat, bersaudara dan berdamai dalam keberagaman.

Sebagaimana diungkapkan oleh Presiden Joko Widodo pada perayaan Natal Nasional 2019 di Sentul, Bogor bahwa persahabatan dan persaudaraan merupakan DNA-nya bangsa Indonesia, jati diri dan identitasnya bangsa Indonesia, maka tugas kita ialah  merayakan persabahatan dan persaudaraan dengan cara-cara praktis, mulai dari hal-hal yang amat sederhana.

Misalnya,  ketika kita bertemu  dengan yang lain dalam kehidupan kita saban hari, lemparkan senyum yang tulus, ucapan minta maaf yang tulus, ucapan minta tolong dengan penuh rendah hati, serta ucapan terima kasih dengan jujur dan terbuka.

Dan di atas semuanya, kita semakin peduli dengan orang miskin dan terlantar, semakin bijak dan sederhana dalam gaya hidup dan semakin menjauhkan mental membuang makanan, membuang sampah sembarangan serta mengurangi penggunaan plastik.

Inilah cara kita merayakan persahabatan dan persaudaraan.