Kiai Haji Salahuddin Wahid alias Gus Sholah tidak hanya dikenal sebagai pemuka agama, tapi juga seorang negarawan, yang menjunjung tinggi pluralisme agama. Ia meninggal pada Minggu, 2 Februari 2020. (Foto: Mediaindonesia.com)

Katoliknews.com – Meninggalnya Kiai Haji Salahuddin Wahid alias Gus Sholah tidak hanya menjadi duka bagi umat Muslim, tapi bagi seluruh bangsa Indonesia.

Sosoknya tidak hanya dikenal sebagai pemuka agama, tapi juga seorang negarawan, yang menjunjung tinggi pluralisme agama.

Gus Sholah yang meninggal dunia di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta pada Minggu 2 Februari 2020 dalam usia 77 tahun, dimakamkan pada hari ini di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

Romo Antonius Benny Susetyo, Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP)  menyebut adik kandung mendiang Abdurrahman Wahid alias Gus Dur itu sebagai tokoh penting bangsa.

Ia mengaku mengenal Gus Sholah sejak 1996, perihal bagaimana ide dan tindakannya yang konsisten terhadap keberagaman di Indonesia.

“Kita kehilangan tokoh bangsa yang berjasa dalam memperjuangkan nilai demokrasi dan pluralisme,” kata Romo Benny.

Ia juga menyebut Gus Sholah sebagai pejuang hak asasi manusia. Menurut Gus Sholah, jelasnya, perdamaian adalah kondisi yang senantiasa diperjuangkan karena itu juga adalah hak asasi semua rakyat Indonesia.

“Misalnya, Gus Sholah bersama mencari solusi untuk Papua Tanah Damai, Gus Sholah bertemu dengan para uskup Papua untuk mencari solusi perdamaian,” kenangnya.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo menyebut Gus Sholah sebagai “sosok cendekiawan Muslim yang menjadi panutan kita bersama.”

“Kita semuanya masyarakat Indonesia sangat kehilangan atas berpulangnya beliau ke Rahmatullah,” kata Jokowi.

Gus Sholah lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 11 September 1942.  Ia adalah pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng.

Gus Sholah menempuh bangku pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan Arsitektur.

Dari sekian keterlibatannya di sejumlah organisasi, ia pernah menjabat sebagai Ketua Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) pada tahun 1999-2004.

Selain itu, ia juga pernah menjadi Wakil Ketua II Komnas HAM pada 2002-2007.

Pendeta Gomar Gultom, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) menyebut Gus Sholah telah menorehkan catatan panjang dalam sejarah perjalanan bangsa ini.

Ia mengatakan, sebagai seorang ulama, Gus Sholah tidak hanya sibuk mengurus dan melayani umatnya, tetapi berkarya menembus batas-batas sosial, etnis dan agama.

“Beliau memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan melebihi norma-norma yang lazim dikenal umat secara tradisional,” katanya.

“Semoga jejak dan karya beliau diikuti dan diteladani oleh semua elemen bangsa,” katanya.