Pendaratan pasukan TNI menggunakan helikopter di lapangan terbang Bilogai, Kabupaten Intan Jaya, Papua, pada Desember 2019. (Foto: Jubi.co.id)

Katoliknews.com – Seorang imam di Papua meminta agar pasukan TNI/Polri dan kelompok bersenjata Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) tidak mengganggu aktivitas warga sipil.

RD Yance Yogi dari Paroki Titigi di Kabupaten Intan Jaya, Papua menyatakan situasi keamanan di Intan Jaya belum pulih sejak terjadi kontak senjata antara pasukan gabungan TNI/Polri dan TPNPB pada 17 Desember 2019.

Ia berharap pertikaian bersenjata di antara kedua kubu tidak menimbulkan korban dari kalangan warga sipil

“Jangan korbankan masyarakat. Kalau baku cari, baku ukur, itu urusan Negara dan urusan orang bersenjata,” katanya, Minggu, 5 Januari 2020, seperti dilansir Jubi.co.id.

Ia menegaskan Gereja tidak berurusan dengan perang.  Gereja, lanjutnya, hanya peduli dengan keutuhan ciptaan, keadilan dan perdamaian bagi manusia, apapun latar belakangnya.

RD Yance pun berharap kedua kubu yang bersenjata itu tidak mengorbankan masyarakat dengan tidak menjadikan wilayah permukiman warga, perkantoran, sekolah dan areal pertanian sebagai arena peperangan.

“Jangan ganggu area sekolah, area masyarakat. Silahkan baku cari di hutan,” katanya.

Wakil Ketua Pokja Perempuan, Majelis Rakyat Papua (MRP), Siska Abugau mengajak kedua belah pihak bertindak secara bijak dalam berperang.

Ia mengingatkan konflik bersenjata di antara kedua pihak berdampak terhadap kehidupan warga sipil.

“Pertimbangkan  kehidupan masyarakat Intan Jaya. Masyarakat mau lari ke mana, karena wilayah ini seperti kuali,” kata Abugau.

Menurut Abugau, banyak warga sipil di Intan Jaya yang mengungsi ke hutan dan berkebun di dalam hutan.

Mengingat tidak semua yang berada di dalam hutan adalah TPNPB, ia meminta aparat keamanan berhati-hati agar tidak melukai warga sipil.