Ini Hasil Sinode Keuskupan Ruteng

Mgr Silvester San (Foto: ist)

Katoliknews.com – Keuskupan Ruteng baru saja menutup Sidang Sinode pada Jumat, 10 Januari 2020 di Wisma Efata Ruteng, Manggarai, NTT.

Sidang yang digelar sejak Senin 6 Januari 2020 tersebut dihadiri oleh Administrator Apostolik; Mgr. Silvester San, imam, biarawan/wati, utusan DPP dan DKP se-keuskupan Ruteng.

Sinode tersebut menghasilkan 35 rekomendasi yang ditandatangani oleh Mgr Silvester San.

Berikut hasil sinode Keuskupan Ruteng.

Pendahuluan

  1. “Gembalakanlah domba-domba-Ku!” (Yoh 21:15). Wasiat Tuhan yang bangkit kepada rasul Petrus ini menginspirasi kami peserta sidang pastoral postnatal pada tanggal 6—10 Januari 2020 di Wisma Efata Ruteng. Peserta (300-an orang) terdiri dari Administrator Apostolik,imam, biarawan/wati, utusan DPP dan DKP, merefleksikan bersama-sama tema pastoral “Tahun Penggembalaan” dalam tahun kelima implementasi Sinode III dengan pola proses: melihat, menilai, dan memutuskan (3M).
  2. Dalam rangka mengimplementasikan rencana strategis Sinode III selama empat tahun berturut-turut,kami telah mengupayakan perwujudan umat Allah Keuskupan Ruteng yang beriman utuh (solid), dinamis (mandiri) dan transformatif (solider). Untuk itu, secara integral dan berkesinambungan kami telah memfokuskan reksa pastoral pada pelbagai aspek kehidupan Gereja, yakni: Pengudusan (2016), Pewartaan (2017), Persekutuan (2018), Pelayanan (2019). Keempat fokus ini mengandaikan adanya kepemimpinan (gembala)yang bertanggungjawab untuk mengarahkan dan mengelola semua reksa pastoral tersebut. Oleh karena itu, tema “Tahun Penggembalaan”selama tahun 2020 ini, sesungguhnya terkait erat dengan fokus-fokus pastoral tahun-tahun sebelumnya.

Evaluasi Tahun Pelayanan 2019

  1. Sebelum menjalankan Tahun Penggembalaan 2020, kami mengadakan proses pembelajaran bersama melalui evaluasi program dan kegiatan dalam Tahun Pelayanan 2019: “Kamu pun wajib saling membasuh kakimu” (Yoh 13:14). Kami telah berupaya melaksanakan berbagai program dan gerakan pastoral yang menggerakkanGereja lokal keuskupan Ruteng agar semakin menjadi persekutuan beriman yang melayani dan semakin bersolider dengan orangmiskin, sakit, dan menderita. Dalam dimensi karitatif, program pastoral Tahun Pelayanan dijabarkan dalam aksimengumpulkan beras dan bahan pangan lainnya melalui KBG (lumbung pangan KBG), mengunjungi orang sakit, memberiwae lu’u kepada keluarga berduka, program membangun rumah, membantu korban bencanadi Manggarai Barat (Mabar). Dalam dimensi transformatif, kami telah berusaha memberdayakan potensi umat dalam pelbagai aspek melalui program pelatihan pertanian organik, pengolahan kebun pastoran yang sehat dan asri, penguatan koperasi jalur paroki, pencerahan tentang prinsip-prinsip politik Kristiani, sosialisasi budaya hidup sehat, program youth camp OMK, dancamping Sekami. Dalam dimensi struktural, kami membentuk dan menguatkan seksi Karitas Paroki, pendataan, pembentukan dan penguatan berbagai kelompok rentan, serta kelompok lansia tingkat paroki.
  2. Hasil evaluasi memperlihatkan adanya dinamika kehidupan diakonia yang menggembirakan di seluruh paroki Keuskupan Ruteng. Data olahan Litbang Keuskupan menunjukkan capaian kinerja yang baik dari program dan gerakan untuk Tahun Pelayanan 2019 (75,67%).Meskipun terdapat dinamika dalam pelaksanaan baik secara kuantitatif maupun kualitatif, semua parokidan berbagai lembaga telah berusaha mengimplementasikan Program dan gerakan Pastoral Tahun Pelayanan 2019. Pada semua paroki terlihat geliat dan gerakan pastoral yang dimotori klerus dan awam untuk semakin mewujudkan Gereja Yesus Kristus, yang hadir bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani (Mrk 10:45).
  3. Dalam evaluasi Tahun Pelayanan saat sidang pastoral, kami juga melihat pentingnya perencanaan pastoral yang kontekstual, holistik, realistis, dengan target pastoral yang terarah,dan terukur dan didukung oleh sumber daya manusia dan finansial yang memadai. Kami bersetuju bahwa perlunya monitoring untuk melihat proses keterlaksanaan program sesuai dengan rencana dan pentingnya evaluasi untuk melihat dampak program pastoral bagi kehidupan bersama. Kami juga menyadari pentingnya sistem informasi pastoral (pastoral data) yang mendukung keterlaksanaan program dan kegiatan pastoral yang akurat, transparan, dan akuntabel.
  4. Hasil analisis data evaluasi pastoral memperlihatkan pula kondisi mutu sumber daya manusia pastoral. Kami menyadari perlunya penguatan kapasitas kepemimpinanbaik klerus maupun awam dalam DPP, DKP, Pengurus Stasi (wilayah) dan KBG. Pelayan pastoral harus meninggalkan “zona nyaman”, yakni gaya berpastoral lama yang rutin dan kaku menjadi lebih kreatif inovatif dalam menjawabi kebutuhan umat yang nyata. Selain itu,mutlak diperlukan ada kemauan dan tekad yang teguh (good will) untuk melayani umat tanpa pamrih.
  5. Di atas segalanya, kami bersyukur untuk berkat Tuhan sepanjang Tahun Pelayanan 2019, sehingga Gereja Keuskupan Ruteng semakin menjadi Gereja yang melayani manusia seutuhnya dalam aspek: rohani, jasmani, personal, sosial, dan ekologis; Gereja yang hidup dan bergerak dinamis untuk merangkul dengan penuh belas kasih umat yang sakit, menderita dan miskin; Gereja yang sungguh hadir dalam kehidupan umat dan menampakkan wajah Allah yang peduli, menghibur, bermurah hati, berbelaskasih, membebaskan dan menyembuhkan.

Tanda Tanda Zaman

  1. Tatkala memasuki Tahun Penggembalaan 2020, kami menyadari sedang bergulat dalam pusaran revolusi industri 4.0 yang diwarnai perkembangan teknologi informatika dan media sosial yang mempersatukan dunia global secara erat sekaligus menelanjanginya dalam kehidupan maya yang virtual. Era digital ini telah membawa kemajuan dasyat dalam kenyamanan dan kesejahteraan hidup manusia tetapi sekaligus menimbulkan problem mendasar neoliberalisme; neokapitalisme; radikalisme dan terorisme; robotisasi dan mekanisasi; virtualisme; dan masalah ekologis. Hal-hal ini telah menimbulkan kemerosotan nilai-nilai kemanusiaan dan etis yang dengan cepat menyebar dan meracuni manusia sejagat, termasuk ke pelosok bumi Manggarai Raya ini. Di mana-mana egoisme, konsumerisme, dan materialisme meliliti kehidupan banyak orang. Kehidupan keluarga terusik konflik, kekerasan bahkan perpecahan. Anak, remaja dan generasi muda terhipnotis dalam pesona magis media sosial. Angka narkoba, seks bebas, aborsi, dan bunuh diri meningkat pesat. Alam lingkungan tercemar oleh pelbagai jenis polusi, dan bencana alam.
  2. Berbagai fenomena historis yang mewarnai seluruh bidang kehidupan manusia dalam “zaman now” ini hendaknya tidak menimbulkan kecemasan dan ketakutan, tetapi sebaliknya membangkitkan semangat pengharapan dan komitmen pastoral untuk menata dunia selaras dengan nilai-nilai injili. Fenomena historis ini merupakan tanda-tanda zaman (signa temporis), dalamnya Allah hadir dan bertindak dalam sejarah manusia (lih. GS 4, 1; 11, 1). Di sini tampak pentingnya kehadiran Gereja untuk menjadi gembala tradisi, guru masa kini, dan nabi masa depan yang mengelola sejarah selaras kehendak Allah (bdk. Mat 16, 4,14; 24,3). Dalam Tahun Penggembalaan 2020 ini, Gereja Keuskupan Ruteng tidak ingin membiarkan dirinya terbawa arus dan tergerus zaman tetapi kami berkomitmen untuk menjadi gembala yang dalam bimbingan Roh Kudus menuntun sejarah menuju kepenuhannya dalam Kristus, Sang Gembala Agung.

Tuhanlah Gembalaku

  1. Dasar biblis-teologis penggembalaan Gereja adalah penggembalaan Allah sendiri. Baik dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, maupun Kitab Suci Perjanjian Baru, kepemimpinan selalu dikaitkan dengan metafora penggembalaan yakni hubungan antara “gembala dan domba”. Sejak awal sejarah karya penyelamatan Allah menampilkan diri-Nya sebagai gembala. Sesuai konteks nomaden dan agraris saat itu, simbol gembala digunakan untuk Allah dan simbol domba untuk umat-Nya. Nabi Yesaya melukiskan “seperti seorang Gembala, Allah menggembalakan kawanan ternak-Nya, dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati” (Yes 40:11). Dalam metafora ini yang ditampilkan pertama-tama bukan aspek kekuasaan melainkan perhatian, cinta, dan tanggung jawab pastoral Allah terhadap umat-Nya. Dalam istilah gembala terungkap peran Allah yang memimpin, menuntun, mengumpulkan, melindungi, dan memberi makanan kepada umat-Nya. Gembala-domba menandaskan relasi intim personal, perhatian, dan cinta Allah yang menjamin kebahagiaan seseorang. Karena itu, pemazmur berdendang ria: “Tuhan adalah gembala-Ku. Tak kan kekurangan aku.” (Mzm 23:1; bdk. Kej 48:15—16; Yeh 34:16).
  2. Peran kegembalaan tersebut didelegasiskan Allah kepada para pemimpin Israel baik yang religius maupun sipil. Yosua dan Musa, seperti halnya, para hakim adalah gembala-gembala Israel pada era sebelum kerajaan (Bil 27:17; 2 Sam 7:7). Pada zaman monarki, raja Daud diangkat sebagai gembala yang menuntun dengan ketulusan hati dan keterampilan yang tangkas (bdk. Mzm 78:7a, 71b–72). Melalui tokoh-tokoh Perjanjian Lama tersebut, peran gembala bukanlah status, melainkan tanggung jawab dan komitmen kasih atas kawanan. Karena itu, gembala yang menindas dan menghisap domba-domba, mendatangkan murka Allah. Nabi Yehezkiel, sangat keras membongkar kedok kejahatan para gembala, pemimpin Israel tersebut. Mereka tidaklah menggembalakan domba, tetapi hanya menikmati susu domba, membuat pakaian dari bulunya, dan menyembelih yang gemuk. Mereka pada dasarnya hanya menggembalakan dirinya sendiri (Yeh 34:2b-4).

Yesus Kristus Gembala yang Baik

  1. Kegagalan para pemimpin Israel kemudian diatasi Allah dengan mengirim utusan-Nya, Yesus, Sang Mesias, sebagai gembala umat-Nya. Dia turunan Daud yang sejati yang berasal dari Betlehem yang menggembalakan umat Israel (Mat 2:6; bdk. Mi 5:1-2; Sam 5:2). Dalam diri Yesus, potret gembala ideal terwujud secara sempurna. Dialah sang Gembala yang baik. Dia mengenal kawanan domba-Nya dan sebaliknya mereka mengenal Dia (Yoh 10: 1-18). Dia adalah gembala yang tidak mencari keutungan untuk diri-Nya sendiri tetapi selalu mengutamakan kepentingan domba-domba-Nya. Dia tidak menghitung untung-rugi dalam karya penggembalaann-Nya. Maka, bila seekor domba hilang, akan dicari-Nya sampai dapat, meskipun untuk itu, Dia harus meninggalkan sembilan puluh sembilan domba lainnya (Luk 15:4-7). Yesus setia memperjuangkan kebaikan domba-domba-Nya serta tidak takut dengan risiko dan bahaya yang mengancam. Bahkan, Dia rela mengurbankan diri-Nya demi keselamatan domba-domba-Nya (Yoh 10: 11-12).
  2. Kegembalaan sebagaimana tergambar dalam Kitab Suci Perjanjian Lama dan Baru di atas berdimensi ganda. Pertama, dimensi personal dan sosial. Gembala dekat dengan dombanya yang menggambarkan kedekatan Allah dengan manusia. Allah peduli pada manusia terutama yang miskin, telantar, dan tertindas. Kedua, dimensi historis dan soteriologis. Kegembalaan dialami secara nyata dalam sejarah pribadi, keluarga, kampung, komunitas, paroki, keuskupan, dan masyarakat secara keseluruhan. Ketiga, dimensi antropologis. Kegembalaan berkaitan dengan pemanusiaan manusia yakni menjadikan manusia utuh jasmani-rohani, pribadi-sosial, dan insani-ilahi. Keempat, dimensi ekologis. Kegembalaan berkaitan dengan metafora “padang rumput” yang hijau, yang berarti tanggungjawab untuk pemeliharaan dan pelestarian alam. Kelima, dimensi Kristologis dan Eklesiologis. Kepemimpinan dalam Gereja hendaknya selalu berarti partisipasi dalam tritugas Kristus dan pancatugas Gereja. Keenam, dimensi etis-moral. Kegembalaan berlandaskan ketulusan, cinta, perhatian, dan pengorbanan.

Perutusan Kegembalaan Gereja

  1. Dalam Tahun Penggembalaan 2020 ini, kami ingin menyadari panggilan dan perutusan kegembalaan Gereja bertolak dari semangat kegembalaan Allah sendiri. Panggilan kegembalaan ini menyapa pertama-tama hierarki, gembala tertahbis, yang melanjutkan karya penggembalan para rasul, yang telah dipilih oleh Yesus sendiri untuk menggembalakan kawanan domba-Nya (Yoh 21:15; bdk. KHK kan. 204). Paus pengganti Santo Petrus (CD 1), para uskup pengganti para rasul (LG 20), para imam (LG 28), diakon (LG 29) diurapi secara khusus dalam sakramen tahbisan untuk menjadi gembala Gereja.
  2. Uskup sebagai pengganti para rasul menjadi pemimpin utama Gereja lokal. Uskup dibantu dewan kuria yang bertugas mengkoordinasikan karya pastoral, mengelola administrasi, dan menjalankan fungsi yudikatif di Keuskupan (bdk. kan. 469). Untuk penggembalaan tingkat paroki, uskup mengangkat seorang pastor paroki (bdk kan. 519) yang bertugas menggembalakan atas mandat dari uskupnya.
  3. Peran kegembalaan tersebut juga diemban oleh kaum awam (bdk. LG 43—47), dan biarawan/wati (PC,1—2), sebab melalui sakramen baptis mereka juga telah dimeterai untuk menjadi gembala (bdk. LG 30, 32—36). Konsili Vatikan II melalui dekrit Apostolicam Actuositatem menegaskan bahwa, “kaum awam ikut serta mengemban tugas imamat, kenabian, dan rajawi Kristus, menunaikan bagian mereka dalam perutusan segenap Umat Allah dalam Gereja dan di dunia” (AA 2; bdk. kan. 204, par. 1, kan. 849, kan. 781). Lebih dari itu, tugas penggembalaan awam ini bukan berdasarkan delegasi hierarki tetapi dari persatuan mereka dengan Kristus. “Sebab melalui Baptis mereka disaturagakan dalam Tubuh Mistik Kristus, melalui penguatan mereka diteguhkan oleh kekuatan Roh Kudus, dan dengan demikian oleh Tuhan sendiri ditetapkan untuk merasul” (AA 3).
  4. Keterlibataan umat Allah dalam penggembalaan Gereja antara lain nyata secara struktural dan fungsional melalui keikutsertaan Dewan Pastoral Paroki (DPP) dalam karya pastoral (bdk. Kan 536 par. 1), dan Dewan Keuangan Paroki (DKP) dalam pengelolaan harta benda Gereja (bdk. kan 492 par. 1). Demikian pula dewan stasi dan pengurus Komunitas Basis Gerejawi turut serta dalam karya penggembalaan umat Allah.
  5. Peran khas penggembalaan dijalankan kaum awam di tengah-tengah dunia. Mereka diutus ke dunia dan hidup di tengah-tengah masyarakat sebagai ragi yang meresapinya dengan nilai Kristiani. Dalam kehidupan keluarga dan sosial, kaum awam menjalankan tugas sehari-hari dalam semangat injili (LG 31; AG 43). Mereka diutus khusus untuk menjadi gembala Kristiani dalam kehidupan ekonomi, politik, dan budaya. Awam adalah rasul Kristus yang menjadi garam dan terang di tengah-tengah dunia (Mat 5:13—16).
  6. Tugas dan perutusan seorang gembala bersifat holistik. Pertama-tama dia mewujudkan tugas penggembalaan Gereja untuk mewartakan (nabi), menguduskan (imam), dan melayani (raja) (bdk. LG 25—27; CD 12,15, dan 16). Seorang gembala Kristiani tidak hanya berperan dalam bidang spiritual dan ritual belaka, tetapi juga prihatin dan peduli terhadap kebutuhan manusia seutuhnya, baik dalam aspek rohani maupun jasmani (cura hominum). Gembala yang baik mencukupi keperluan domba-domba-Nya dalam segala aspek jasmani dan rohani (Mzm 23:1—6). Gembala Kristiani terlibat dalam seluruh suka dan duka, harapan, dan kecemasan dunia (GS 1). Secara khusus, naluri kegembalaan berkobar-kobar manakala domba-dombanya berada dalam keadaan sulit dan bahaya. Tugas gembala adalah mencari domba yang hilang, membawa pulang yang tersesat, membalut yang terluka, menyembuhkan yang sakit, dan menguatkan yang lemah (Yeh 34:16). Tugas Gembala tidak terbatas pada merawat kehidupan domba untuk kesejahteraan di dunia ini tetapi juga untuk kebahagiaan abadi. Gembala menyelamatkan domba dari kebinasaan kekal dan dari iblis (bdk. Mzm 40:3; Kej 3:15).
  7. Selain itu, perutusan kegembalaan Gereja berciri ekologis. Seorang gembala tidak hanya peduli terhadap domba-domba tetapi juga terhadap “padang rumput yang hijau dan air yang tenang”, tempat mereka mencari makanan dan minuman (bdk. Mzm 23:2). Alam semesta ini tidak sekadar bernilai ekonomis sebagai sumber kehidupan tetapi menjadi medan kehadiran Allah. Semesta alam adalah “wujud kasih Allah, kelembutan-Nya yang tanpa batas bagi kita” (LS, 84). Karena itu, gembala Kristiani bertanggung jawab untuk memperlakukan dan merawat alam semesta dengan lembut dan penuh kasih sayang sesuai dengan kehendak dan tindakan ilahi.

Karakter dan Ciri Gembala Sejati

  1. Dalam menjalankan tugas perutusannya seorang gembala perlu memiliki karakter dan ciri tertentu. Dia hendaknya mempunyai relasi yang intim dengan Allah, sehati, dan seperasaan dengan Allah. Seperti yang terungkap dalam diri para nabi, seorang gembala mendengar suara Allah dan merasakan apa yang ada dalam hati Allah. Dengan itu, dia sanggup mewartakan dan menjalankan kehendak Allah dengan setia dan berani. Seorang gembala memiliki kepekaan profetis. Kepekaan profetis adalah kemampuan untuk mendengarkan suara Allah di tengah-tengah hiruk-pikuk dunia ini. Gembala terlibat penuh dalam pergumulan di tengah dunia sekaligus membiarkan ruang kosong dalam dirinya untuk selalu diisi rahmat Allah. Seorang gembala sejati memiliki semangat kontemplatif. Dalam segala perjuangan dan dalam penderitaan hidup-Nya hanya Allahlah yang menjadi andalan dan sukacita hidupnya (bdk. 2 Kor 7:4).
  2. Selain itu, seorang gembala berelasi kasih dengan kawanannya. Dia tidak hanya mengenal mereka secara umum dan anonim tetapi juga secara pribadi. Dia mengenal mereka satu per satu (Yoh 10:3). Sebaliknya, mereka mengenal Dia, mendengar suara-Nya, dan mengikuti-Nya (Yoh 10:3—4). Gembala yang baik melayani kawanannya dan bukannya “main kuasa” terhadap mereka. Paradoks gembala Kristiani terjadi saat dia yang adalah tuan menjadi hamba yang melayani dombanya (bdk. Yoh 13:14). Dia juga tidak “cari untung” dari kawanannya tetapi melayani dengan tulus (2 Petr 5:2). Dasar pelayanannya adalah cinta yang total dan tanpa pamrih. Karena cinta ini pula, seorang gembala seperti Yesus berkurban dan memberikan nyawa bagi domba-Nya (Yoh 10:11).

Manajemen Pastoral

  1. Seorang gembala tidak hanya memimpin orang-orang tetapi juga memimpin lembaga dan mengelola organisasi. Karena itu, ia perlu juga mengenal aspek manajerial, organisatoris, dan keuangan dalam penggembalaan. Demikian pula penggembalaan sebagai karya untuk merawat, mengajar, membimbing, memotivasi, dan menciptakan solidaritas, bukanlah tindakan spontan belaka, tetapi harus diarahkan pada pencapaian tujuan yang ditetapkan bersama. Karena itu, penggembalaan gerejawi perlu didukung oleh kompetensi dan kapabilitas manajerial.
  2. Manajemen pastoral berarti seluruh rangkaian kegiatan berupa perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian terhadap manusia dan sumber-sumber lainnya. Semua ini diarahkan untuk mewujudkan karya penyelamatan Allah di tengah dunia secara efisien dan efektif dalam tuntunan Roh Kudus. Dalam tahapan perencanaan ditentukan tujuan yang mau dicapai bertolak dari berbagai sumber daya yang ada saat ini. Perencanaan pastoral, baik jangka pendek (Rencana Operasional), jangka menengah (Rencana Strategis), maupun jangka panjang (Rencana Induk/Master Plan) perlu diimplementasikan. Untuk itu dibutuhkan tahap pengorganisasian yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya manusia, yakni bagaimana memilih dan menempatkan personalia-personalia pastoral pada berbagai unit kerja sebagaimana diatur dalam struktur dan sistem organisasi Gereja. Selanjutnya, manajemen pastoral berkaitan pula dengan pengelolaan manusia dan relasi manusiawi. Karena itu, dalam tahap pengarahan seorang manajer bertugas mengkomunikasikan, memotivasi, dan menyelesaikan konflik. Akhirnya, manajemen pastoral menangani pula pengendalian yang berhubungan dengan aktivitas untuk mengetahui capaian-capaian pastoral dengan menggunakan ukuran dan standar tertentu baik selama proses maupun akhir program (monitoring dan evaluasi pastoral).

Konteks Budaya Manggarai

  1. Dalam konteks Gereja lokal Keuskupan Ruteng tersedia kekayaan kultural Manggarai sebagai sumber inspirasi dalam karya penggembalaan. Metafora penggembalaan bukanlah sesuatu yang asing dalam kebajikan tradisi Manggarai. Berbagai ungkapan atau go’ét menyumbang makna yang kaya dan mendalam bagi karya kegembalaan Gereja. Dalam doa, harapan, dan nasihat orang Manggarai: go’ét-go’ét berikut sering didengar: Wéngko le cébo, pedeng le cedek, pening le pecing, na’ang le manga; Éme lonto bongkok, cau landuk, paka ambi satar ngalis, pélét tiwu léwé, wasé wengké; Ker néténg gula, koing bilang mané, sésok néténg béo, lambar néténg satar, dekos oné lengkong; Caling bilang bari, roés cau doké, cikéng téing ci’é. Dalam ungkapan-ungkapan ini, kepemimpinan atau penggembalaan mengacu pada kemampuan untuk téing/tinu-memberi, merawat; toing-mengajar, menunjukkan; titong-membimbing, mendampingi; tatang/titing-memotivasi, mengidentifikasi; tatong-menciptakan solidaritas dan subsidiaritas. Dengan itu, seorang pemimpin (gembala) menjadi pelayan yang memelihara, mendukung, memberi makanan, memenuhi kebutuhan, menguatkan, dan merawat mereka yang dipimpinnya (ata sakong agu cakong, ata intur, dan keturu).
  2. Demikian pula dalam institusi kepemimpinan Manggarai terdapat tu’a golo, tu’a teno, tu’a gendang, tu’a panga dan konsep-konsep teno/landuk, bongkok, ata sawi, ata lami paéng, dan ata émba, yang bermakna dan berfungsi penggembalaan dalam kehidupan adat yang berlangsung turun-temurun. Hal lain, adalah kebersamaan (komunio) tradisional Manggarai dalam bentuk berbagai pertemuan keluarga (wa’u) dan upacara adat yang memperkaya gagasan penggembalaan. Kebijakan lokal Manggarai yang juga ditemukan dalam habitus lonto léok merupakan khazanah kultural yang sangat berharga dalam pemahaman dan penghayatan karya penggembalaan Gereja di bumi Nucalale.

Program dan Kegiatan Pastoral Tahun Penggembalaan

  1. Bertolak dari konteks situasi pastoral dan inspirasi biblis-teologis-kanonis-kultural di atas, kami bersepakat dan berketetapan hati untuk mewujudkan program dan kegiatan pastoral selama Tahun Penggembalaan 2020. Dalam tingkat keuskupan dan kevikepan, kami ingin mewujudkan program-program unggulan berikut ini:
  2. Bagi gembala tertahbis: pelatihan manajemen pastoral bagi pastor paroki; lokakarya reksa pastoral kategorial yang kontekstual-integral bagi pastor paroki; pelatihan pastoral kontekstual-integral bagi imam balita; dan hari studi tentang arah dasar dan pola pastoral sinode III Keuskupan Ruteng bagi para diakon.
  3. Bagi gembala terbaptis awam dengan peran khusus di paroki: pelatihan lektor akolit bagi utusan paroki; pelatihan pastoral kontekstual-integral bagi pengurus DPP; pelatihan pertanian organik bagi utusan paroki; kursus ekonomi kreatif bagi utusan OMK paroki; simulasi berkelanjutan materi modul KPPK KR bagi pendamping KPPK paroki; dan lokakarya penyusunan program pastoral kontekstual integral bagi pimpinan organisasi rohani.
  4. Bagi gembala terbaptis awam kelompok profesional dan kategorial: lokakarya prinsip politik kristiani; retret bagi keluarga balita utusan paroki; lokakarya pariwisata yang integral dan berkelanjutan (ekonomis, ekologis, dan kultural); lokakarya “Parenting Pola Pengasuhan dengan Cinta”; sosialisasi materi Katekese Umat APP Tahun Penggembalaan 2020; rekoleksi persiapan paskah 2020 bagi guru dan kepala sekolah; camping anak dan pembina: Menjadi gembala cilik misioner; youth camp: orang muda menjadi gembala milenial; dan family gathering ekumene: menjadi gembala inklusif.
  5. Menjadi gembala bagi kelompok rentan (gembala bagi “domba yang hilang”): pendampingan kelompok difabel; pendampingan kelompok migran; pendampingan korban kekerasan; pendampingan kelompok cacat mental; advokasi yuridis bagi ‘domba’ yang membutuhkan; dan pastoral kegembalaan orang muda dalam lingkup kos-kosan dan asrama.
  6. Menjadi gembala ekologis: gerakan kebersihan; budaya hidup sehat dan asri; serta program penghijauan.
  7. Dalam tingkat paroki, kami berkomitmen untuk melaksanakan program-program berikut:
  8. Kategori Gembala Paroki Tertahbis (Pastor Paroki-Pastor Rekan- Diakon): Kunjungan pastoral terprogram ke stasi (wilayah); Katekese orangtua/wali baptis; Misa harian di gereja paroki; Gembala bagi generasi milenial (pendampingan OMK); Gembala bagi anak dan remaja (pendampingan Sekami); dan Gembala bagi komunitas Rohani.
  9. Kategori Gembala Terbaptis dengan Peran Khusus di Paroki (DPP, DKP, Pengurus Stasi/ wilayah, pengurus KBG, dan kelompok kategorial): Pelatihan kepemimpinan bagi pelayan DPP/DKP/Stasi (wilayah)/KBG; Pelatihan pegawai sekretariat paroki; pelatihan bendahara/tenaga keuangan paroki; pelatihan kepemimpinan bagi pelayan kelompok kategorial (usia/kelompok rohani).
  10. Kategori Gembala Terbaptis dalam kehidupan sosial kemasyarakatan (politik, ekonomi, dan sosial budaya): lokakarya/seminar bagi pejabat publik dan politisi (Kevikepan/Paroki); lokakarya/seminar bagi pelaku bisnis/pedagang; dan lokakarya/ seminar bagi pemangku adat.
  11. Kategori gembala terbaptis dalam kehidupan sehari-hari (keluarga, dalam pekerjaan): Rekoleksi/retret umat tentang gembala dalam kehidupan sehari-hari; Rekoleksi bertema gembala dalam kehidupan petani; rekoleksi bertema gembala dalam kehidupan guru; rekoleksi bertema gembala dalam kehidupan pelayan kesehatan (tenaga medis); rekoleksi bertema gembala dalam kehidupan tukang; dll (sesuai konteks paroki).
  12. Kategori gembala kelompok rentan: pemberkatan nikah “pasutri kawin kampung”; gembala bagi keluarga bermasalah/”retak”, gembala bagi kelompok difabel; gembala bagi keluarga migran; gembala bagi kelompok lansia; gembala bagi orang sakit (program kunjungan orang sakit); gembala bagi keluarga berduka (program waé lu’u bagi keluarga berduka); dan gembala bagi korban KDRT.
  13. Kami juga berkomitmen untuk terus menjalankan program dan gerakan rutin yang selama ini mewarnai dan memaknai implementasi Sinode III dari tahun ke tahun.
  14. Program rutin terdiri dari: perencanaan program pastoral tahun penggembalaan; monitoring program pastoral tahun penggembalaan; evaluasi program pastoral tahun penggembalaan; penyusunan agenda tahunan program tahun penggembalaan KBG, misa pembukaan tahun penggembalaan; sosialisasi tahun penggembalaan; katekese umat tahun penggembalaan; dan misa inkulturasi minggu III.
  15. Gerakan rutin meliputi kegiatan: perayaan HOSS di paroki; perayaan hari lansia di paroki; perayaan hari difabel di paroki; gerakan mendaraskan doa tahun penggembalaan di paroki; gerakan mengidungkan lagu tahun penggembalaan di paroki; gerakan membaca teks Kitab Suci harian yang dirangkaikan dengan doa dalam pertemuan Paroki; dan gerakan doa malam dalam keluarga.
  16. Dalam mengembangkan manajemen pastoral yang bermutu dan terpadu, kami berkomitmen untuk mengembangkan dan memperkuat pastoral data (sistem informasi pastoral). Hal ini dilakukan melalui kegiatan: pengarsipan semua program dan kegiatan pastoral (dokumen perencanaan, materi pertemuan, daftar hadir, notulen rapat, foto kegiatan); sharing data antarparoki; pembentukan dan pengoperasian grup medsos sekretariat, dan bendahara paroki tingkat keuskupan; pembuatan jurnal harian paroki dan jurnal harian pastor; dan penyusunan agenda tahunan paroki dan KBG.
  17. Selain paroki, stasi, dan KBG, semua lembaga dan komunitas Katolik yang berada dalam wilayah Keuskupan Ruteng wajib menjalankan program dan gerakan Tahun Penggembalaan 2020. Oleh sebab itu, semua yayasan pendidikan, kampus dan sekolah-sekolah, biara-biara, komunitas-komunitas rohani, dan lembaga-lembaga sosial Katolik lainnya perlu memperhatikan dan memilih berbagai program, kegiatan, dan gerakan pastoral Tahun Penggembalaan yang dapat dilakukan dalam lingkungan masing-masing.
  18. Secara khusus kami ingin menggalakkan formasi para calon gembala baik klerus (OT 1—2) maupun awam (bdk. CD 14) di lembaga pendidikan seminari dan lembaga pendidikan lainnya (bdk. GE).
  19. Kami menyadari dan ingin terus melanjutkan kerjasama yang konstruktif dengan pemerintah, LSM, dan semua pihak dalam membangun dan menyejahterakan masyarakat di Manggarai Raya.
  20. Kami mengapresiasi dan mendorong:
  21. Puspas Keuskupan Ruteng agar terus mengkoordinasi reksa pastoral secara integral, berkesinambungan, efisien dan efektif, dan tetap mengadakan pelatihan-pelatihan pastoral yang kontekstual dan bermutu bagi para pelayan/gembala pastoral.
  22. Para Vikep dan para imam sebagai gembala tertahbis, agar terus mengkoordinasi reksa pastoral di tingkat kevikepan, paroki dan lembaga, dan terus berjuang menjadi gembala yang “berbau domba”.
  23. Para awam terbaptis (DPP, DKP, pelayan stasi, dan KBG) dengan peran partisipatif dan konsultatif di paroki agar terus terlibat menjadi gembala awam yang melayani Gereja dengan tekun, tangguh, dan tanpa pamrih.
  24. Seluruh umat agar dalam kehidupan pribadi, keluarga, pekerjaan, dan sosial terlibat aktif kreatif dalam program dan gerakan bersama untuk menjadi gembala dalam kehidupan sehari-hari baik dalam perutusan di tengah kehidupan Gereja maupun menjadi garam dan ragi injil bagi dunia.

Penutup

  1. Dalam Tahun Penggembalaan ini, kami umat Allah Keuskupan Ruteng berkehendak untuk semakin meneladani Kristus, Sang Gembala Agung, yang penuh belas kasih. Dia adalah gembala yang mencari domba yang hilang, membawa pulang yang tersesat, membalut yang terluka, menyembuhkan yang sakit, dan menguatkan yang lemah (Yeh 34:16; bdk. Luk 4:18-19). Dia datang agar manusia hidup dan mempunyainya dalam kelimpahan (Yoh 10:10). Sebagaimana para gembala Betlehem, kami ingin terus mencari dan menemukan-Nya. Kami ingin menyembah Dia dan mempersembahkan hidup dan karya penggembalaan kami ke dalam haribaan pangkuan cinta ibu-Nya, Santa Perawan Maria dan dalam kekuatan perlindungan kasih Santo Yosef. Bersama Keluarga Kudus Nasaret, kami ingin selalu memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang kami dengar dan kami lihat dalam Tahun Penggembalaan ini (bdk. Luk 2:15-20