Aktivis Gereja di Sri Lanka Menentang Pembangkit Listrik Tenaga Batu Bara

Pembangkit Listrik Batubara Lakvijaya dibangun pada tahun 2011 di bawah rezim Mahinda Rajapaksa. Penduduk desa mengklaim emisi abu telah menjadi masalah kesehatan. (Foto: UCAN)

Katoliknews.com – Para pemimpin dan aktivis lingkungan Gereja mendesak pemerintah Sri Lanka menutup pembangkit listrik tenaga batu bara dan menyerukan penggunaan sumber daya alternatif.

Mereka telah lama mengeluh tentang kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh Pembangkit Listrik Batubara Lakvijaya di Norochcholai, di ujung selatan semenanjung Kalpitiya.

Warga, petani dan nelayan melaporkan adanya masalah kesehatan yang serius.

Desa-desa sekitar dilalporkan terkena debu batubara dan abu.

Sekitar 40 persen listrik Sri Lanka dihasilkan dari energi fosil.

Kardinal Malcolm Ranjith, Uskup Agung Kolombo mendesak pemerintah untuk mencari cara alternatif untuk menghasilkan energi.

“Langkah-langkah harus diambil untuk menghentikan usulan penambahan 600 megawatt proyek bertenaga batu bara di Norochcholai,” kata Cardinal Ranjith di sebuah forum dengan tema “apakah batu bara solusi untuk krisis energi?” yang dihadiri oleh para pemimpin agama, pencinta lingkungan dan menteri energi pada 30 Desember di Kolombo.

“Jika memungkinkan, pembangkit listrik batubara Norochcholai harus dihentikan.”

Ia mengatakan ada beberapa pilihan energi alternatif dan negara itu seharusnya tidak perlu menggunakan pembangkit listrik tenaga batu bara.

Pemerintah berencana untuk menghasilkan 600 MW tambahan listrik dari pabrik Norochcholai, yang terletak 144 kilometer utara Colombo.

Abu dari pabrik telah telah menjadi masalah serius sejak pembangkit listrik itu mulai beroperasi pada 2011.

Pejabat Gereja, pencinta lingkungan, petani dan nelayan di daerah itu sangat menentang pembangkit listrik itu, bahkan sebelum pembangunan dimulai.

Ada dugaan bahwa pabrik itu dibangun dengan bahan-bahan usang dan gagal memenuhi standar internasional.

Pendanaan untuk proyek ini disediakan oleh pemerintah Cina dengan suku bunga rendah jangka panjang.

Athula Fernando, pencinta lingkungan mengatakan banyak anak yang tinggal di dekat pabrik menderita penyakit kulit dan beberapa orang tua menderita penyakit pernapasan.

“Polusi udara adalah penyebab utama penyakit ini. Udara dan air telah tercemar oleh debu dan abu batu bara,” kata Fernando, 54, seperti dilansir UCAN, media Katolik Asia.

“Sayuran berwarna hitam karena debu batu bara dan abu di udara. Bit merah, kacang hijau, dan cabai merah berwarna hitam. Seragam sekolah anak-anak juga diwarnai dengan bercak hitam.”

Hemantha Withanage, direktur eksekutif Pusat Keadilan Lingkungan mengatakan polusi telah menyebabkan air di daerah Kalpitiya menguning.

Bahan kimia yang terkandung dalam debu dan abu yang mencemari udara serta produk lokal dan persediaan air sangat berbahaya bagi manusia, yang dapat menyebabkan penyakit paru-paru, penyakit jantung, kondisi kulit, kanker dan penyakit ginjal, kata Withanage.

Aktivis Marcus Nisantha mengatakan dia menentang pabrik itu karena dibangun tanpa teknologi yang tepat.

“Tidak ada cara yang tepat untuk membuang limbah. Limbah menumpuk,” katanya.

Kardinal Ranjith mengatakan para pemimpin politik tidak bisa menjual negara. “Negara tidak bisa dikhianati demi orang lain,” tambahnya.