Jumlah Umat Katolik di Korsel Meningkat, yang Hadiri Misa Menurun

Foto saat Paus Fransiskus mengunjungi Korsel pada 2014. Populasi umat Katolik meningkat 50 persen di negara itu selama dua dekade terakhir. Perningkatan yang cukup signifikan terjadi pada 2014 saat Paus mengungjungi negara itu. (Foto: Ist)

Katoliknews.com  Sebuah riset terbaru menemukan bahwa pertumbuhan umat Katolik di Korea Selatan (Korsel) mengalami peningkatan sebesar 50 persen dalam dua dekade terakhir. Namun, survei yang sama juga memperlihakan tren penurunan tajam untuk umat yang menghadiri Misa.

Populasi umat Katolik di negara itu naik dari angka 8,3 menjadi 11,1 persen dari total populasi, demikian laporan Korea Herald, mengutip sebuah penelitian dari Institut Pastoral Katolik Korea.

Tahun 2018, jumlah umat Katolik di negara itu mencapai 5.866.510 jiwa, naik dari 3.946.844 jiwa pada tahun 1999.

Namun, jika dilihat dari tahun ke tahun, pertumbuhannya stabil di angka di bawah satu persen.

Pertumbuhan yang signifikan terjadi pada 2014, ketika Paus Fransiskus mengunjungi negara itu, di mana kala itu pertumbuhannya mencapai 2,2 persen.

Tahun-tahun berikutnya, pertumbuhannya kembali ke angka di bawah satu persen.

Sementara itu, dilihat dari segi usia, mayoritas umat Katolik di Korea saat ini sudah berusia lanjut. Penelitian yang sama menemukan bahwa jumlah umat Katolik di bawah usia 9 tahun mengalami penurunan 32,4 persen, sementara populasi remaja turun 33,2 persen.

Sebaliknya, jumlah umat Katolik usia 50-an tahun meningkat 76,9 persen, mereka yang berusia 60-an naik 93 persen, yang berusia 70-an melonjak 117 persen dan mereka yang berusia 90-an tahun melonjak 251,6 persen.

Dalam laporan yang sama, dijelaskan juga bahwa jumlah umat yang hadir Misa justru menurun drastis dari 29,5 menjadi 18,3 persen selama periode yang sama.

“Turunnya tingkat kehadiran dalam Misa Minggu menjadi perhatian. Masalah yang sama berulang setiap tahun. Sudah waktunya untuk memikirkan karya misi kita saat ini dan mempertimbangkan kembali arah evangelisasi nasional,” demikian dikatakan dalam laporan itu, sambil mengingatkan bahwa meningkatnya generasi usia lanjut menjadi tantangan tersendiri bagi Gereja.