Khotbah Imam Saat Malam Natal di Katedral Jakarta Diprotes Warga Papua

Katoliknews.com – Khotbah Pastor Managamtua Hery Berthus Simbolon SJ pada Misa Malam Natal, 24 Desember 2019 di Gereja Katedral Jakarta menuai protes dari warga Papua.

Khotbah imam tersebut  awalnya diunggah di Youtube oleh akun HidupTV dan dihapus setelah polemik muncul. Namun, video khotbah berdurasi 20 menit itu diunggah kembali oleh akun milik media yang berbasis di Papua, Suarapapua.com.

Dalam khotbahnya, imam yang disapa Pastor Agam itu memang beberapa kali menyinggung soal pengalamannya selama berkarya di Papua. Ia diketahui selama beberapa bulan terakhir bertugas di sebuah sekolah yang dikelolah Jesuit di Nabire.

Salah satu pernyataan Pastor Agam yang diprotes adalah saat ia memberikan ilustrasi 20 orang anak sekolah di Papua tidak mengenal arah mata angin serta arah kanan dan kiri.

Ia juga sempat menyebut “kebiasaan di Papua membawa persembahan saat misa sambil melompat-lompat dengan tarian susu, dan menikmati susu-susu berlompatan.”

Ikatan Cendikiawan Awam Katolik (ICAKAP) Papua menyebut pernyataan Pastor Agam tersebut menyinggung dan mencederai perasaan orang Papua.

Seperti dilansir Suarapapua.com, mereka pun meminta agar Pastor Agam diberi sanksi “agar tidak mengulangi, mencederai dan melecehkan martabat orang Papua sebagai citra Allah sebagaimana manusia lainnya.”

“Kami mengutuk cara berpikir yang melecehkan dalam kotbah pastor tersebut,” kata Vinsesius Lokobal, Ketua ICAKAP saat konferensi pers di Abepura pada Minggu 5 Januari 2020.

Sementara itu, Ketua Komda Pemuda Katolik (PK) Provinsi Papua, Alfonsa Wayap mengatakan, semua imam yang hendak bertugas di Papua mestinya dibekali dengan ilmu antropologi tentang Papua.

“Supaya mereka tahu tentang budaya Papua,” kata Alfonsa.

Dengan demikian, jelasnya, kejadian seperti ini tidak terjadi lagi dalam waktu yang akan datang.

Menyusul viralnya video khotbahnya yang berdurasi 20 menit itu, Pastor Agam telah meminta maaf.

“Saya tidak memiliki niat untuk menyakiti siapa pun dan tidak bermaksud menggunakan khotbah sebagai sarana untuk mencederai perasaan siapa pun,” katanya lewat sebuah video.

“(Pengalaman) ini akan dijadikan sebagai pelajaran sehingga akan lebih peka dan berhati-hati dalam mengungkapkan kata-kata,” tambahnya.

Ia pun menjelaskan, isi khotbah saat itu hanya ilustrasi mengenai pemahaman terhadap Alkitab yang dikaitkan dengan pengalaman pribadi dan orang-orang yang dikenalnya semasa bertugas di Papua.

Pastor Agam mengatakan, “memohon maaf sebesar-besarnya.”

“Semoga pintu maaf masih terbuka bagi saya,” katanya.