Gereja St Joseph Tanjung Balai Karimun: Nasibmu?

Dalam foto ini, tampak massa yang menolak pembangunan Gereja St Josep Karimun, Keuskupan Pangkalpinang menggeruduk kompleks Gereja pada Kamis, 6 Februari 2020. (Foto: Ist)

Di pulau ini, aku lahir…
Aku dibaptis menjadi seorang Katolik di sebuah gereja kecil yang saat ini menjadi berbincangan hangat dimana-mana…

Aku menghabiskan masa kecilku di pulau ini. Menempuh pendidikan di Sekolah Katolik TK, SD, SMP St Joseph yang gedungnya berada tepat di belakang gereja…

Kami sekeluarga pernah diberi kesempatan untuk melayani gereja ini, tidak terkecuali ayahku, ibuku, paman-pamanku, sepupuku, kakakku dan diriku….

Kini dalam anganku masih terngiang setiap sudut gereja memberikan imajinasi masa kecilku, mulai dari baptis, komuni pertama dan sakramen penguatan….

Pulau ini memberikan kenangan indah bagi umat beragama. Kami hidup saling berdampingan, rukun saling menghormati. Di saat Lebaran, Natal, Imlek, kami antartetangga saling bertukar makanan, lontong, ketupat, rendang, mie siam, laksa, dan lain lainnya….


Tapi…kali ini aku bukan. 

Bukan cerita tentang masa kecilku.  Ini tentang semakin buruknya toleransi di pulau ini.  Tentang kebobrokan yang dipertontonkan oleh orang-orang yang mengaku beriman. Tentang retorika pemerintah pusat yang di permukaan memberikan kesejukan, namun sesungguhnya panas dan panas sekali di lapangan. Tentang sikap yang tidak berpihak pada minoritas yang dipertontonkan oleh pemerintah daerah. Tentang perlakuan sekelompok orang yang selalu mengatasnamakan kebesaran Allah untuk bertindak layaknya polisi akhirat pada manusia muka bumi….

Alamak pak cik, ma cik…

Maraknya aksi sekelompok orang yang telah menolak pembangunan rumah ibadah agama lain yang telah mengantongi izin…

Hanya karena beberapa alasan yang tak masuk akal, mulai tingginya salib, besarnya gedung, mengganggu arus lalu lintas, rencana bangun cagar budaya, sampai PTUN…

Alamak pakcik makcik…

Aparat keamananpun seolah mengamini aksi intoleransi dengan alasan kondusivitas.  Orang yang membela, mereka  anggap provokator dan penista agama, begitu cepatnya kau proses…

Sedangkan yang mengganggu ketertiban umum, yang menolak dengan seribu alasan, yang teriak-teriak, yang maki-maki, yang mengancam dan sebagainya, kau diamin pula…

Lama lama paning pula kepala nih..pak cik ma cik….

Melindungi dan mengayomi masyarakat hanya sebatas slogan….

Kemudian atas nama keadilan dan sebagai solusi alternatif terbaik menawarkan relokasi tempat ibadah kelompok minoritas. Sesungguhnya itu sangat tidak adil….

Pemerintah sedang membangun narasi kerukunan, toleransi dan harmoni yang memihak pada kelompok mayoritas dan memaksakan minoritas untuk mengikuti….

Alamak macam mana pula lah…

Memang amatlah baik berkedewasaan iman. Namun kurang menguntungkan jika dewasa sendirian dan terus sendirian. Kita dituntut untuk dewasa terus sendirian. Dengan kedewasan iman, kami terus-menerus dimusuhi oleh anak-anak kecil dan  dimusuhi oleh tua-tua berjiwa kerdil…

Alamak….macam mana pula pak.cik..ma cik…tak kisahlah…

Selasa, 18 Feb 2020, pukul 16.00 WIB. Dari anak Karimun yang sedang bersedih


Vinsensius Awey, lahir di Tanjung Balai Karimun. Pernah aktif di PMKRI dan menjadi nggota DPRD Kota Surabaya periode 2014 – 2019