Katoliknews.com – Memburuknya hubungan AS-Iran akan berdampak bagi seluruh dunia, demikian Paus Fransiskus memberi peringatan soal ketegangan kedua Negara itu, dalam pidato kebijakan tahunannya di hadapan para duta besar di Vatikan, Kamis 9 Januari 2020.

“Yang paling meresahkan adalah sinyal-sinyal yang datang dari seluruh wilayah menyusul meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Di atas segala-galanya, situasi itu memaksa orang untuk mengkompromikan proses pembangunan kembali di Irak secara bertahap. Termasuk untuk menetapkan landasan dari banyak konflik yang ingin kita semua hindari,” kata Paus Fransiskus Washingtonpost.com.

“Oleh karena itu saya kembali memohon supaya semua pihak yang berkepentingan menghindari meningkatnya konflik dan mempertahankan nyala api dialog dengan berusaha menahan diri untuk benar-benar menghormati hukum internasional,” lanjutnya.

Selain itu, Paus Fransiskus mengecam “sikap bungkam” di antara para pemimpin dunia terkait dengan soal perang yang sekian lama berlangsung lama di Suriah, krisis kemanusiaan di Yaman dan pertempuran intensif di Libya yang menurut Paus menjadi keprihatinannya bagi Gereja Katolik.

Para pejabat Vatikan dan para pemimpin Kristen di Irak pernah menyampaikan kekhawatiran mereka tentang serangan udara pada Jumat 3 Januari lalu di Irak yang menewaskan Komandan Pasukan Quds dari Korps Garda Revolusioner Islam Iran (IRGC), Qassem Soleimani tewas. Selain itu, mereka menyampaikan kekhawatiran soal arti serangan itu bagi minoritas Kristen Iran yang sudah terkepung.

Paus asal Argentina itu juga berharap bisa mengadakan lawatan ke Irak tahun ini untuk melayani umat beriman yang mengalami serangan dan penganiayaan bertahun-tahun oleh kelompok Negara Islam. Meski begitu, sampai sejauh ini belum ada pemberitahuan tentang rencana perjalanan itu.

Selain itu, Paus juga sempat berbicara tentang rekor tujuh lawatannya ke luar negeri pada 2019.

Misalnya, ia menyoroti seruannya saat mengunjungi Jepang untuk melarang untuk menggunakan dan memiliki senjata nuklir. Ia berniat untuk membuat kebijakan resmi dalam gereja Katolik terkait penggunaan dan memiliki senjata nuklir sebagai sesuatu yang ‘tidak bermoral’.

“Sudah tiba saat para pemimpin politik menyadari bahwa dunia yang lebih aman terjadi bukan dengan memiliki alat penghancur massal yang kuat, tetapi dengan upaya sabar dari pria dan wanita yang memiliki niat baik yang mengabdikan diri secara konkret, masing-masing dalam bidangnya sendiri, untuk membangun dunia yang damai, yang solider dan saling menghormati, ” katanya.

Jacobus E. Lato