Uskup Jayapura Akan Gelar Dialog dengan Praktisi Media

Uskup Jayapura, Mgr. Leo Laba Lajar OFM. (Foto: Wartaplus.com)

Katoliknews.com – Uskup Jayapura, Mgr Leo Laba Ladjar OFM akan menggelar pertemuan dengan praktisi media pada Sabtu, 1 Februari 2020.

Pertemuan ini bakal berlangsung di Wisma Susteran Maranatha, Waena, Jayapura dari pagi hingga petang dan akan ditutup dengan Perayaan Ekaristi.

Ketua Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Jayapura, Pastor Goklian Paraduan Haposan OFM mengatakan, dalam pertemuan itu, panitia mengundang jurnalis, penulis buku, kolumnis serta penyiar radio dan televisi.

Selain itu mereka juga mengundang pegiat media sosial, seperti Youtuber dan pengguna aktif Facebook, Instagram dan Twitter.

Targetnya, kata dia, acara itu dihadiri 100 orang.

“Untuk pegiat media di luar kota Jayapura akan difasilitasi oleh ketua panitia acara, Robert Vanwi Subiyat yang juga merupakan pemimpin redaksi di salah satu media online,” katanya seperti dilansir Wartaplus.com.

Menurutnya, pertemuan ini dibuat untuk mendalami amanat Konsili Vatikan II dalam Dekrit Inter Mirifica dimana Gereja Katolik “memandang bahwa tugasnya yang hakiki untuk mewartakan keselamatan ‘melalui sarana media komunikasi modern’ akan memberikan contoh bagi umat untuk menggunakan sarana-sarana komunikasi tersebut secara tepat.”

Ia juga mengatakan, pertemuan ini akan menjadi momen berbagi dari hati ke hati dengan para pegiat media terkait peluang dan tantangan memanfaatkan sarana komunikasi modern, demi  mendukung terciptanya perdamaian di Papua.

“Momen seperti ini jarang, tidak mudah mencari waktu untuk berkumpul dengan para pegiat media,” katanya.

Pertemuan ini akan dihadiri juga oleh perintis berdirinya Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI), Albertus Magnus Putut Prabantoro.

Putut yang sudah mengonfirmasi akan hadir dalam acara itu mengatakan bakal berbagi suka dan duka, peluang dan tantangan dengan para pegiat media “agar saling menguatkan satu sama lain.”

Ia menyebut, pegiat media merupakan agen pewarta kebebasan, kebenaran, keadilan dan cinta kasih di tengah kemajemukan di Papua.

“Dengan prinsip 100 persen Katolik, 100 persen Papua, 100 persen Indonesia, kita harus menjadi anggota umat beragama yang baik dan warga negara yang baik pula,” katanya.