Tumbuhnya benih tanpa banyak jasa penabur menunjukan cara Allah bertindak kepada manusia. Ia bertindak dengan penuh daya kasih di luar pemikiran manusia. (Foto: Ist)

Oleh: ANDRE ATAWOLO OFM

Injil antara lain menggelari Yesus sebagai Guru. Ia ‘biasa mengajar para murid dan orang banyak yang datang kepada-Nya’ (Mrk. 10: 1). “Metode” khas Guru Yesus adalah mengajar dengan perumpamaan.

Perumpamaan juga merupakan sarana yang dipakai Yesus untuk membangun relasi dengan para pendengar agar mereka tumbuh dalam iman.

Proses Rahasia

Perumpamaan tentang penabur benih (Mrk 4) misalnya, menggambarkan realitas Kerajaan Allah sebagai sebuah proses pertumbuhan, dan Allah sebagai pemeran utamanya. Tumbuhnya benih tanpa banyak jasa penabur menunjukan cara Allah bertindak kepada manusia. Ia bertindak dengan penuh daya kasih di luar pemikiran manusia.

Mrk. 4: 1-9. Benih yang ditaburkan akan berbuah, meskipun dalam prosesnya ada yang dimakan burung, jatuh di tanah berbatu-batu, atau terhimpit semak duri. Benih yang tumbuh di tanah subur akan berbuah melimpah: tiga puluh, enam puluh, bahkan seratus kali lipat.

Mrk. 4: 26-29. Penabur tampaknya pasif: Ia menanam benih, lalu tidur pada malam hari, tanpa mengetahui bagaimana benih itu bertunas, makin tinggi, mengeluarkan tangkai dan menghasilkan buah. Penabur hanya memberi sedikit peran, selebihnya karya Allah sendiri. Fokus perumpamaan ini bukan benih, melainkan penyelenggaraan Ilahi.

Mrk. 4: 30-32. Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Karya-Nya jauh melampaui perkiraan manusia, berlimpah melebihi dugaan manusia. Awal yang kecil dan sederhana bukanlah tanda kegagalan. Biji sesawi yang kecil tampak tidak menjanjikan namun akan bertumbuh menjadi pohon besar, mengeluarkan cabang-cabang besar, menaungi burung-burung di udara.

Cara Allah

Benih Kabar Baik yang ditaburkan Yesus tampaknya kecil dan tak berarti di mata para penguasa dunia – bagaikan biji sesawi yang paling kecil di antara segala jenis benih di bumi – justru terus menarik banyak orang dari segala suku dan bahasa – bagaikan sesawi yang telah menjadi pohon berdahan besar yang menaungi burung-burung di udara. Yang terakhir ini juga menjelaskan ciri universal Kerajaan Allah. Biarpun benihnya luput dari perhatian manusia, Kerajaan Allah tumbuh secara menakjubkan menaungi segala bangsa. Sebab, apa yang mustahil bagi manusia, mungkin bagi Allah (Mrk. 10: 27).

Yesus menggunakan “logika” benih untuk memberi pemahaman tentang Kerajaan Allah. Cara Allah meraja tidak dapat diukur dengan strategi dan campur tangan kuasa manusia. Tendensi untuk melihat Gereja dengan lebih mementingkan hasil dan sturktur yang disertai rekayasa manusia, kiranya perlu diseimbangkan dengan cara pikir intuitif Injili ini.

Kepenuhan Kerajaan Allah pertama-tama terjadi atas cara Allah bertindak. Dengan filosofi relasi antara petani dan benih, Santo Yakobus (Yak. 5: 7-8) mengajak kita untuk bersabar menantikan kedatangan Kerajaan Allah: “Hendaklah kamu sabar menantikan kerajaan Tuhan, seperti seorang petani menuggu, sampai ladang menghasilkan buah berharga. Dan sementara ia menanti dengan sabar, turunlah hujan. Maka hendaklah kamupun sabar dan tabah hati, sebab sudah mendekatlah hari kedatangan Tuhan.”

Filosofi Penabur

Seorang penabur hanya berurusan dengan bagian luar benih: menanamkannya ke dalam tanah. Setelah menanam, pwnabur tidur pada malam hari dan bangun, sementara benih tumbuh dan berkembang dengan sendirinya, tanpa campur tangan keterampilan penabur.

Relasi penabur dan benih berbeda dengan, misalnya, relasi antara pedagang dan dagangannya. Seorang pedagang meninggalkan barangnya pada malam hari, dan ketika ia bangun, barang itu masih seperti semula. Laku atau tidak lakunya barang dagangan sangat ditentukan oleh keahlian manusia. Sedangkan bagi seorang penabur, sekali ia menabur, benih bekerja sendiri. Bagaimana benih tumbuh menjadi pohon dan menghasilkan buah, itu melampaui kontrol penabur. Kehidupan tidak bergantung pada si penabur. Sikap pasif si penabur adalah gambaran kuasa Allah dalam menegakkan Kerajaan-Nya.

Dampak Aktivisme

Dalam dunia pertanian ada filosofi sederhana bahwa benih tumbuhan yang terlalu direkayasa tangan manusia, malah mudah mati, atau tampaknya cepat bertumbuh dan berbuah, tetapi berkualitas rendah, dan tidak awet untuk disimpan lama.

Aktivisme manusia yang berlebihan justru merusak intuisi alam yang berjalan perlahan namun pasti. Rekayasa genetika jutru mengerdilkan keindahan asli kehidupan. Perumpamaan tentang benih mengajarkan sebuah kebijaksanaan tentang keterbukaan manusia pada cara Allah bertindak (baca: “meraja”).

Dalam arti tertentu, bencana alam, penyakit, atau ancaman alam lainnya merupakan dampak dari rekayasa manusia yang melanggar irama alam dan merusak daya tahannya. Penggunaan bahan pengawet makanan yang tidak proporsional misalnya, beresiko bagi kesehatan manusia. “Rekayasa” berlebihan terhadap tubuh manusia (kosmetik, obat-obatan, bedah plastik) memalsukan keindahan dan mencerminkan krisis identitas sejati manusia.

Prinsip manusia ekonomi zaman modern telah menundukkan manusia ke dalam tuntutan mekanisasi dan otomatisasi kerja. Dunia industri memandang kekayaan bumi dan manusia sebagai “benda” yang boleh dipatok dengan perhitungan untung dan rungi.

Harapan

Perumpamaan tentang penabur mengajarkan tentang harapan manusia akan tindakan Allah. Sejumlah kegagalan yang dialami penabur tidak menghambat daya kerja alam. Akan ada hasil akhir yang lebih besar, yang memberi harapan kepada pemberita Injil. Benih Sabda yang telah ditabur oleh Kristus, kemudian diwariskan melalui pewartaan para Rasul, dan berkembang dalam ziarah hidup.

Kekuatan Sabda Yesus laksana biji sesawi amat kecil yang berkembang menjadi pohon besar. Ziarah hidup manusia ibarat benih yang ditaburkan, bertumbuh, menghasilkan buah, dan akan tiba saatnya disabit oleh tuannya.

Yesus Sang Penabur benih Sabda mengajak kita membangun pola hidup dan relasi, juga dalam hidup menggereja, secara lebih partisipatif berdasarkan tuntunan kehendak Allah. Filosofi penabur benih menggugah kesadaran kita bahwa manusia, oleh karena hasrat memiliki, sering kali menempatkan diri seolah-olah sebagai saingan Allah.

Bukankah sikap itu adalah akar dosa?

Artikel ini sebelumnya dimuat di Andreatawolo.id, blog milik Pastor Andre Atawolo OFM. Silahkan membaca tulisan lain dari pengajar teologi dogmatik di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini dengan mengklik di sini!