Laporan: Jean Vanier, Pendiri L’Arche Lakukan Pelecehan Seksual Terhadap Enam Wanita

Jean Vanier, pendiri L'Arche, organisasi sosial untuk penyandang disabilitas dilaporkan melakukan pelecehan seksual semasa hidupnya, setidaknya terhadap enam wanita. (Foto: Ist)

Katoliknews.com – Sebuah laporan mengejutkan tentang Jean Vanier, tokoh yang semula dikagumi dalam Gereja Katolik, termasuk oleh Paus Fransiskus.

Pendiri L’Arche – organisasi yang memberi pelayanan bagi kaum disabilitas – itu yang sudah meninggal pada Mei 2019 dilaporkan melakukan pelecehan seksual terhadap setidaknya enam perempuan, berdasarkan hasil investigasi dari L’Arche International.

Laporan itu, yang merupakan hasil investigasi tim independen sejak April tahun lalu terbit pada Sabtu, 22 Februari 2020.

“Kami dikejutkan oleh temuan-temuan ini dan dengan tegas mengutuk apa yang terjadi, yang sepenuhnya bertentangan dengan nilai-nilai yang diklaim Jean Vanier,” kata pemimpin L’Arche International, Stephan Posner dan Stacy Cates-Carney, Sabtu.

Mereka juga menyatakan, tindakan Vanier  bertentangan dengan prinsip-prinsip yang menjadi pedomaan bagi L’Arche.


Laporan tersebut menemukan bahwa para perempuan yang dilecehkan tidak ada yang mengalami disabilitas.

Pada bulan April, L’Arche menugaskan GCPS, sebuah konsultan independen Inggris dengan spesialisasi pelaporan eksploitasi dan pelecehan untuk menyelidiki hubungan Vanier dengan Thomas Philippe, seorang imam Dominikan yang diberi sanksi oleh otoritas Gereja pada tahun 1956, yang oleh Vanier digambarkan sebagai “mentor spiritualnya.”

Selama penyelidikan, para investigator  menerima “kesaksian yang kredibel dan konsisten” dari enam wanita dewasa.

Dari keterangan mereka ditemukan bahwa Vanier melakukan pelecehan “dalam konteks pendampingan spiritual” selama periode lebih dari 30 tahun, dari 1970 hingga 2005.

“Para wanita itu masing-masing melaporkan bahwa Jean Vanier memprakarsai perilaku seksual dengan mereka, biasanya dalam konteks pendampingan spiritual,” demikian menurut laporan itu.

“Beberapa dari wanita ini sangat terluka oleh pengalaman ini. Jean Vanier meminta masing-masing perempuan untuk merahasiakan apa yang terjadi. Mereka tidak memiliki pengetahuan sebelumnya tentang pengalaman satu sama lain, tetapi para wanita ini melaporkan fakta-fakta serupa yang terkait dengan penjelasan spiritual atau mistis yang sangat tidak biasa yang digunakan untuk membenarkan perilaku seksual ini.”

Perilaku Vanier mirip dengan pola perilaku Pastor Philippe, demikian menurut laporan itu.

Kongregasi Vatikan untuk Doktrin Ajaran Iman (CDF) mengkonfirmasi dan menyelesaikan kajiannya pada Desember 2019 dalam penyelidikan berkaitan dengan kasus Pastor Philippe, yang meninggal pada tahun 1993, dan pengetahuan Vanier tentang kesalahan skandal imam tersebut.

Menurut surat-surat yang diarsipkan yang dipelajari dalam laporan itu, pada 1956, CDF meminta agar Jean Vanier diberitahu tentang kecaman Gereja atas perilaku Pastor Philippe.

Vanier membantah pada tahun 2015 dan 2016 bahwa ia memiliki pengetahuan tentang pelecehan oleh Philippe.

Tina Bovermann, direktur eksekutif L’Arche Amerika Serika mengatakan hasil penyelidikan independen itu membuatnya sakit dan menyebabkannya “sakit.”

“Sakit, karena penderitaan hidup orang yang tidak bersalah. Sakit, karena rasa perih yang mungkin terjadi pada Anda, anggota dan teman-teman,” katanya.

Namun, katanya, ada kelegaan juga karena “kebenaran itu penting,” karena “nilai setiap orang penting, selalu, tanpa syarat, terutama ketika terpinggirkan dan dibungkam selama bertahun-tahun.”

Dia menekankan bahwa penyelidikan tidak menemukan adanya kesalahan terkait dengan L’Arche di Amerika Serikat.

Sampai akhir 1990-an, Vanier mengawasi seluruh organisasi L’Arche, yang tumbuh menjadi 154 komunitas dan memiliki lebih dari 10.000 anggota.

Dia menulis 30 buku, mendapat penghargaan dari pemerintah di seluruh dunia, dan menjadi pembicara yang dicari.

Dia adalah anggota Dewan Kepausan Vatikan untuk kaum awam.

Vanier meninggal dalam usia 90 tahun setelah menderita kanker yang cukup lama.

Ia termasuk orang yang dekat dengan Paus Fransiskus. Saat Vanier meninggal, Paus mengatakan kepada media bahwa ia sempat menelepon Vanier ketika kondisinya dalam keadaan kritis. Dalam sejumlah kesempatan Paus juga sering menyinggung karya Vanier dan memuji komitmennya pada kemanusiaan.

BACA JUGA: Romo Magnis Dukung Pengungkapan Kasus Pelecehan Seksual dalam Gereja 

L’Arche International menyatakan, mereka membuka kemungkinan jika ada laporan lain terkait pelecehan oleh Vanier.

Informasi-informasi baru  akan diterima oleh satuan tugas yang terdiri dari orang-orang di luar L’Arche.