Imam Katolik Tanggapi Pernyataan Deddy Corbuzier Soal Kelahiran Yesus

“Banyak hal mungkin kita mengerti tapi belum tentu bijak disampaikan kepada khalayak, apalagi yang disampaikan itu berkaitan dengam keyakinan atau iman orang lain.”

Unggahan di akun Instagram Deddy Corbuzier @mastercorbuzier yang memicu kontroversi.

Katoliknews.com – Seorang imam Katolik menanggapi pernyataan pembawa acara Deddy Corbuzier yang memicu perdebatan terkait kelahiran Yesus pada 25 Desember.

Dalam sebuah video di akun Youtube Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Semarang (KAS), imam bernama Yustinus Slamet itu mempersoalkan argumen-argumen yang disampaikan Deddy dan menyayangkan pernyataan itu yang dinilainya sensitif.

Deddy, yang sebelumnya menganut Katolik dan sudah berpindah keyakinan menjadi Muslim, menulis ucapan Selamat Natal di akun Instagram-nya @mastercorbuzier pada 24 Desember.

Ucapan itu disertai dengan komentar setidaknya terhadap dua hal, yang disebutnya sebagai fakta. Pertama, soal figur Sinterklas yang menurutnya diciptakan perusahaan minuman bersoda raksasa di AS. Kedua, soal tanggal 25 Desember yang menurutnya bukan hari kelahiran Nabi Isa atau Yesus.

“Tanggal 25 bukan hari lahir Nabi Isa atau Yesus. Tanggal tersebut disetarakan oleh jaman dulu oleh komunitas Pagan buat penghargaan doang,” tulis Deddy.

Menyusul ramainya komentar soal unggahan itu, Deddy mengeditnya dan teranyar komentar yang menyebut komunitas Pagan itu dihapus. Deddy hanya menyebut bahwa tanggal 25 Desember itu adalah hal yang terus menjadi perdebatan. “Apakah Tgl 25 bukan hari lahir Nabi Isa atau Jesus.. Jadi sejak dulu menjadi perdebatan..,” tulisnya.

Deddy kemudian menyertakan artikel dari Majalah Time yang berjudul “Pope Benedict Disputes Jesus’ Date of Birth.” Artikel itu merujuk pada buku Paus Emeritus Benediktus XVI, Jesus of Nazareth: The Infancy Narratives.

Menurut Deddy, dari buku tersebut ia belajar bahwa kalender Kristen sebenarnya didasarkan pada kesalahan oleh seorang rahib abad keenam, yang menurut Benediktus beberapa tahun tidak aktif dalam perhitungannya tentang tanggal kelahiran Yesus.

Deddy mengaku bahwa apa yang dipelajarinya itu langsung dari Paus yang merupakan pemimpin Gereja Katolik di seluruh dunia.

“Saya disalahin karena bacain fakta dari Paus guna mendinginkan konflik kemarin? Gak salah? Lah saya belajarnya dari Paus loh sejak saya masih Katolik. Sangat jelas postingan saya bukan untuk menghina saudara-saudara Kristiani,” katanya.

Bukan dari Tradisi Pagan

Dalam video yang dirilis pada 3 Januari 2020, Romo Yustinus mengatakan awalnya dia diam dengan postingan Deddy itu dan berusaha menyimak mungkin ada hal lain yang hendak ia sampaikan.

 

Ia kemudian menyebut mengapresiasi usaha Deddy memberi penjelasan untuk mendidinginkan suasana soal postingan itu.

Namun, katanya, “di balik apresiasi itu, saya sungguh menyayangkan karena ada hal sensitif yang seyogianya tidak om Deddy tuliskan” juga terkait kekeliruan Deddy menginterpreasi isi buku Paus Benediktus XVI.

“Om Deddy, saya yakin anda bisa lebih bijak menempatkan diri, apalagi Anda sekarang sudah mualaf,” kata Romo Yustinus.

Ia menyatakan, memang ada banyak versi tentang hari kelahiran Yesus.

Ia menjelaskan, ada yang menyatakan bahwa 25 Desember adalah pengganti festival pagan Romawi yang disebut Saturnalia, di mana Gereja mengadopsinya menjadi perayaan Natal.

Menurutnya, Saturnalia merupakan festival musim dingin untuk memperingati titik terjauh matahari dari garis khatulistiwa pada 22 Desember.

Perayaan ini dimulai dari tanggal 17 hingga 23 Desember, sehingga kata Romo Yustinus, tidak cocok dihubungan dengan tanggal 25 Desember.

Ia melanjutkan, ada juga pandangan lain yang mengaitkan tanggal 25 Desember dengan kelahiran Sol Invictus atau Dewa Matahari.

Menurutnya, peringatan tersebut ada sejak zaman Kaisar Aurelian tahun 274, namun tidak ada bukti historis tentang adanya perayaan kelahiran Sol Invictus itu pada 25 Desember sebelum tahun 354.

Peringatan tersebut baru muncul pada zaman Kaisar Julian, di mana ia menentukan libur pagan jatuh pada 25 Desember.

Jadi Pastor Yustinus menyimpulkan, kaum pagan-lah yang sebenarnya mengadopsi tradisi Kristen, dimana tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Dewa Matahari, bukan sebaliknya.

Yang Diperdebatkan adalah Tahun, Bukan Tanggal

Romo Yustinus menjelaskan, umat Kristiani pada dasarnya tidak mempersoalkan hari kelahiran Yesus Kristus, tetapi lebih berkaitan dengan tahun.

“Mengenai hari kiranya sudah fix diajarkan oleh Bapa-bapa Gereja. Catatan paling awal tentang hal ini oleh Paus Telesphorus (yang menjadi Paus tahun 126-137), yang menentukan tradisi Misa tengah malam pada malam Natal,” ujarnya.

Selain itu, kata dia, merujuk pada perkataan Teofilus, seorang uskup di Palestina (tahun 115-181), Yesus lahir pada tanggal 25 Desember.

“Kita harus merayakan kelahiran Tuhan kita pada hari di mana tanggal 25 Desember harus terjadi,” demikian ia mengutip pernyataan Teofilus.

Tokoh lain, misalnya, St. Hippolytus (tahun 170-240) yang menulis bahwa “Kedatangan pertama Tuhan kita di dalam daging terjadi ketika Ia dilahirkan di Betlehem, di tanggal 25 Desember, pada Hari Rabu, ketika Kaisar Agustus memimpin di tahun ke-42.”

Menurutnya, tokoh-tokoh tersebut muncul sebelum adanya serangan dan bantahan atas kelahiran Kristus.

Sementara itu, terkait tulisan Paus Benediktus XVI dalam buku Jesus Of Nazareth: the Infancy Narratives, yang menurut Deddy mempertanyakan tentang tanggal kelahiran Yesus, imam tersebut mengatakan buku itu tidak berisi bantahan.

“Beliau (Paus Benediktus XVI) menunjuk tentang kelahiran Yesus Kristus adalah 7-6 SM,” ujarnya.

Dalam buku itu, Paus mengutip pandangan seorang astronomer Wina, Ferrari d’Occhieppo yang memperkirakan terjadinya konjungsi planet Saturnus dan Yupiter pada 7-6 SM.

Konjungsi tersebut (dalam buku itu) menurut Wina, menghasilkan cahaya bintang yang terang di Betlehem, yang dipercaya sebagai tahun kelahiran Yesus Kristus.

Ia menegaskan, yang dipersoalkan oleh Paus Benediktus XVI dalam bukunyanya adalah soal tahunnya, bukan tanggal 25 Desember.

Di bagian akhir video tersebut, imam itu mengajak Deddy – orang yang memiliki banyak follower – agar lebih bijak karena bisa jadi para followernya akan akan menganggap benar apapun yang dikatakannya.

“Artinya berapa banyak orang yang akhirnya mengikuti dan meyakini apa yang telah om Deddy tuliskan,” kata Romo Yustinus.

Ia menyatakan, “Banyak hal mungkin kita mengerti tapi belum tentu bijak disampaikan kepada khalayak, apalagi yang disampaikan itu berkaitan dengam keyakinan atau iman orang lain.”

Pada bagian akhirnya video tersebut, ia mengatakan, “kebohongan yang dipropagandakan akan menjadi kebenaran, tetapi kebenaran yang disembunyikan lama-lama akan terdengar sebagai kebohongan.”

Selain memantik reaksi di media sosial, sejumlah tokoh Kristen lain juga menyampaikan tanggapan atas pernyataan Deddy.

Pendeta Gilbert Lumoindong dalam akun Youtube-nya mengajak Deddy untuk tidak membuat sensasi murahan, lebih bijak berkata-kata dan saling menghargai di tengah perbedaan.

“Kalau kita bisa saling menghargai kenapa kita bisa saling menjatuhkan,” katanya.

“Kita bangun NKRI yang damai sejahtera,” tambah Pendeta Gilbert.