Ketika Aktivis Muslim Komentari Klaim ‘Mantan Pastor’ dan ‘S3 Vatikan’

Katoliknews.com  Beredarnya sebuah foto poster tentang seseorang yang mengaku sebagai mualaf, mantan pastor serta lulusan S3 Vatikan telah memantik beragam reaksi.

Hal itu tidak hanya ramai dibicarakan di kalangan umat Katolik. Beberapa aktivis Muslim pun mengomentari hal ini, di mana mereka menyayangkan klaim semacam itu dan menyebutnya tidaklah sehat dalam konteks relasi antaragama.

Dalam poster yang beredar itu, tampak foto seorang ustadz yang disebut bernama Bangun Samudra. Beredar informasi bahwa ia memang sebelumnya Katolik dan sempat mengenyam pendidikan di SMA Seminari di Garum, Blitar.

Dewi Praswida, gadis Muslim yang pernah bertemu dengan Paus Fransiskus dan fotonya dengan pemimpin Gereja Katolik sedunia itu sempat viral menulis di Islami.co artikel berjudul Pindah Agama dan Jadi Ustadz, Kenapa sih Harus Menjelekkan Agama Sebelumnya?

Dalam artikel itu, ia menyebut, “perpindahan suatu agama ke agama berbeda itu biasa saja.”


“Tapi, tidak bisa dibenarkan apabila kesaksian keimanan tersebut justru digunakan untuk menjelek-jelekkan agama sebelumnya,” tulisnya.

Dewi, yang pernah belajar di Roma pun mempertanyakan klaim soal lulusan S3 Vatikan itu.

“Ketika saya studi di Roma dan seminggu sekali saya berkunjung ke Vatikan saya, sekalipun tidak pernah mendapati ada kampus baik kecil ataupun besar di dalam wilayah administrasi Vatikan. Kalau saya hitung, kurang lebih sudah 20x saya masuk berkeliling di wilayah Vatikan, khususnya di dalam tembok-tembok di sana. Mungkin kala itu, saya kurang teliti atau bisa juga kampusnya sedang bersembunyi karena saya datang hehe,” tulisnya.

Ia menambahkan, setahu dia, kampus dan sekolahan berada di wilayah administrasi kota Roma, Italia.

“Jadi Pak Ustadz, boleh saja kita bangga dengan agama kita, mengekspresikannya pun juga sah-sah saja, tapi sebaiknya jangan membuat publik percaya kepada hal-hal tidak benar itu. Misalnya gelar S3 yang sebenarnya Sekolah Seminari Setahun bukan Strata 3,” Dewi.

Ia pun mengajak agar adalam beragama belajar dari tokoh seperti Gus Mus, Gus Dur, Buya Syafi’I, Prof. Nadirsyah Hosen dan lain-lain yang sudah belajar agama belasan bahkan puluhan tahun dan  ketika menunjukkan kebaikan islam tidak pernah membawa-bawa agama lain.

“Masa sih yang masa belajarnya lebih pendek dari mereka berani?” tulisnya.

Ia mengatakan, umat beragama, sebaiknya harus menjadi umat yang kritis, bukan yang sebatas read and follow atau listen and follow tapi understand dulu baru follow 

Kita juga juga jangan  dengan mudah terkagum dengan embel-embel ‘mantan ustadz’,’mantan pastor’,’mantan pendeta’,’mantan biksu’—ingat ya, omongan mantan itu jangan gampang dipercaya kadang cuma gombal aja,” tulisnya.

Foto Dewi Praswida, perempuan asal Semarang yang sedang bersalaman dan berdialog dengan Paus Fransiskus di Vatikan, Roma, 26 Juni 2019. Foto ini ramai dibicarakan, di mana ada juga tudingan bahwa Dewi telah melakukan tindakan tidak terpuji. Namun, ia menekankan bahwa menjalin hubungan dengan umat beragama lain tidaklah menggoyahkan imannya sebagai Muslim. (Foto: Ist)

“Satu hal lagi catatan penting, orang yang benar-benar memahami agama orang lain InshaAllah justru rasa hormat dan menghargainya akan semakin tinggi. Karena sejatinya ia benar-benar tahu, berbeda dengan yang hanya tahu sepotong tapi sok tempe eh sok tahu ding. Bukan begitu, bukan?” demikian Dewi mengakhiri tulisannya.

BACA JUGA: Foto dengan Paus Fransiskus, Gadis Muslim: Iman Saya Tidak Goyah

Masih di Islami.co, Aan Ahsori, aktivis lintas agama di Surabaya juga mengomentari hal yang sama.

Dalam artikelnya berjudul Sisi Lain Ustadz Bangun Samudera, Alumnus S3 Vatikan yang Ternyata Enggak Ada itu ia menyatakan keterkejutannya dengan klaim dalam poster itu, yakni mantan pastor dan lulusan S3 Vatikan.

“Kok bisa dua hal itu muncul? Bisa jadi MBS (Mas Bangun Samudra) yang mengaku dan meminta demikian, atau mungkin narasi itu merupakan kekreatifan panitia pengajian,” tulis Aan.

Ia mengatakan, panitia acara apapun memang dituntut sekreatif mungkin agar acaranya laku. Namun, kata dia, mesti bijak juga agar tidak menjadi bahan tertawaan dan cemoohan.

Ia mengisahkan, di kalangan Muslim memang ada gejala tertarik mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan kekristenan, seperti yang ia sendiri alami saat sekolah menengah.

Namun, kata dia, hal itu “tidak dalam semangat persaudaraan keimanan” tetapi “keinginan menggelora membuktikan Islam adalah agama paling benar.”

“Caranya? Dengan sekuat tenaga menuding kekristenan sebagai salah satu agama paling membingungkan dan kontradiktif. ‘Semakin aku berhasil meyakinkan diriku dengan cara itu, semakin aku merasa keislamanku otentik,’ kira-kira begitulah,” tulis Aan.

Ia kemudian bertanya, “tapi kenapa harus kekristenan, bukan yang lain?”

Dari eksplorasinya beberapa tahun ini, ia menemukan bahwa dalam trilogi sumber keislaman –alQuran, hadits dan sira (sejarah hidup nabi Muhammad) – orang selain-Islam setidaknya dibagi menjadi dua, yakni kelompok pagan (politeis) dan kelompok ahl al-Kitab (pengikut Nabi Musa dan Pengikut Nabi Isa/Yesus).

“Terhadap keduanya, Islam didakwahkan sebagai agama baru, agama pengganti yang lama. Kami bisa memahami jika kelompok pagan, misalnya, resisten terhadap dakwah tersebut,” katanya.

Namun, kata dia, ada rasa frustasi dan tidak bisa menerima jika Yahudi dan Kristen tidak mau berpindah sebab secara teologi ketiganya banyak kesamaan.

“Sebagai catatan, dalam pewahyuan selanjutnya, ahl al-Kitab yang tidak mau memeluk Islam dianggap kafir juga,” tulisnya.

Karena alasan itulah, kata dia, si adik (Islam) membenci dua kakaknya dan diam-diam mendeklarasikan perang terhadap mereka.

“Perang hanya akan selesai jika dua kakak bersedia memakai produk adik. Menurut Bill Warner dalam Statistical Islam, 64 persen isi al-Quran didedikasikan tentang kafir, Hadits 37 persen dan sira membahas kafir sebanyak 81 persen,” tulis Aan,

Ia menjelaskan, si adik lalu melakukan banyak cara “suci” untuk memastikan seluruh pemakai produknya merawat kekesalan terhadap kakaknya.

“Konsep jihad –sebelum dimaknai lebih halus dan inklusif oleh para sarjana muslim modern– dimaknai sebagai “holy war” dalam kerangka perang yang digaungkan si adik. Nah, dalam konteks peperangan, bersiasat adalah hal paling fundamental. Siapa yang kalah bersiasat, dipastikan akan kalah dalam peperangan. Siasat dalam perspektif sang adik adalah kemampuan mengalahkan, bukan masalah benar dan salah,” tulisnya.

Itu sebabnya, kata dia, menipu diperbolehkan dalam perang.

“Jadi jangan heran jika ada tokoh atau politisi Islam yang begitu heroik ngomong tentang pluralisme dalam Pancasila dan UUD 1945 di televisi namun sangat kontras dengan praktek prilakunya,” tambah Aan.

Ia menutup tulisannya dengan mengatakan, dirinya yakin, “sekuat apapun koreksi publik terkait kesalahan pencantuman ‘mantan pastor,’ dan ‘S3 Vatikan,’ tidak akan membuat sang adik berhenti.”

“Sebaliknya, cemoohan dan koreksi akan membuat si adik semakin bergairah dan tertantang mencari cara terbaik meneruskan ‘perang suci’ dan memenangkannya. Termasuk, meyakinkan dirinya sendiri bahwa koreksi dan cemoohan itu adalah siasat sang kakak,” tulis Aan.