Gereja Katolik Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Jabodetabek

Tim Relawan dari Gereja Santa Perawan Maria Ratu di kawasan Blok Q Jakarta Selatan membuka dapur umum sejak Rabu, 1 Januari dengan menyediakan nasi bungkus dan air mineral. (Foto: RMOL)

Katoliknews.com – Gereja Katolik di Jakarta dan sekitarnya mengambil langkah membantu korban banjir, yang hingga hari ini, Jumat 3 Januari 2020 dilaporkan telah menewaskan 43 orang dan memaksa 400 ribu orang mengungsi.

Banjir parah melanda wilayah di Jakarta dan sekitarnya atau Jabodetabek sejak Rabu, 1 Januari.

Lembaga Daya Dharma (LDD) milik Keuskupan Agung Jakarta memilih membuka posko, di mana umat Katolik bisa menyalurkan dana dan logistik bagi korban.

Yosepha Ajeng dari LDD mengatakan, mereka juga menyediakan perahu untuk membantu korban yang terjebak banjir di Jakarta Selatan dan di Bekasi, Jawa Barat.

“Kami telah meminta umat Katolik untuk mengumpulkan makanan, sabun, obat-obatan bagi korban,” katanya seperti dilansir UCAN, media Katolik Asia, Kamis, 2 Januari.

Di sejumlah paroki, upaya memberi bantuan juga dilakukan.

Tim Relawan dari Gereja Santa Perawan Maria Ratu di kawasan Blok Q Jakarta Selatan membuka dapur umum sejak Rabu, 1 Januari dengan menyediakan nasi bungkus dan air mineral.

“Kami membantu anggota jemaat Gereja yang menjadi korban banjir, tapi tidak cuma sebatas itu, bantuan kami juga diberikan kepada umat dari agama lain,” kata Rudi, koordinator tim seperti dilansir RMOL.

Proses pendistribusian pun sudah dilakukan sejak Rabu. Dapur umum ini mendistribusikan sekitar 1.300 nasi bungkus dan air mineral.

Umat dilaporkan antusias dan kompak membantu, di mana ada yang menyumbang ayam goreng, tumis kikil, sayur mayur dan makanan lainnya.

Sementara itu di Tangerang, Komunitas Katolik Lippo Karawaci bekerja sama dengan Pelayanan Sosial Ekonomi Paroki Curug Gereja St Helena membuka posko untuk menyalurkan berbagai bantuan nasi bungkus, sembako, keperluan bayi, obat-obatan, alat kebersihan, pakaian layak pakai serta tikar, selimut dan kasur tipis.

Upaya penggalangan dana juga terus dilakukan di lingkungan-lingkungan.

Hingga hari ini, menurut Agus Wibowo, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), data korban meninggal mencapai 43 orang.

Namun, jumlah korban itu bukan hanya dari wilayah Jabodetabek, melainkan juga ada dari daerah Lebak, Banten.

BNPB juga mencatat, setidaknya 400 ribu warga Jabodetabek masih bertahan di pengungsian, di mana paling banyak berada di Kota Bekasi yakni 366 ribu, di Jakarta 21 ribu, di Kabupaten Bekasi 2 ribu, Kabupaten Bogor 13 ribu, Kabupaten Tangerang 3 ribu dan Kabupaten Tanggerang Selatan 700.

Agus mengkonfirmasi banjir mulai surut diseluruh wilayah Jabodetabek.  

“Ini rata-rata masih ada genangan tingginya 20 sampai dengan 50 centimeter,” katanya.

BNPB mengimbau masyarakat yang kediamannya dilanda banjir agar tetap berada di pengungsian sementara.