Lewat Gerakan Bale Nagi, Warga Diaspora Flores Timur Diajak Pulang Kampung Saat Pekan Suci

Prosesi Semana Santa di Larantuka, sebuah tradisi religius yang sudah dipraktekkan lebih dari 500 tahun. (Foto: Ist)

Katoliknews.comPemerintah Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur meluncurkan Gerakan Bale Nagi (GBN), yang bertujuan untuk mengajak orang-orang Flores Timur yang berada di luar Larantuka atau Diaspora untuk pulang kampung saat Pekan Suci tahun ini.

Daerah di ujung timur Pulau Flores itu memiliki tradisi ratusan tahun saat Pekan Suci yang disebut Semana Santa.

Simon Lamakadu, Ketua Pelaksana GBN menjelaskan Bale Nagi merupakan frasa Melayu Larantuka yang berarti pulang kampung. 

“Bagi orang Flores Timur frasa ini memiliki arti khusus untuk mengajak masyarakat Flores Timur mengangkat potensi wisata alam, budaya, dan wisata religi yang ada di daerahnya seperti hari Paskah yang digelar perhelatan Semana Santa,” katanya saat peluncuran GBN di Gedung Sapta Pesona Balairung Soesilo Soedarman Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Jakarta, Sabtu, 18 Januari 2019.

BACA JUGA: Semana Santa: Sejarah dan Rangkaian Acara

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Flores Timur Apolonia Corebima mengatakan, GBN ini merupakan sinergi antara diaspora yang ada di Luar Flores Timur.

Ia menjelaskan, sebenarnya tahun lalu sudah digelar Festival Bale Nagi yang tujuannya untuk menjadi daya tarik baru bagi para peziarah.

Ajang itu, tambahnya, ternyata mampu menjaring wisatawan ke wilayah Larantuka.

“Biasanya wisatawan yang datang ke Larantuka saat Semana Santa hanya 1-2 hari. Semoga dengan digelarnya gerakan dan Festival Bale Nagi, lama tinggal wisatawan bisa semakin panjang mencapai 7 hari,” katanya seperti dikutip Tempo.co.

Ia menjelaskan, berbagai kegiatan telah disiapkan untuk menghadirkan atraksi bagi wisatawan, seperti festival tenun ikat, kuliner lokal, dan berbagai kegiatan lainnya sebelum akhirnya mengikuti prosesi Semana Santa atau Pekan Suci yang merupakan sebuah perayaan liturgi dan devosi umat Katolik di Larantuka.

BACA JUGA: Semana Santa Sebagai Aset Wisata Rohani: Peluang dan Tantangan

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata yang saat ini berubah nomenklatur menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Rizky Handayani menambahkan, setiap tahun, banyak wisatawan asing yang antusias mengikuti ritual rohani, yang merupakan salah satu peninggalan bersejarah dalam sejarah umat Kristen-Katolik tersebut.

“Ratusan orang peziarah dari mancanegera hadir di Larantuka. Karena Semana Santa ini sudah ada sejak dahulu di Larantuka, prosesinya hampir sama dengan yang ada di Portugal. Jadi ini menjadi daya tarik wisata religi bagi wisatawan,” katanya.