Keuskupan di Filipina Mulai Penyelidikan untuk Memberi Gelar Suci Bagi Imam Rogasionis

Pastor Joseph Aveni RCJ. (Foto: Ist)

Katoliknews.com – Sebuah keuskupan di sebelah utara Manila, Filipina mengajukan pemberian gelar suci bagi seorang imam Rogasionis asal Italia yang bertugas di sana selama 30 tahun.

Keuskupan Paranaque memulai penyelidikian tentang mukjizat – yang akan menjadi alasan untuk mengajukan gelar suci – terkait Pastor Joseph Aveni RCJ.

Seperti dilansir Ucanews.com, pengajuan gelar ini dibuka oleh Keuskupan Paranaque pada 1 Februari 2020. Dalam sebuah pernyataan dari pihak keuskupan, Pastor Aveni dikenal sebagai imam pendoa dan memiliki karunia khusus.

Dalam kalimat pertama pengajuan tersebut, Pastor Aveni diberi gelar sebagai ‘Pelayan Tuhan’.

Pastor Aveni lahir di Tripi, Messina, Italia pada 5 Desember 1918.

Menurut pernyataan dari pihak konggregasi, ia mempelajari Kitab Suci sejak masa muda dan banyak menghabiskan masa kecilnya dengan doa.

Ia memulai pendidikan imam di Messina, Italia saat ia berusia 13 tahun dan ditahbiskan menjadi imam pada 15 Juli 1945.

Setelah ditahbiskan, Pastor Aveni menjadi pendamping para novis di Trani, Italia, tempat dimana ia mengembangkan reputasinya sebagai ‘guru rohani’ yang memberikan banyak sumbangsih pada perkembangan Regasionis, kongregasi yang didirikan oleh St. Hannibal Mary di Kota Francia, Prancis pada 16 Mei1897.

Ia juga pernah ditunjuk menjadi “pimpinan sebuah kongregasi teologi di Roma, pemimpin spiritual di Seminari di Messina dan menjadi vikaris jenderal Kongregasi Rogasionis tahun 1974.”

“Pastor Aveni patuh kepada kehendak Allah yang secara nyata ia tunjukkan dalam bentuk ketaatannya kepada atasan Kongregasi,” demikian pernyataan pihak kongregasi.

Pada tahun 1980, ia ditugaskan ke Filipina dan langsung memangku jabatan pendamping novis di negara itu tepat di usianya yang ke 62 tahun.

Selama menjalankan misinya, ia mempersembahkan diri untuk memberikan sakramen pertobatan bagi banyak orang dan memberikan pendidikan spiritual kepada para seminaris dan suster-suster dari kongregasi lain.

Saat mengalami sakit menjelang kematiannya, ia menghabiskan waktu untuk gereja, “untuk kemuliaan Tuhan, keselamatan jiwa-jiwa, pertobatan para pendosa dan untuk panggilan imam dan biarawati.”

BACA JUGA: Bagaimana Proses Memberi Gelar “Orang Kudus” dalam Katolik?

“Ketaatannya yang teguh kepada Allah juga ditunjukkannya dengan kepeduliannya kepada para dokter, merangkul semua yang berada di sekitarnya sebagaimana yang telah ia lakukan seumur hidupnya.”

Pastor Aveni meninggal di Seminari Rogasionis di Kota Paranaque tahun 2010 dan disemayamkan di Pemakaman Memorial Park di Manila.