Virus Corona Wujud Kemenangan Iblis? Mari Kita Berdoa

RD Yudel Neno. (Foto: dok. pribadi)

Oleh: RD YUDEL NENO

Saya sempat menonton sebuah video simulasi, yang memperlihatkan bagaimana virus corona (COVID-19) menyebar.

Dari video itu, tampak virus ini menyebar, dengan beragam cara, baik melalui kontak fisik langsung, maupun ketika seseorang menyentuh benda yang sudah terlebih dahulu disentuh oleh orang yang terinfeksi.

Hari-hari ini, di berbagai belahan dunia, penyebaran virus ini yang sudah dikategorikan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menghambat segala urusan manusia, entah ekonomi, politik, jasmani maupun rohani.

Sejumlah kota telah dikunci, di mana aktivitas masyarakat dibatasi.


Virus ini kejam karena mematikan dan sampai sekarang ribuan orang telah menjadi korban.

Hingga Kamis, 12 Maret 2020, setidaknya terdapat 124.518 kasus di 122 negara, dengan jumlah korban tewas mencapai 4.607 orang. Untuk lima negara teratas yang korbannya paling banyak, China – tempat pertama kali virus itu ditemukan pada Desember 2019 – masih di posisi pertama, disusul Italia, Iran, Korea Selatan dan Perancis.

Di Indonesia, setidaknya sudah ada 34 kasus, tiga di antaranya pulih dan satu yang meninggal dunia.

Sebagai orang Katolik, saya cemas terutama karena ritus-ritus liturgi yang selama ini diwujudkan sebagai praktek iman, harus dihindari demi kesehatan dan keselamatan.

Air berkat yang biasa ditempatkan di depan pintu Gereja, ditujukan bagi umat Katolik untuk memperingati peristiwa pembaptisan dengan mencelupkan tangan ke dalam air itu dan membuat tanda salib, karena virus corona, umat dihimbau untuk menghindari praktek rohani itu.

Salam Damai (berjabatan tangan), yang menandakan  semangat persekutuan dan perdamaian dalam Ekaristi, sekarang dihimbau untuk dihindari atau menggunakan cara lain untuk menghindari kontak fisik, seperti membungkuk.

Kebiasaan rohani umat Katolik mengecup bagian kaki Salib Kristus pada upacara mengenang Sengsara dan Wafat Tuhan Yesus Kristus (Jumat Agung), sebagai tanda penyembahan pada Salib Kristus juga terkena dampak. Umat dihimbau membawa salib sendiri dan mengecup salibnya sendiri pada upacara itu.

Saya malah berpikir lebih ekstrim lagi, kalau virus ini tidak dapat diobati dan dihentikan, maka besar kemungkinan tidak ada pembagian komuni dalam Ekaristi sebab bisa memicu cepatnya penyebaran virus. Kalaupun umat diberi kesempatan untuk mengambil sendiri, tetap terbuka kemungkinan bagi cepatnya virus itu beredar.

Sampai titik ini, saya tertarik untuk merenungkan sikap iblis menunggu waktu yang baik pasca si iblis menggoda Yesus di Padang Gurun (Luk. 4:13).

Si iblis memang tak berdaya di hadapan Yesus. Yesus tidak mengikuti sedikit pun godaannya.

Namun, Iblis menunggu waktu yang baik. Waktu yang baik ini menjadi pertanyaan besar: Kapan itu terjadi?

Bertolak dari kenyataan sebagaimana telah digambarkan sebelumnya, virus corona dapat digolongkan sebagai kemenangan iblis terhadap segala teknologi umat manusia. Segala aktivitas rohani yang perlu diasah dalam persekutuan, jadinya mandeg. Gereja-Gereja bakalan kosong lantaran umat ingin mengisolasi diri demi terhindar dari virus.

Virus corona akhirnya mengganggu dan boleh dikatakan berpotensial memutuskan kekuatan rohani umat manusia yang perlu didapatkan dari praktek religius kesalehan umat.

Virus corona menciptakan suatu ketakutan besar zaman ini. Di mana teknologi semakin canggih, virus yang jahat ini pun canggih adanya. Ternyata secanggih apapun teknologi, untuk sementara, berhadapan dengan virus ini, ternyata upaya teknologi belumlah memadai.

Maka saya menganjurkan, kalau benar virus ini adalah wujud dari niat iblis untuk menyerang, maka doa-doa pribadi perlu diutamakan dan diserukan karena dalam peristiwa di Padang Gurun, Iblis tak sedikitpun menang.

Sembari teknologi pencegahan dan pengobatan medis dilakukan, orang beriman tidak boleh lupa berdoa. Kecemasan karena cepatnya virus ini berkembang, benar adanya, namun ketekunan untuk berdoa harus terus diasah.

Orang beriman pun perlu melakukan tindakan pencegahan dan pengobatan sebagai doa. Mencegah dan mengobati merupakan sebuah doa, sejauh cara yang dipakai tidak menyalahi prinsip kehidupan umat manusia.

Orang tidak boleh mencegah atau mengobati penyakit yang ditimbulkan oleh virus corona dengan cara membunuh diri, sebab atas cara itu, justru ia lebih jahat dari virus corona.

Penulis adalah Pastor Pembantu Paroki St Maria Fatima Betun, Keuskupan Atambua