Warga di Karimun Ngotot Agar Pemerintah Cabut IMB Gereja Katolik

Puluhan umat Islam Kabupaten Karimun yang mengatasnamakan Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) Kabupaten Karimun menggelar aksi damai menolak IMB gereja, Jumat, 17 Januari 2020. (Foto: Posmetro.co)

Katoliknews.com – Sekelompok warga yang mengatasnamakan Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) meminta Pemerintah Kabupaeten Karimun mencabut Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Gereja Katolik Paroki Santo Joseph Tanjungbalai yang sudah diterbitkan Oktober tahun lalu.

Penerbitan IMB ini juga digugat oleh kelompok masyarakat lainnya di Karimun ke Pengadilan Tata Usaha Negara.

Ketua FUIB Karimun, Abdul Latif menyatakan, alasan penolakan itu adalah karena Karimun dihuni mayoritas Muslim.

“Kami masyarakat Karimun sederhana aja. Jangan dibangun gereja, itu aja,” katanya seperti dikutip Batamnews.co.id.

“Kalau mau bangun di tempat lain silahkan, mau 10 tingkat pun tidak masalah. Bahkan di depan masjid agung pun silahkan,” tambahnya.

Ia menjelaskan, penolakan itu merupakan bagian dari tekanan agar pihak-pihak terkait dapat melihat bahwa masyarakat Kabupaten Karimun tidak tinggal diam.

“Dengan pembangunan (gereja) itu, masyarakat Karimun akan merasa tergores. Bahkan, jika dipaksakan, akan dikhawatirkan akan terjadi hal-hal (yang) dapat merugikan. Itu yang kita hindari, makanya kita adakan pressure dulu agar itu hal itu terjadi,” kata Latif.

Meski menolak menolak pembangunan gereja, Latif  mengklaim FUIB sebagai kelompok toleran yang menghargai perbedaan beragama.

“Sudah toleransi sekali. Artinya, kita tidak melarang, di sini kan juga banyak gereja,” katanya.

Ia mengatakan, pihaknya menunggu pemerintah mencabut IMB itu hingga tanggal 24 Januari 2020.

“Sebab kalau itu tidak dicabut, kami akan turun kembali ke jalan,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Agama Fachrul Razi mengklaim sudah menengahi kasus tersebut.

Dilansir Suara.com, menurut Menag, pemprotes pembangunan gereja mempermasalahkan soal tinggi gereja tersebut.

“Tadi sudah kami omongkan,” ujar Fachrul di sela kunker di Vihara Duta Maitreya Monastery, Batam, Selasa, 21 Januari 2020.

Dari hasil pembicaraan tersebut, Fachrul menyampaikan persoalan tersebut sedang diselesaikan.

Warga yang menolak pembangunan gereja mengajukan sejumlah permintaan.

“Salah satunya mereka minta supaya tinggi (rumah ibadah-red), tidak setinggi itu,” sebutnya.

Permintaan para warga tersebut juga telah disanggupi oleh pengurus gereja.

Dia berharap agar pembangunan bisa berjalan dengan baik ke depannya.

Pada kesempatan tersebut, Fachrul mengajak agar semua pihak bisa menjaga keberagaman.

“Mari semua kita sama-sama tetap jaga,” katanya.